“Part 6 : GUNDALA MINGGAT”

<Kamis, 10 Maret 2016 OOR 21:35>

Seorang wanita berjalan perlahan menyusuri jalan setapak, pandangannya tertuju kepada anak laki-laki yang sedang menikmati es krim warna-warni.

Wajah tampan bocah tersebut, mengingatkan wanita tersebut akan sosok putera tunggalnya yang telah terpisah oleh jarak yang jauh. Gundala, anak semata wayang yang amat dicintainya.

Tidak terasa, sudah hampir tiga tahun mereka berpisah. Kerinduannya begitu mendalam, namun tidak diperbolehkan untuk bertemu anaknya, membuatnya sangat sedih. Dia meratapi kepedihan nasibnya yang senantiasa dirundung ketidakbahagiaan.

Isabella, sang wanita muda, masih menampakkan sisa-sisa kecantikan di masa mudanya, tidak lagi tinggal di kampung terpencil di pinggiran gunung, tidak lagi tinggal di rumah bersama neneknya, namun Isabella saat ini telah pindah ke tempat lain.

Selain untuk melupakan kenangan pahit masa lalu, Isabella juga menginginkan pekerjaan yang lebih baik agar dapat menghasilkan uang yang banyak. Dia ingin segera menebus puteranya, Gundala dari tangan keluarga besar Sammy.

Sementara itu… Di sebuah rumah mewah…

Seorang anak remaja laki-laki sedang memberi makan ikan mas koi di sebuah kolam indah dengan hiasan ornamen adat Tapanuli.

“Gundala… Ayo masuk. Saatnya kita makan malam bersama…”, sebuah panggilan dari suara serak seorang kakek segera menghentikan aktifitas rutin harian sang anak.

Gundala : “Iya, Kek… Saya segera masuk ke dalam. Mau cuci tangan dulu….”

Lima orang duduk mengelilingi sebuah meja makan mewah…

Gundala duduk tepat di samping sang kakek. Berulangkali, Gundala mengambilkan lauk makanan untuk sang kakek, sesekali menyuapkan kuah ke mulut kakeknya, diikuti dengan mulut menganga darinya.

Keluarga tersebut kelihatan begitu harmonis. Sang kakek adalah pemilik perusahaan besar di Kuala Lumpur. Salah seorang taipan terkemuka dari negeri jiran.

Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di Medan, kota yang dianggap sebagai rumah kedua setelah KL. Mereka telah jatuh cinta dengan lingkungan dan keakraban masyarakat di kota nomor tiga terbesar di Indonesia.

Di dalam suasana yang kelihatan harmonis dan bahagia, ternyata terselip sebuah bara sekam yang masih belum padam apinya.

Dialah Gundala pemicu bara tersebut. Keluarga besar Sammy masih merasa khawatir dengan kondisi mental Gundala sepeninggal mamanya, Isabella.

Gundala masih belum dapat melupakan sang mama sepenuhnya. Hingga tiga tahun perpisahan, Gundala masih tetap bermimpi, mengigau dan memanggil-manggil mamanya.

Kesehatan Gundala sudah mulai pulih pasca operasi jantung dua tahun yang lalu. 

Sudah dua kali, dalam dua tahun yang berbeda, Gundala mencoba meninggalkan rumah untuk mencari sang mama, dan selalu bertepatan dengan hari ulang tahun mamanya. Pengawal pribadi yang menjaganya berhasil menggagalkan niat remaja yang mulai beranjak dewasa.

Hingga akhirnya, tepat di hari ulang tahun mamanya tahun ini, Gundala berhasil melarikan diri. 

Sepulangnya dari les piano, Gundala berpura-pura berhenti di tepi jalan, dekat terminal ojek. Dia masuk ke sebuah toko roti dan keluar dari pintu belakang, berlari secepatnya ke arah pengemudi ojek yang sedang menunggu pelanggan. 

Kesempatan ini diperolehnya, karena pengawal pribadinya sedang sakit dan minta izin pulang cepat. 

Akibat keteledoran supir pribadinya tersebut, Gundala berhasil minggat dengan menggunakan ojek menuju terminal bus angkutan umum, untuk pulang ke rumahnya yang ditempati nenek buyutnya, nenek dari mamanya.

