“SIKAP MENYALAHKAN”

<Selasa, 23 Maret 2016 OOR 07:13>

Jika kita menyalahkan korban perkosaan karena pakaiannya yang mengundang, maka kita juga harus menyalahkan pemilik toko emas bila dirampok karena emas perhiasan yang akan dijual terlihat menarik dan “mengundang” perampok untuk mengambilnya.

Jika kita menyalahkan mobil yang menabrak sepeda motor yang melanggar aturan lalu lintas, maka kita juga harus menyalahkan pawang hujan yang tidak mampu menghentikan laju hujan lebat yang mengakibatkan bencana banjir dan menghanyutkan rumah-rumah penduduk di bantaran sungai.

Jika kita menyalahkan orang kaya yang tidak mau memberi sedekah kepada orang yang tidak mampu, maka kita juga harus menyalahkan pemerintah yang menghukum pengemplang pajak yang sudah bangkrut dan pemerintah harus membayar biaya pajak yang tidak dibayar karena pemerintah lebih mampu secara finansial.

Jika kita menyalahkan orang yang tidak mau berpindah keyakinan seperti yang kita anut, maka kita juga harus menyalahkan Tuhan yang menurunkan begitu banyak ajaran agama di muka bumi.

Jika kita menyalahkan pemerintah yang tidak mampu membuat rakyatnya kaya raya, maka kita juga harus menyalahkan langit yang tidak mampu menurunkan hujan uang dan emas untuk semua penduduk bumi.

Beberapa analogi contoh di atas menunjukkan kekerdilan pikiran kita tatkala merasa diri ini tidak mendapat perlakuan pantas dari orang lain.

Menyalahkan orang lain adalah salah satu jalan pintas untuk melepaskan tanggungjawab atas kesalahan dan ketidakmampuan dirinya menghadapi sesuatu keadaan.

Menyalahkan orang lain muncul dalam diri seorang peragu dan merasa dirinya terancam, baik secara finansial maupun kewibawaan dan kehoatannya.

Menyalahkan orang lain dapat muncul pada pribadi yang merasa ketakutan jika kejahatan atau kebodohannya terbongkar dan diketahui oleh khalayak ramai.

Dan mungkin saja, sikap menyalahkan orang lain, karena ada unsur “pesanan” dari pihak lain yang berseteru dengan orang yang menjadi korban. Atau barangkali dengan menyalahkan orang lain, orang tersebut sedang melakukan kegiatan “angkat telor”, agar mendapat perhatian, jabatan atau uang dari pihak lain. (Kalimat terakhir ini tidak masuk dalam kategori pembahasan karena sikap menyalahkan bersumber dari luar diri)

Sobatku yang budiman…

Kesulitan, cobaan hidup dan kegagalan adalah batu ujian bagi umat manusia untuk melangkah maju ke depan. Jadi mengapa harus menyalahkan orang lain yang belum tentu bersalah? Bukankah hanya akan menambah dosa?

Sikap menyalahkan orang lain bahkan kepada Tuhan sekalipun, akan membuat kita menjadi manusia yang egois, mau menang sendiri dan merasa paling hebat sedunia.

Daripada menyalahkan pihak luar, maka lebih mulia lagi jika kita mampu berbenah diri, melakukan koreksi dan instropeksi diri serta melihat ke dalam diri sendiri, apakah kita sudah melakukan yang terbaik atau belum…

Belajarlah untuk melatih diri, menahan hawa nafsu keserakahan dan nafsu keinginan untuk menyalahkan pribadi yang lain.

“Sebaik-baiknya manusia di antaramu adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain” (H. R Bukhari)

(Salam Pencerahan – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s