“POLITIKUS TINGGI HATI”

<Selasa, 29 Maret 2016 OOR 11:38>

“Yang tidak baik itu, kapasitas walikota tetapi jadi presiden, misalnya. Itu sudah kacau tuh jadinya. He..he..he..” kata salah seorang calon Gubernur DKI.

Sungguh sebuah kalimat yang pasti akan membekas sebagai sebuah hinaan terburuk sepanjang hidup beliau, yang tidak mengerti apa-apa. Ibarat tidak makan nangka, tapi kena getahnya.

Tanpa hujan, tanpa angin, tiba-tiba saja, alamat hinaan yang seyogyanya ditujukan kepada rivalnya, seorang kepala daerah berubah haluan ke arah kepala negara.

Mungkin dari segi legal formal, statemen beliau tidak bisa dituding sebagai sebuah pelecehan atau penghinaan terhadap pribadi seseorang, namun dilihat dari etika dan kepantasan publik, pastilah memiliki konsekuensi yg berbeda. Sebab orang yg paling awam politik di negeri akan tahu, siapa yang menjadi “korban penghinaannya”.

Padahal sang adik tercintanya masih tetap dipertahankan sebagai dubes Jepang oleh presiden yang menjabat saat ini. Kacang lupa pada kulitnya? Atau mungkin saja kacangnya adalah kacang busuk.

Gelar tertinggi dalam akademik, tidaklah menjamin bahwa orang tersebut layak menjadi panutan buat kehidupan banyak orang.

Wahai Profesor yang saya hormati, bercerminlah sebelum melakukan sebuah penghinaan.

Bagaimana dengan kehidupan keluarga sendiri? Apakah langgeng-langgeng saja? Sudahkah mereka menjalankan kehidupan beragama yang taat?

Apa kontribusi Anda buat negara? Anda boleh meniru dan meneladani sikap Ibu Susi Pudjiastuti yang rela mati-matian mempertahankan laut Indonesia dari jarahan pencuri dan maling ikan dari negara asing… Sudahkan Anda membela negara tercinta ini, atau malah bertindak sebaliknya?

Maukah Anda berjuang membasmi koruptor yang menggerogoti uang negara? Bukan malah membela mereka mati-matian, dengan alasan tuntutan pekerjaan?

Arggghhh…. 

Saya haqul yakin dan percaya, kesombongan akan membuat orang terjatuh dari kewibawaan sebagai seorang terpelajar dan bahkan menjadi terhina laksana panglima perang yang berkhianat kepada rajanya.

Jabatan itu bukan segala-galanya. Tugas terhormat sebagai menteri utama telah diemban, untuk apa lagi bersikeras mengambil jabatan yang lebih rendah? Jadi manusia itu harus memiliki progres naik bukan sebaliknya. Masak sudah pernah menjadi direktur, mau melirik jabatan sebagai manajer?

Saya akan memberi hormat jika Anda berniat untuk mengejar jabatan sebagai presiden atau wapres sesuai kapasitas dan kemampuan yang Anda miliki.

Atau setidaknya menjadi ketua DPR yang terhormat…???

Upss…lupa…. kalo Anda belum diperbolehkan oleh UU…

Semoga Anda segera sadar dan cepat istighfar untuk bersikap lebih rendah hati lagi. 

Jangan lagi menghina pemimpinku…!!! Beliau sengaja kami pilih untuk membawa negeri tercinta menjadi bangsa yang besar dan bermartabat…

Saya yakin, Anda pasti bisa…!!!

(Salam Hormat – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in POLITIK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s