“KISAH SI KANCIL DAN SANG RAJA HUTAN”

<Minggu, 24 April 2016 OOR 09:16>

Di dalam sebuah hutan, hiduplah seekor kancil. Saat sedang menikmati santapannya, tiba-tiba datang seekor harimau. Sang raja hutan yang sombong itu hendak memangsa si kancil untuk memuaskan rasa laparnya.

Si kancil menyadari maut mengancam jiwanya. Namun dia berusaha untuk tetap tenang. Akalnya terus berputar.

Kancil berkata, “Tuan harimau, aku hendak mengatakan sesuatu. Aku berharap engkau tidak merasa terkejut dengan pernyataanku…”.

Harimau : “Sebelum ajalmu menjelang, apa yang hendak kamu katakan?”

Kancil : “Di hadapan semua hewan-hewan yang hadir saat ini, aku hendak mengatakan bahwa aku akan sanggup membunuhmu jika engkau memberiku waktu selama sebulan penuh. Seluruh penghuni hutan ini akan menjadi saksi atas ucapanku.”

Mendengar hal itu, sang harimau langsung tertawa dengan suara keras. Dengan nada mengejek, dia berkata, “Engkau mau membunuhku?”

Si kancil pemberani itu menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri : “Benar sekali tuan harimau..”

Harimau : “Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Akan tetapi jika kamu tidak dapat membunuhku, maka aku akan melahapmu di depan semua hewan sebulan lagi. Kamu jangan mencoba mengelabuiku untuk mengulur-ngulur waktu kematianmu. Waktunya sebulan dimulai dari sekarang.”

Kancil : “Baiklah, kita mulai perjanjian ini dari sekarang. Bersiap-siaplah menghadapi kematianmu wahai raja hutan yang bodoh…!!!”

Seminggu telah berlalu dan sang harimau sama sekali tidak pernah memikirkan ancaman si kancil. Dia menjalani aktifitas berburu seperti biasanya dan bersantai di dalam rumah goa, yang telah didiaminya sejak masih bayi.

Beberapa hari kemudian, mulai muncul pertanyaan dalam hatinya, “Apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh si kancil itu? Mengapa dia kelihatan begitu percaya diri? Bagaimana mungkin seekor kancil yang kecil mampu membunuhku? Bagaimana jika ancaman itu benar-benar terjadi?”

Setelah berpikir sejenak, sang raja hutan yang sombong itu tertawa terpingkal-pingkal sambil berkata, “Bagaimana mungkin si kancil mampu membunuhku sedangkan aku memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan. Walaupun dia mengerahkan seluruh kancil yang ada sekalipun, tidak mungkin mereka mampu membunuhku.”

Dua minggu kemudian, suara bisikan kembali hadir dalam benaknya. Kali ini, sang harimau merasakan bahwa suara bisikan tersebut terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Tiga minggu berlalu dengan cepatnya, namun si kancil belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerangnya.

Waktu terus berjalan dan batas waktu yang ditentukan tinggal seminggu lagi. Sementara itu, si kancil tidak datang menjumpainya untuk mencabut pernyataan ataupun menyerah. Justru, si kancil terus mengumumkan ancamannya ke seluruh penghuni hutan. 

Melihat kenyataan tersebut, sang harimau terus berpikir, “Apakah si kancil memiliki senjata pamungkas yang ampuh atau telah mengumpulkan kekuatan yang luar biasa, atau telah selesai membuat jebakan yang mematikan di setiap sudut hutan dan akan menjeratku di saat diriku sedang tidak waspada?”

Akibatnya, saat berburu, sang harimau meningkatkan seluruh naluri inderanya. Dia sangat cemas dan mulai merasa ketakutan. Hasil buruannya menjadi tidak maksimal karena dia melangkah dan berlari dengan penuh keraguan. Malamnya, dia tidur dengan gelisah dan sering kali suara kecil sedikit saja, dapat membangunkan dirinya.

Hari demi hari berganti dan pikiran-pikiran tersebut selalu muncul hingga membuat sang harimau tidak memiliki nafsu makan dan minum. Dia selalu memikirkan nasib dan akhir yang begitu mengerikan.

Sebelum hari yang ditentukan tiba, tepatnya pada hari terakhir, pagi-pagi sekali, para penghuni hutan menemukan sang harimau tersebut telah mati di dalam goanya.

Sang penguasa hutan tersebut telah terbunuh oleh perasaan was-was dan ketakutan. Daging dan lemaknya telah terbakar oleh kegelisahan yang dia rasakan, padahal si kancil tidak pernah melakukan tipu muslihat atau merancang persengkongkolan apapun untuk membunuhnya.

Sobatku yang budiman…

Sang kancil cerdik hanya mengetahui sebuah rahasia kehidupan, bahwa kegelisahan dan ketakutan dalam menunggu suatu musibah atau bencana serta rasa was-was yang berlebihan terhadap sebuah tragedi adalah senjata paling ampuh yang dapat membunuh siapapun.

Demikian juga dengan kehidupan manusia. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang menimbulkan rasa takut dan gelisah. Sebab itu akan membunuh kita tanpa pernah kita sadari.

(Salam Kebahagiaan – FB)
  

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s