“PERMINTAAN TERAKHIR DARI ANAK PENDERITA KANKER”

<Rabu, 06 April 2016 OOR 10:22>

Sinchan adalah seorang gadis belia berusia 9 tahun. Sejak masih balita, Sinchan sudah sering mengalami gangguan kesehatan yang memaksanya harus sering keluar masuk rumah sakit.

Di usianya masih sangat muda, Sinchan harus mendapat cobaan paling berat semasa hidupnya, Sinchan didiagnosa menderita kanker hati hepatoblastoma dan sudah menyebar hingga ke paru-parunya.

Sang Ayah berupaya semaksimal mungkin untuk menyembuhkan puteri satu-satunya yang sangat dikasihinya. Mulai dari pengobatan tradisional hingga pengobatan modern telah dijalani. Namun tidak menunjukkan hasil yang membaik.

Jalan terakhir harus ditempuh demi sebuah kesembuhan yaitu menjalani perawatan kemoterapi yang sangat menyiksa.

Setelah beberapa kali kemo, namun kembali tidak memberikan respons yang memuaskan. Kondisi tubuh Sinchan semakin melemah.

Namun, semangat untuk menjalani sisa-sisa hidup tidak pernah pupus dalam diri Sinchan.

Menjelang akhir perjuangannya melawan kanker ganas, Sinchan terus menerus memeluk sang ayah, tidak ingin melepaskan untuk sedetikpun. 

Sang ayah memaklumi keinginan Sinchan dengan tidur di sampingnya, memeluknya dengan sepenuh hati, membelai rambutnya dengan lembut dan menyanyikan lagu kesukaan Sinchan : “Satu-satu, aku sayang ibu ; dua-dua, juga sayang ayah ; tiga-tiga, sayang adik kakak ; satu dua tiga, sayang semuanya…”

Sambil terus memeluk ayahnya, Sinchan memohon dengan suara sangat lirih : “Ayah, Sinchan sangat sayang kepada ayah. Sinchan ingin menyusul ibu ke surga. Sinchan kangen sama ibu, tapi kalau Sinchan sudah bersama ibu, siapa yang akan menemani ayah di sini?”

Sang ayah tidak dapat membendung tangis harunya. Air mata mengalir membasahi wajahnya. Namun segera dilapnya dengan ujung kemejanya. Sang ayah ingin menunjukkan dirinya tegar, setegar batu karang.

Kemudian Sinchan melanjutkan lagi : “Mohon, ayah jangan melupakan diriku di saat Sinchan sudah tenang di surga. Namun, jika ayah sudah menikah dan memiliki bayi lagi, Sinchan harap ayah mau menjaga adik Sinchan dengan baik. Hapuslah kenangan sedih bersama Sinchan, binalah kehidupan baru yang lebih indah bersama adik bayi Sinchan…”

Setengah jam setelah mengucapkan kalimat terakhir, Sinchan tidur terlelap dalam keteduhan dan ketenangan yang abadi selama-lamanya…

Walaupun berusaha tegar, namun Sang Ayah masih merasa sangat terpukul kehilangan belahan jiwanya. 

Masih terngiang di telinga Sang Ayah, sebuah kalimat penuh ketegaran dari Sinchan ketika ditanya apakah dia merasa takut : “Tidak ayah, Sinchan tidak pernah takut. Setelah menemani ayah sejenak di dunia, Sinchan akan menemani ibu yang kesepian di surga. Ayah… Kami akan menunggu Ayah sampai kapanpun…”

(Salam Harmoni – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s