Sebagai anak dari pengusaha kaya, Gundala memiliki kelebihan finansial, ditambah dengan kepintarannya dalam mengelola keuangannya sendiri. Gundala selalu menabung, suatu kegiatan positif yang dilakoninya sejak kecil karena didikan mamanya.

Sebelum minggat, Gundala telah mempersiapkan kado ulang tahun yang mahal buat sang mama. Dia juga membelikan sepasang pakaian pria dan wanita yang sangat indah untuk dikenakan bersama sang mama di hari istimewa mamanya. 

Gundala berencana mengajak sang mama untuk makan malam di restoran mahal. Dia ingin sekali membahagiakan mamanya, sosok perempuan yang paling disayangi seumur hidupnya.

Sesampainya di kampung halaman mamanya, Gundala berlari-lari kecil menyusuri jalan-jalan setapak sambil bersenandung ria. Hatinya diliputi perasaan gembira dan sedikit berdebar, membayangkan akan bertemu mamanya.

Namun, ketika sampai di rumah sederhana tersebut, Gundala menemukan rumah tersebut tertutup rapat. Lampu di dalam ruangan tidak menyala. Keadaan di dalam rumah gelap gulita. Dari balik bilik jendela yang berlobang, Gundala mencoba memanggil mamanya. Tidak ada yang menyahut…

Gundala bergerak menuju ke rumah tetangganya untuk menanyakan dimana mamanya berada. Mereka mengatakan, mamanya telah pindah dan rumah itu telah kosong ditinggalkan penghuninya sejak 3 bulan lalu.

Betapa sedihnya hati Gundala mendapati kenyataan ini. Kelopak pintu hatinya seketika meredup. Angannya buyar melebur diterpa angin tanpa tujuan jelas. Keinginan yang telah dipendam begitu lama, berakhir dengan sia-sia.

Tidak ada nomor hape yang bisa dihubungi. Papa dan kakek neneknya pasti mengetahui nomor hape mamanya, tapi nomor itu tidak pernah diberikan kepada Gundala. Lagipula saat ini Gundala sama sekali tidak membawa alat komunikasi..

Gundala duduk bersimpuh di atas lutut, di depan pintu, menangis dalam sedu yang memilukan : “Ternyata memang benar, mama sudah tidak menginginkan diriku. Mama tidak lagi sayang kepadaku… Hidup senang tanpa kekurangan materi, bukan mauku. Aku cuma ingin mama seorang… Mamaaaa… Dimanakah dirimu berada..? Aku kangen sekali, ma… Jika mama tidak menginginkanku lagi, buat apa lagi aku hidup…?”

Gundala meletakkan setangkai bunga indah, kado ulang tahun, sebuah buku harian hidupnya sepeninggal sang mama dan sebuah tiket makan malam berdua, di depan pintu.

Setelah beberapa jam, berlutut, Gundala melangkah gontai meninggalkan rumah tersebut….

Sementara itu…

Keluarga besar Sammy kelihatan begitu cemas. Semua tempat sudah dikunjungi, rumah sekolah, teman dan saudara terdekat juga sudah dihubungi, namun keberadaan Gundala masih misterius.

Sammy teringat dengan mantan kekasihnya dan yakin sekali, peristiwa minggatnya Gundala pasti ada hubungannya dengan Isabella. Untuk itu, Sammy segera menghubungi Isabella, untuk menanyakan keberadaan Gundala. Isabella terkejut setengah mati mendengar kabar Gundala minggat dari rumah Sammy.

Isabella tahu, hari ini adalah ulang tahunnya. Kemungkinan besar Gundala pergi mencarinya hingga ke kampung halaman. Bersama dengan Sammy dan keluarganya, mereka bergegas menuju ke rumahnya yang sudah kosong melompong sejak ditinggal wafat sang nenek beberapa waktu lalu.

Isabella memang tidak lagi mengurus rumah ini. Tapi suatu saat, dia berjanji akan kembali dan menikmati masa tuanya kelak di sini.

Sesampainya di kampung halamannya, Isabella terkejut melihat banyak barang yang disusun rapi di depan pintu. 

