Part 2 “KETELADANAN SOE HOK GIE UNTUK GENERASI PENERUS BANGSA”

<Senin, 21 Maret 2016 COR 19:10>

Meski kini telah tiada, semerbak harum pesona seorang Soe Hok Gie tetap terpancar hingga kini. Gie akan tetap dikenang sebagai salah satu aktivis paling berpengaruh pada masanya. 

Kepergian yang begitu tiba-tiba sangat disayangkan oleh banyak kalangan. Ada yang mengaitkan kematian Gie sebagai konspirasi pemerintah saat itu untuk membungkam “suara nyaring” seorang pemuda pemberani.

Namun, apa yang sudah diperjuangkannya dan ditulis dalam berbagai buku yamg menceritakan peristiwa-peristiwa penting semasa hidupnya, telah memberi teladan yang baik bagi generasi muda Indonesia. Terlebih lagi, buah pemikirannya yang cerdas dan tajam mengenai kebusukan rezim penguasa di tanah air, telah membuka mata kaum muda agar lebih kritis dan konsisten dalam memperjuangkan kebenaran, walaupun harus diasingkan.

Keberanian dan kenekatannya dalam bersuara lantang menjadi trigger penambah semangat untuk para mahasiswa untuk tetap memperjuangkan kepentingan rakyat dalam koridor nasionalisme sejati.

Saat ini, banyak aktivis kampus dan pemuda hanya bisa mengeluh dan mempertanyakan tentang kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Segelintir dari mereka, hanya bisa turun ke jalan dan melakukan demonstrasi secara kecil-kecilan, dan tidak jarang malah menimbulkan antipati masyarakat. 

Mengapa?

Demontrasi yang dilakukan sudah meresahkan pengguna jalan dengan membakar ban di tengah jalan, membuat jalanan macet dan jelas merugikan para pengguna jalan. Celakanya lagi, sebagian dari mereka hanya menyuarakan kepentingan pribadi dan kelompoknya, bukan menyuarakan aspirasi kepentingan rakyat.

Marilah, wahai generasi penerus bangsa, penyambung estafet kepemimpinan nasional, untuk meneladani sikap Gie berikut ini, agar Anda tahu bahwa perjuangan seorang demonstran tidak hanya berupa aksi membakar ban dan berteriak nyaring lewat megaphone semata.

1. Gie selalu ikut memberikan gagasan, ide dan pemikiran yang membangun, tidak melulu hanya berdemon dan mengkritik yang tidak jelas.

Kebiasaan melahap karya sastra yang “berat” dari para penulis terkenal rupanya telah menempa Gie menjadi pemuda yang memiliki kesadaran politik tinggi.

Gie juga selalu menyampaikan ide gagasan dan pemikirannya yang cerdas namun tajam menusuk, tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah agar Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar. Bukan hanya pintar mengeluh dan mengkritik tidak jelas juntrungannya.

Kritik pedasnya terhadap kebobrokan kebijakan dan perilaku pejabat pemerintah sering dimuat di koran-koran ternama saat itu, seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. 

Tak heran, jika kemudian tulisan-tulisan “kritis”-nya kerap membuat para pejabat kebakaran jenggot karena marah dan merasa tersinggung. 

Padahal tujuannya bagus, semata-mata dilakukannya agar para pejabat mau membuka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar keluhan masyarakat bawah. Para pejabat harus melakukan blusukan ke bawah, melihat bagaimana kondisi rakyat pada saat itu sedang menderita dan terbelit kemiskinan.

2. Dalam menjalankan aksinya, Gie selalu berpegang kepada prinsip idealisme pemuda yang nasionalis. Setiap aksinya tidak pernah ditunggangi kekuasaan atau pihak lain yang berkepentingan.

Dalam catatan hariannya, Gie dengan tegas mengatakan kalau dirinya bukan seorang intelektual yang mengejar kekuasaan belaka, melainkan menuntut kebenaran. Itulah mengapa ketika banyak mahasiswa menjual ideologinya pada tirani kekuasaan dan lebih memilih tunduk pada partai atau penguasa, Gie mengkritik keras tindakan tersebut.

Ketika dirinya menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, Gie sangat tidak setuju dengan kehadiran organisasi ekstra kemahasiswaan yang merupakan antek-antek partai. 

Sikapnya yang menolak keras itu bukan tanpa sebab. Para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi tersebut kerap memaksakan kehendak dan cara pikir picik demi kepentingan partai yang menaungi organisasinya. Mereka seperti berusaha mengendalikan, melakukan “brain storming” dan menyetir mahasiswa lain yang belum sehaluan dengan mereka agar bergabung menjadi pengikutnya.

