“ARTI PERSAHABATAN”

<Rabu, 06 April 2016 OOR 07:17>

Setiap pagi, dua orang sahabat selalu menikmati sarapan bersama. Mereka telah menjalin persahabatan selama puluhan tahun sejak mereka masih duduk di bangku sekolah hingga kini telah berumah tangga.

Hebatnya, kedua sahabat ini bekerja di perusahaan yang sama dengan level jabatan yang berbeda. Namun hal ini tidak sampai menimbulkan rasa minder dan dengki. Mereka tetap bekerja secara profesional.

Keseharian mereka lalui bersama-sama. Di akhir pekan mereka mengajak keluarga masing-masing untuk bersantap bersama atau mengadakan acara rekreasi bersama.

Hingga suatu pagi, saat yang yang berlevel manajer membawakan bekal sarapan untuk mereka berdua, berkata : “Bro, kira-kira sudah berapa lama yah kita bersahabat?”

Yang berlevel pegawai biasa menjawab : “Kayaknya kita sudah kenalan, ribuan tahun yang lalu. Hahaha…”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Suara mereka memenuhi seisi ruangan istirahat di kantor.

Yang berlevel manajer memegang pundak sahabatnya sambil berkata : “Sobatku, saya sangat menikmati persahabatan ini. Jarang sekali kita bertengkar. Namun jika di kemudian hari, kita berselisih paham, mohon kiranya kita jangan saling menjatuhkan dan saling merendahkan. Mencari teman itu gampang, namun mencari sahabat yang kekal itu sulitnya minta ampun, seperti mencari jarum dalam jemari…”

Yang berlevel pegawai biasa membalas rangkulan dari sahabatnya : “Tentu saja sahabatku. Kita tidak boleh mengkhianati arti persahabatan yang indah ini. Jikalau saya melakukan kesalahan, mohon tegurlah diriku dengan lembut…”

Sobatku yang budiman…

Sepenggal kisah persahabatan dari dua orang yang berbeda jenjang karir, menunjukkan bahwa persahabatan itu tidak memandang status sosial. Seyogyanya juga persahabatan itu tidak lagi memandang warna kulit, asal ras, suku dan agama.

Persahabatan itu murni bersumber dari dua buah hati anak manusia yang merasa ada kecocokan, saling membutuhkan dan saling mendukung.

Kelebihan dan kekurangan dari sahabat kita sebenarnya adalah cerminan kehidupan kita yang tidak sempurna.

Dalam sebuah persahabatan, tidak mengenal kata : lebih hebat, lebih baik, lebih kaya, lebih sempurna atau lebih penting.

Sahabat bagaikan sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan dan sepasang kaki. Jika satu hilang atau terluka, maka yang satu lagi tidak akan berfungsi dengan baik alias cacat.

Sahabat itu tidak perlu dicemburui, dipuja-puji dengan lebay, diwaspadai atau bahkan di-bully, sebab sahabat itu adalah bagian dari sepenggal hati kita. Sahabat itu hadir di saat suka maupun duka. 

Sahabat selalu hadir untuk mendengarkan keluh kesah di saat ada yang sedang gundah gulana.

Binalah persahabatan yang telah terjalin dengan mengesampingkan ego pribadi demi kelanggengan hubungan ini.

Perlakukan sahabat seperti kita memperlakukan diri kita sendiri…

(Salam Persahabatan – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in KISAH OPEKIU DAN UVEWE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s