Dia terharu melihat betapa Gundala tidak pernah melupakan hari ulang tahunnya. Khusus untuk tahun ini, Gundala mempersiapkan semuanya dengan begitu baik demi kebahagiaan mama tercintanya.

Air mata berlinangan, bercucuran membasahi baju Isabella, tatkala dia mulai membaca satu persatu buku harian putera semata wayangnya. Rupanya dibalik gemerlapan dan keindahan materi yang diperoleh Gundala, hidup Gundala tidaklah sepenuhnya bahagia. Bara sekam yang disimpannya rapat-rapat selama ini, terkuak dari buku harian yang ditulisnya bersama dengan tetesan air mata dari remaja tampan tersebut.

Isabella bingung, hendak kemana mencari sosok Gundala… Tetangganya memberitahukan bahwa siang tadi memang Gundala ada berkunjung di sini. Setelah berlutut di depan pintu selama lebih dari 3 jam, dan tanpa menghiraukan nasehat para tetangga untuk beristirahat, Gundala meninggalkan rumah tersebut tanpa sepengetahuan tetangganya.

Isabella berpikir keras, memikirkan tempat yang sering dikunjungi Gundala sewaktu kecil dulu. Pikirannya melayang ke masa lalu, sambil mengingat-ingat kenangan indah masa lalunya bersama Gundala.

Tiba-tiba, Isabella teringat akan suatu tempat, yang menjadi awal cikal bakal perpisahan yang memilukan hidupnya.

Isabella menjerit : “Taman Bunga Lumbini…..”

Sammy melajukan mobil menuju taman bunga yang dimaksud Isabella dengan sangat kencang.

Di bungku panjang, tempat Isabella duduk memangku Gundala kecil dulu, terbaring sesosok anak remaja dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Suhu tubuhnya tinggi sekali, wajahnya putih pucat pasi dengan denyut jantung yang melambat. 

Sammy membopong tubuh lemah Gundala dan membawanya ke rumah sakit, diikuti oleh Isabella yang terus menerus menangis dan kedua orang tuanya.

Untunglah Gundala hanya mengalami serangan jantung ringan dan sedikit depresi, yang mengakibatkan dirinya jatuh pingsan. 

Dokter yang merawat Gundala memberikan suntikan obat-obatan dan berkata kepada Sammy : “Dalam waktu beberapa jam kemudian, pasti akan kembali pulih”. 

Isabella merasa lega. Semuanya dapat melepaskan ketegangan pikiran selama sehari setelah mendengarkan penuturan dokter tersebut.

Di lorong rumah sakit, orang tua Sammy menganjurkan Isabella untuk pulang sebelum Gundala sadar. Sammy hendak menahan Isabella, namun kedua orang tuanya menolak dengan alasan, jika Gundala sampai melihat Isabella kembali, Gundala pasti akan meronta untuk pulang bersama mamanya. 

Kondisinya bisa drop kembali dan mungkin nantinya dapat membahayakan keselamatan jiwanya. Sementara itu orang tua Sammy masih tidak rela melepaskan Gundala kembali ke pangkuan mamanya.

Demi keselamatan Gundala, Isabella harus lebih bisa menahan diri dan membiarkan Gundala berada di dalam pengasuhan keluarga besar Sammy.

Isabella meninggalkan halaman rumah sakit dengan perasaan sedih dan pilu disertai deraian air mata namun dirinya belum berniat untuk pulang sebelum memastikan Gundala pulih seperti sediakala. Isabella bersembunyi di balik pohon besar di samping rumah sakit.

Setelah dua jam menunggu, akhirnya, terdengar deru suara mobil Sammy meninggalkan rumah sakit. Isabella dapat bernafas lega, berarti putera kandungnya sudah sehat kembali. Barulah Isabella bersedia untuk pulang ke rumah. 

Saat Isabella melangkah menyeberangi jalan besar menuju halte bus di depan rumah sakit, tiba-tiba sebuah truk besar melaju sangat kencang dan “brukkkk”.

Gelap gulita….

(Bersambung ke Part 7)

Advertisements
This entry was posted in CERITA BERSAMBUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s