“PINSIL, PENGHAPUS DAN RAUTAN”

<Selasa, 15 Maret 2016 COR 22:55>

Semua orang pasti mengenal pinsil, penghapus dan rautan. Mereka merupakan satu kesatuan yang wajib dimiliki anak murid ketika duduk di bangku sekolah.

Saat mereka bertemu di sebuah kotak pinsil yang bercorak boneka doraemon, ketiga peralatan menulis itu terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius.

Pinsil : “Maafkan diriku, penghapus dan rautan…”

Penghapus dan rautan terkejut dengan permintaan maaf dari pinsil yang tiba-tiba. 

Penghapus : “Maafkan dirimu? Untuk apa wahai sahabatku pinsil?”

Rautan : “Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepada kami berdua. Untuk apa minta maaf?”

Pensil melihat ke arah penghapus : “Aku minta maaf kepadamu penghapus, karena aku selalu membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu hadir untuk menghapusku. Di saat kamu menghapus kesalahanku, maka kamu akan kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi bertambah kecil dan lebih semakin kecil lagi…”

Kemudian, pinsil menoleh ke arah rautan : “Aku juga minta maaf kepadamu rautan, karena aku selalu membuatmu menjadi hilang ketajaman. Setiap kali diriku patah atau sudah tidak runcing lagi dan sukar untuk menghasilkan tulisan nan indah, kamu selalu hadir untuk mengasahku menjadi runcing dan membuatku gampang untuk menulis”.

Penghapus menjawab : “Memang sudah seperti ini kodratku. Aku diciptakan untuk menghapus semua kesalahan yang engkau perbuat. Aku sama sekali tidak keberatan. Aku senang menjalani tugas ini..”

Rautan menimpali : “Aku juga demikian… Tidak ada keraguan dalam diriku untuk melaksanakan pengabdian mulia ini untuk meruncingkan dirimu agar engkau dapat menghasilkan karya yang indah dan disukai banyak orang”. 

Penghapus menambahkan dengan suara lirih : “Walaupun aku menyadari, suatu saat aku akan habis, hilang dan pergi, namun aku sangat menikmati peranku. Jangan engkau bersedih, sahabatku…”

Rautan berkata dengan nada bergetar : “Aku juga akan rela, jika suatu saat engkau tidak lagi membutuhkan diriku karena diriku sudah tidak tajam lagi dan tidak sanggup menjalankan tugas untuk meruncingkan dirimu. Janganlah engkau sesali, sahabatku…”

Pinsil terdiam… Air matanya mengucur deras. Dia tidak menyangka begitu besar pengorbanan dari kedua sahabatnya, penghapus dan rautan. Mereka bekerja tanpa pamrih dan tidak pernah menuntut balas jasa.

Nasehat dari penghapus : “Jika dirimu sudah tumpul, rautlah dirimu supaya menjadi tajam kembali. Jgn biarkan dirimu menjadi tidak berguna. Saya akan selalu hadir untukmu…”

Sobatku yang budiman…

Siapakah pinsil, penghapus dan rautan itu?

Penghapus adalah ibu kita. Rautan adalah ayah kita. Dan Pinsil adalah diri kita sendiri…

Orang tua akan selalu hadir menemani anak-anaknya, baik di dalam suka, terlebih-lebih lagi di saat duka dan sedang terpuruk.

Ibu selalu ada untuk memperbaiki setiap kesalahan, kekhilafan dan kekurangtahuan anak-anaknya. Ayah akan selalu ada untuk memberikan nasehat, solusi dan menajamkan kelima indera kita dalam menghadapi rintangan dan tantangan dari semua keadaan di luar rumah. 

Mereka berdua bekerja tanpa pamrih, tanpa berhitung untung rugi, tanpa peduli rasa bosan, capek, dan sakit yang senantiasa datang ketika mendampingi sang buah hati.

Padahal, seiring dengan berjalannya waktu…

Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil, bertambah tua dengan tubuh menciut karena kulit keriput dan tulang keropos hingga akhirnya mereka akan meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Yang tertinggal hanyalah serutan penghapus yang telah berubah warna dari semula putih menjadi hitam serta sisa-sisa ampas hasil rautan. Ampas yang tidak berguna ini akan selalu mengingatkan kita, betapa besar pengorbanan dari kedua orang tua kita.

Mereka rela untuk digantikan oleh orang-orang baru, yang akan menemani hidup anak-anaknya kelak. Sebab hingga tiba waktunya, anak-anak mereka akan menemukan pendamping hidupnya, yaitu sosok seorang suami ataupun isteri dan melahirkan anak-anak generasi penerusnya.

Setiap orang tua senantiasa merasa bahagia dengan apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya. Mereka tidak akan pernah membiarkan anak-anaknya merasa khawatir, sedih, tidak nyaman. Sebaliknya, mereka ingin anak-anaknya menjadi pribadi yang berguna bagi lingkungannya, terlihat “elok dipandang” dan merasa terhormat di mata orang lain. 

Kisah ini dipersembahkan secara khusus kepada seluruh orang tua di dunia termasuk para orang tua yang sedang membaca artikel ini

I LOVE U MOM…

I LOVE U DAD…

(Salam Pengabdian – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s