Part 3 “PERSAHABATAN SOE HOK GIE DAN PRABOWO SUBIANTO”

<Senin, 21 Maret 2016 COR 19:10>

Semua orang pasti mengenal seorang Prabowo Subianto. Meski gagal dalam beberapa kali kesempatan menduduki tampuk kepresidenan, namun nama besar seorang Prabowo menjadi magnet tersendiri dari para pengikut setianya.

Kemonceran akal dan tingginya intelegensia Prabowo semasa menjadi prajurit hampir membawanya menjadi pucuk pimpinan TNI. Peristiwa memalukan tahun ’98 dan mencoreng nama Indonesia, telah menggagalkan misinya. Ujung-ujungnya beliau dipaksa harus melepaskan seragam hijau loreng yang menjadi kebanggaannya selama ini.

Ketika tiba kembali ke Tanah Air pada 1968 (setelah 10 tahun tinggal berpindah-pindah di luar negeri), Prabowo Subianto baru saja tamat SMA. Namun, ia tidak canggung bergaul dengan mahasiswa yang berumur jauh di atasnya. Pada masa-masa itulah sebenarnya Prabowo memulai proses pencarian eksistensi dan aktualisasi diri.

Situasi lingkungan yang ada sangat berperan dalam membentuk kepribadiannya. Selain melalui buku dan makalah para tokoh terkenal di masa itu, Prabowo juga bergaul akrab dengan banyak aktivis muda Indonesia. Terutama para tokoh Gerakan 1966.

Selain mengalami pola pergaulan dan pendidikan ala Barat, kedekatan Prabowo dengan aktivis mahasiswa, tentu saja tidak dapat dipisahkan dari ketokohan ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo. 

Keterlibatan banyak aktivis mahasiswa dalam Gerakan Pembaharuan (GP) pimpinan Sumitro, membuat Prabowo menjadi akrab dan dikenal di kalangan mahasiswa.

Sementara itu, meski dikendalikan Sumitro dari pengasingan di luar negeri, organisasi Gerakan Pembaharuan terbukti efektif dalam menggelorakan semangat pembaruan dan menentang “demokrasi terpimpin” ala Soekarno.

Dengan segala atributnya, posisi Sumitro lah yang menjadi perekat hubungan Prabowo dengan para aktivis gerakan mahasiswa kala itu. Saking dekatnya, tidak jarang Prabowo datang berkunjung ke kampus Universitas Indonesia (UI) di Salemba dan terlibat dalam diskusi serius dengan para mahasiswa.

Dan, ternyata nama Prabowo pernah disebut-sebut dalam catatan harian tokoh ternama, aktivis ’66 dan pembangkang mahasiswa sejati yaitu Soe Hok Gie di buku “Catatan Seorang Demonstran” yang ditulis berdasarkan kumpulan tulisan Soe Hok Gie. 

Prabowo kala itu ditulis dengan sebutan nama “Bowo”. Dalam catatan Soe Hok Gie, nama Prabowo muncul pada tahun 1969.

Diceritakan dalam buku itu, Gie cukup dekat dengan Prabowo. Gie selama ini juga memang dikenal sangat dekat dengan ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo. Ayah Prabowo ini bahkan sering disebut dalam beberapa kesempatan.

Namun cerita kedekatannya dengan Prabowo jarang didengungkan kemana-mana, karena seorang Gie bukanlah seorang yang suka mengandalkan kemampuan orang lain dalam bertindak. Gie lebih percaya kepada kemampuan diri sendiri. 

Gie menilai Bowo, panggilan akrab Prabowo banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus organisasi sehingga tidak terlalu memikirkan urusan asmara seperti kebanyakan ABG pada umumnya. 

Pada masa itu, Prabowo memang tidak pernah dipergoki oleh Gie, berjalan berduaan dengan wanita, apalagi sampai menjalani proses pacaran.

Prabowo adalah teman main dan keluyuran Gie…

Soe Hok Gie bercerita bahwa dia dan Prabowo sempat keluyuran bareng : “Dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai”. Kejadian ini ditulis Gie dalam catatan pada hari Kamis 29 Mei 1969.

