“BURONAN, APARAT DAN MEDIA ABAL-ABAL”

<Selasa, 26 April 2016 OOR 11:21>

Beberapa waktu belakangan ini, kita disuguhi oleh beragam berita, mulai dari masalah narkoba, korupsi, terorisme hingga berita kunjungan Presiden Jokowi ke Eropa.

Ada satu berita yang cukup menggelitik urat lidahku untuk berkomentar, yaitu masalah penanganan dan perlakuan terhadap tahanan korupsi dan tahanan teroris.

Sebenarnya bagi kita, kedua kelompok manusia ini harus dihukum berat, karena sama-sama merugikan negara dan “merampok hak” warga negara lainnya. 

Keberhasilan aparat intelijen menangkap dua orang buronan koruptor kelas kakap di negara lain, patut diapresiasi dengan baik.

Namun, ada sedikit “pemandangan” yang mengganggu, ketika buronan yang satu diperlakukan berbeda dengan yang lain. Yang satu dibiarkan tanpa diborgol, sementara yang lain dalam kondisi kedua tangan terborgol. Sungguh disayangkan perlakuan “standar ganda” yang dilakukan oleh aparat BIN.

Pantaslah, jika di media sosial, pihak pemerintah menjadi “sasaran tembak” yang empuk yang dilakukan oleh para oposan (haters), yang selalu melototkan matanya sepanjang waktu, mencari celah kesalahan yang dilakukan oleh penguasa.

Lantas mereka, para oposan, dengan semangat menggebu-gebu segera mempersoalkan perlakuan aparat keamanan (menurut para oposan) dalam “menghabisi” buronan teroris tanpa perlawanan, dan menitipkan segepok uang duka untuk keluarga korban. Dalam hal ini, saya baru “ngeh”, adanya praktek pemberian uang duka seperti demikian. Emangnya anggarannya dari mana, Ndan? Kocek sendiri, akh masak…?

Bercermin dari beberapa kejadian di atas, yang menunjukkan perbedaan perlakuan terhadap para buronan, maka aparat keamanan dan intelijen harus lebih berhati-hati lagi dalam bertindak, sebab setiap tindakan yang mereka lakukan, akan dibaca sebagai tindakan negara, atau lebih jauhnya lagi, dianggap sebagai perpanjangan perintah dari presiden. 

Ujung-ujungnya, Presiden Jokowi lagi yang dipersalahkan…

Satu lagi yang harus diingat, bahwa sebagus apapun (apalagi jika jelek) hasil pekerjaan, pasti akan mendapat tanggapan yang berbeda, ada yang mayor dan ada yang minor, ada yang positif dan dan ada yang negatif serta ada yang mendukung dan ada yang menghujat.

Akibat dampak pilpres 2014 lalu, rakyat kita benar-benar telah terbelah menjadi dua kelompok yang saling berhadapan dan tanpa ragu-ragu lagi untuk saling menyerang dengan kata-kata yang pedas dan vulgar. 

Apalagi untuk menyemarakkan “pertempuran” ini, kerapkali ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap berupa berita provokatif dan sangat tendensius oleh media abal-abal dalam menghasut, membakar dan mengajak sebagian masyarakat awam yang lemah dalam berpikir jernih agar menyerang pemerintah.

Sebenarnya inilah tugas utama aparat intelijen dalam memata-matai media penghasut dan perusak persatuan kesatuan bangsa. Bukan hanya untuk menangkap para buronan koruptor. 

Jujur saja, kita sangat mengharapkan pejabat berwenang untuk menutup media provokatif yang dapat merusak alam demokrasi di negeri tercinta. Jangan biarkan bola salju membesar dan semakin luas menggulung, memecah belah dan akhirnya menghancurkan cita-cita pendahulu bangsa. 

(Salam Persatuan – FB)
  

Advertisements
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s