Part 1 “SOE HOK GIE, CATATAN SEORANG DEMONSTRAN” 

<Senin, 21 Maret 2016 COR 19:10>

“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan,” oleh Soe Hok-Gie.

Soe Hok Gie dilahirkan di Jakarta, 17 Desember 1942 dan meninggal di puncak Gunung Semeru, 16 Desember 1969 pada usia 26 tahun. 

Gie, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969 adalah seorang aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran tirani pemerintahan Presiden Soekarno dan Soeharto. 

Ayah Gie bernama Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan adalah seorang novelis. Gie terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Kakak Gie adalah Arief Budiman, seorang sosiolog yang cukup vokal dalam mengkritisi kebijakan pemerintah Orde Baru. Saat ini Arief Budiman menjadi dosen di salah satu universitas terkemuka di Melbourne, Australia. 

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Kolese Kanisius, Gie melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI) dari tahun 1962 sampai 1969. Setelah menyelesaikan studi di almamaternya, Gie muda menjadi dosen di almamaternya hingga ajal menjelang. 

Selama menekuni perannya sebagai aktivis mahasiswa yang vokal, Gie berubah menjadi seorang pembangkang aktif, gemar memprotes kebijakan Presiden Sukarno.

Gie adalah seorang penulis yang produktif, gemar menulis artikel yang sering dipublikasikan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. 

Sebagai seorang pendukung hidup yang dekat dengan alam, Gie, seperti dikutip Walt Whitman dalam buku hariannya: “Sekarang aku melihat rahasia pembuatan orang terbaik itu adalah untuk tumbuh di udara terbuka dan untuk makan dan tidur dengan bumi.” 

Pada tahun 1965, Gie membantu mendirikan Mapala UI, organisasi lingkungan terkemuka saat ini di kalangan mahasiswa. Dia sangat menikmati kegiatan mendaki (hiking).

Gie meninggal tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya, yang jatuh pada 17 Desember 1969. Bersama rekan sependakiannya, Idhan Dhanvantari Lubis, keduanya menghembuskan napas terakhir setelah menghirup gas beracun di puncak Gunung Semeru. Gie dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Gie pernah menulis dalam buku hariannya:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Buku harian Gie diterbitkan pada tahun 1983, dengan judul Catatan Seorang Demonstran yang berisi pengalaman hidup, kesehariannya, opini dan pandangannya terhadap aksi demokrasi. 

Buku harian Gie ini menjadi inspirasi untuk pembuatan film romansa heroik pada tahun 2005, berjudul “Gie”, yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie. 

Gie juga merupakan subyek dari sebuah buku 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul “Soe Hok Gie – Diary of a Young Indonesian Intellectual”. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001, dan berjudul “Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani”.

Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). 

Skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, diterbitkan pada tahun 1999 oleh Yayasan Bentang dengan judul “Di Bawah Lentera Merah”. Skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”.

(Bersambung ke Part 2)

Advertisements
This entry was posted in BIOGRAFI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s