Akibat ulahnya, suasana kampus pun menjadi tidak menyenangkan. Peristiwa itu kemudian mendorong Gie untuk membentuk sebuah gerakan mahasiswa independen di kampus. Bersama kawan-kawannya yang memiliki pandangan selaras, Gie lantas mengusulkan nama Herman O Lantang untuk dicalonkan sebagai Ketua Senat Fakultas Sastra. 

Ditunjang dengan kepopuleran Herman di kalangan mahasiswa dan juga dukungan Gie beserta mahasiswa yang mengusung gerakan independen tersebut, Herman akhirnya terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 

Hal ini bisa dikatakan sebagai sebuah gebrakan besar, mengingat pengaruh organisasi ekstra kala itu sangat kuat dan mengakar pada kehidupan mahasiswa.

3. Gie tidak pernah menebarkan virus kebencian atas perbedaan pandangan dan haluan politik dari rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Gie memang dikenal dengan sikapnya yang keras, tajam dan berani, terutama jika itu menyangkut ketidakbenaran dan ketidakadilan. Namun, dia tidak pernah sekalipun menyimpan dendam atau rasa benci terhadap orang-orang yang tidak berada satu perahu dengannya. 

Gie memang gencar menyerang PKI dengan kritik pedasnya, tapi di lain pihak, dia juga menjadi orang yang paling lantang dalam mengecam aksi pembantaian antek-antek PKI.

Demikian juga saat rezim Soekarno berhasil diturunkan dan rezim Orde Baru mulai berkuasa, Gie tidak lantas membisu melihat dan mendengar ketidakadilan yang menimpa masyarakat. Dia tetap tajam dalam mengkritik pemerintahan baru Presiden Soeharto. 

Tapi perlu diketahui, Gie tak pernah sekali pun membenci lawannya. Sikapnya yang terbuka dan suka berterus-terang memang terkadang membuat orang-orang yang dikritiknya merasa marah. Sebaliknya, banyak pula yang bersimpati dengan sikap Gie yang berprinsip dan tegas itu.

Dalam catatan hariannya, Gie juga “berpesan”, agar dalam mengambil setiap keputusan, para mahasiswa harus menganut prinsip-prinsip nasionalis kebangsaan, bukan atas dasar agama, ormas, atau golongan tertentu.

(4) Gie kerap mengingatkan teman-teman seperjuangannya melalui “bingkisan penyindir” yang lucu dan unik, tapi bernas menyentil telinga mereka yang menerima.

Sebelum mendaki Semeru, Gie pernah mengirim bedak, gincu, dan cermin kepada 13 aktivis mahasiswa yang menjadi anggota DPR setelah Orde Baru berkuasa. Harapannya, agar mereka bisa berdandan dan bertambah “cantik” di hadapan penguasa. Sebuah sindiran yang amat mengena.

Gie kecewa terhadap teman-teman mahasiswanya di DPR. Mereka tidak lagi memperjuangkan idealisme kemahasiswaan dan dianggap sudah melupakan rakyat. Mereka lebih mementingkan kedudukannya di parlemen. Buat Gie yang memiliki konsistensi pemikiran, aktivis mehasiswa seharusnya menjadi kekuatan moral, bukan pelaku politik praktis.

Dalam surat pengantar kiriman, 12 Desember 1969, Gie menulis, “Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmati kursi Anda, tidurlah dengan nyenyak.”

Wahai mahasiswa Indonesia…

Sudahkah Anda mengerti alur pemikiran seorang Soe Hok Gie yang tegas dan tajam? Gie tidak pernah mau dipengaruhi oleh tawaran kursi kekuasaan dan selalu berkomitmen memperjuangkan keadilan dari luar jalur birokrasi.

Untuk mewujudkan kejayaan bangsa tercinta, semua elemen komponen pemuda dan mahasiswa harus dapat bersatu padu dalam membangun negeri melalui pemikiran-pemikiran yang konstruktif dan berkualitas.

Jangan hanya pintar berteriak-teriak saja, tanpa sekalipun memberi solusi. Jadilah generasi muda yang cerdas dan kreatif, sehingga kelak negeri ini bisa menjadi bangsa yang disegani di dunia. 

Selamat Jalan Gie! Doa kami menyertaimu. 

Bacalah buku legendaris dari seorang pejuang mahasiswa : “Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie” yang dapat membuka pemikiran kita menjadi seorang pejuang keadilan dan kebenaran

(Bersambung ke Part 3)

Advertisements
This entry was posted in BIOGRAFI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s