Saat itu Prabowo berusia 18 tahun, terpaut 9 tahun dengan Gie yang kelahiran 17 Desember 1942, sehingga istilah “kanak-kanak” terlontar dengan gamblang dalam catatan harian Gie. 

Meskipun terpaut jarak usia sembilan tahun, Gie adalah teman diskusi dan berdebat Prabowo dalam membahas masalah-masalah kebangsaan atau terkait konsep pemikiran sosial kemasyarakatan. 

Pergulatan pemikiran dan ide mewarnai diskusi mereka. Berdua atau terkadang bersama kawan-kawan yang lain, mereka sering mengunjungi Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan dan Keamanan, serta Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (Leknas) untuk meminjam buku, lalu mendiskusikannya bersama-sama.

Saking dekatnya persahabatan di antara keduanya, tidak jarang Gie mengkritik tajam pemikiran Prabowo. Ia bahkan punya pandangan tersendiri tentang sosok Prabowo, yang notabene masih remaja belia. 

Minggu, 25 Mei 1969, Soe Hok Gie menulis begini: “Bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda (atau kanak-kanak) yang kehilangan horison romantiknya. Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas, tapi naif. Mungkin kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia yang nyata, ia akan berubah….”

Intensitas pergaulan Prabowo dengan Soe Hok Gie meningkat sekitar Mei-Juli 1969. Pemicunya adalah gagasan Prabowo untuk membentuk Corps Pioneer, yaitu gerakan yang melibatkan para pemuda dan organisasi pelajar-mahasiswa untuk membantu rakyat kecil. 

Antara lain melalui program pemberdayaan ekonomi di kalangan petani, perajin, dan pedagang kecil. Selain melakukan pelatihan (training), lewat gerakan ini mereka juga bermaksud memberikan bantuan teknis, termasuk bantuan pembiayaan, meski dalam batas tertentu.

Kendati lebih senior dan kerap memiliki pandangan berseberangan dengan Prabowo, Gie setuju bergabung dengan Corps Pioneer, yang kemudian dikukuhkan dengan nama Lembaga Pembangunan. Sejarah mencatat, Lembaga Pembangunan merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) pertama yang berdiri di Indonesia.

Menyimak catatan harian Soe Hok Gie dalam bukunya, terlihat betapa gagasan Prabowo harus melalui perdebatan panjang sebelum disepakati untuk direalisasikan. Senin, 7 Juli 1969, misalnya, Gie panjang lebar menuliskan kegiatannya hari itu bersama Prabowo. 

“Jam 12.00 Paul Cappelle datang untuk membicarakan rencana Corps Pioneer-nya Prabowo. PMKRI telah membuat rencana-rencana dan pelaksanaan-pelaksanaan, tetapi gagal. Ia minta agar mereka boleh diikutsertakan dalam training. Kebetulan Prabowo datang dan mereka bicara. Bowo minta tidak hanya dalam training saja, tetapi juga dalam penggabungan funds dan sources yang memang tidak banyak. Tentang soal ini memang masih terlalu premature.”

Dalam perdebatan dengan Prabowo, Gie antara lain mengkritisi kemampuan lembaga mereka dari sisi finansial, sementara ada begitu banyak desa yang mesti dibantu. Menurut Gie, desa di Indonesia ada beribu-ribu jumlahnya, sedangkan jumlah mahasiswa yang bisa dikerahkan untuk terjun ke lapangan paling hanya beberapa ribu. Ia khawatir, lembaga ini tidak bisa berbuat banyak.

Sayang, pertemanan Prabowo-Soe Hok Gie tidak berlangsung lama. Kita tahu, pada Desember 1969 – sehari menjelang ulang tahunnya yang ke-27 – Gie mengalami musibah saat mendaki puncak Gunung Semeru di Jawa Timur. Ia menghirup gas belerang beracun. Nyawanya tak tertolong. Gie meninggal bersama Idhan Lubis, anggota rombongan pendakian dari Mapala Fakultas Sastra UI.

(Bersambung ke Part 4)

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s