“OTAK, OTOT DAN DUKUN”

<Jumat, 01 April 2016 OOR 11:48>

Otak bukanlah otot dan otot juga bukan otak. Yang ada cuma otak-otak, namun tidak ada otot-otot. Yang ada cuma ngotot-ngotot tapi tidak ada ngotak-ngotak.

Otak dapat mengontrol otot untuk bekerja, namun otot tidak mampu memerintah otak untuk beraktifitas.

Otak itu identik dengan ilmu pengetahuan, sebab semua ilmu akan disimpan dan dicerna oleh otak. 

Sedangkan otot identik dengan kekuatan, yang jika dilatih secara kontinu akan menjadi besar dan kuat.

Akhir-akhir ini, banyak manusia yang lebih mengutamakan otot daripada otak dalam bertindak. Hasilnya bukan ilmu pengetahuan yang dihasilkan, melainkan “benturan fisik” yang lebih diutamakan.

Ilmu pengetahuan tidak akan pernah hidup dan berkembang dalam suasana kekerasan, dipenuhi oleh intrik penindasan terhadap kebebasan berpikir.

Padahal, seharusnya ilmu pengetahuan dapat terus berkembang melalui serangkaian proses penelitian, percobaan, pelatihan, diskusi dan bertukar pikiran dalam kerangka kesederajatan.

Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang melalui cara-cara kekerasan, vandalisme, barbarianisme, pemaksaan kehendak dan lebih mengutamakan ego sektoral yang penuh kebohongan.

Dalam berproses, tidak jarang terjadi benturan-benturan ide dan pendapat. Hal ini amat dibutuhkan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan baru.

Ilmu pengetahuan dasar Biologi, telah berkembang menjadi puluhan cabang ilmu turunan seperti anatomi, fisiologi, botani, ekologi dan sebagainya. Semua cabang ilmu ini dihasilkan dari benturan-benturan ide yang bersumber dari naluri akal pemikiran manusia yang tidak pernah mati.

Namun sebaliknya, benturan-benturan otot hanya akan menghasilkan perselisihan, permusuhan dan berakhir dengan pertumpahan darah.

Lihatlah bagaimana, aksi demonstrasi taxi, beberapa waktu lalu, yang menimbulkan gesekan fisik dan berujung pada kerusuhan yang merugikan banyak kalangan.

Negara harus turun dan tidak boleh kalah oleh manusia yang lebih mengedepankan otot dibandingkan otaknya.

Jika nalar logika berpikir tidak lagi digunakan, ilmu pengetahuan tidak dapat lagi berkembang, maka sebaiknya negara ini kembali kepada tradisi membakar kemenyan untuk menyantet dan mengguna-gunai orang yang dianggap sebagai musuh bersama. 

Apakah bisa? Cuma dukun (palsu) yang tahu…

(Salam Harmoni – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s