“STANDAR GANDA”

<Selasa, 12 April 2016 OOR 07:21>

Hidup ini penuh dengan misteri, tidak ada yang tahu kapan kita ada “di atas” dan kapan kita ada “di bawah”.

Saat berada di lembah kesulitan yang penuh dengan lika-liku penderitaan, kita sering menghujat kaum berpunya, golongan orang-orang kaya, karena tidak mau menolong diri kita yang sedang kesusahan.

Kita akan menyalahkan orang kaya dan menyebut mereka adalah orang yang egois dan tidak punya rasa empati kepada orang yang kekurangan. 

Kita menunjuk ke arah hidung orang kaya sambil berseru : “Sungguh tidak berperikemanusiaan mereka yang tidak mau menyisihkan sedikit hartanya untuk mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan tidak sedikit orang kaya justru merendahkan mereka yang hidup serba kekurangan”.

Namun, ketika kita berada di puncak kesuksesan, yang diraih dari hasil keringat serta kerja keras siang dan malam, kita sebagai Orang Kaya Baru (OKB) juga tidak mau menolong orang-orang miskin di berada sekitar kita.

Kita merasa bahwa orang miskin itu memiliki perilaku malas, tidak mau berusaha keras seperti diri kita, mereka selalu meminta-minta dan tidak mau mengandalkan kedua tangannya untuk meraih kesuksesan. 

Padahal kita tidak mau bercermin, bahwa dulunya kita itu berasal dari kaum papa juga, miskin dan melarat.

Makanya banyak orang menilai, kebaikan yang tulus, banyak dilakukan kaum menengah ke bawah. Sedangkan orang kaya itu cenderung ingin mempertahankan harta kekayaannya dan kalau bisa malah menambah lagi pundi-pundi hartanya. Kebanyakan orang kaya itu cenderung pelit dan tidak punya rasa sosial yang tinggi.

Mengapa stigma negatif itu begitu nyata terjadi di kehidupan manusia? 

Nah, sadarkah kita bahwa kebanyakan dari umat manusia memiliki standar ganda dalam menyikapi suatu permasalahan?

Di saat miskin, minta dibantu. Namun di saat kaya, tidak ingin membantu, bahkan sebaliknya menghujat kaum miskin sebagai kelompok pemalas.

Seringkali kita memberi penilaian dari sisi subjektifitas, hanya dari sudut pandang kita sendiri, tanpa mau mencoba melihat dari sudut pandang orang lain.

Kita menuntut orang lain bersikap dan berbuat seperti keinginan dan kemauan kita, padahal kita sendiri belum tentu mau melakukan apa yang diinginkan orang lain.

Sungguh egois sekali…

Ketika melakukan kesalahan, kita tidak mau dihakimi sebagai seorang terdakwa. Sebaliknya, memohon untuk segera dimaafkan dan ingin agar semua kesalahan segera dihapus bersih dari “daftar dosa”.

Ketika membeli rumah, kita ingin mendapatkan harga rumah yang serendah-rendahnya di lokasi paling strategis dan akan sangat marah jika sampai dibohongi. 

Sobatku yang budiman…

Apabila kita mengharapkan kebaikan orang lain terhadap kita, maka kita harus melakukan kebaikan yang tulus kepada mereka terlebih dahulu.

Apabila kita mengharapkan untuk dimaafkan ketika bersalah, maka kita juga harus memaafkan orang yang bersalah kepada kita.

Semua agama mengajarkan hal yang baik tentang pentingnya memperlakukan sesama manusia seperti bagaimana kita ingin diperlakukan : 

Islam :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kristen : 

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 7:12)

Buddha :

“Jangan perlakukan orang lain dengan cara-cara yang kamu sendiri menganggap itu menyakitkan” (Udana-Varga 5.18) 

Hindu :

“Inilah sejumlah tugas, jangan berbuat kepada orang lain apa yang akan menyakitkan jika itu dilakukan padamu” (Mahabharata 5:1517)

Konfucius : 

“Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan kepada kita, jangan lakukan itu kepada orang lain” (Confucius, Analects 15.23)

Dengan tidak memiliki sikap standar ganda, maka kita akan menjadi manusia yang rendah hati, mau mengakui kekurangan dan berniat untuk membenahi semua kekurangan yang ada.

Dan, saya meyakini bahwa tidakkan pernah ada sikap standar ganda yang baik, kecuali keberadaan kunci standar ganda pada sepeda motor. Betul gak sich..?

(Salam Kebahagiaan – Salam UFO)

  

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s