“PERIHNYA LUKA TIDAK SEPERIH HATI YANG NELANGSA”

(Part 2 : PENGORBANAN SEORANG IBU)<Minggu, 06 Maret 2016 OOR 22:17>

Di suatu pedesaan terpencil, jauh dari keramaian kota, Isabella menghabiskan waktu hidupnya bersama putera semata wayangnya, yang diberi nama Gundala.

Gundala adalah seorang anak yang bertubuh sehat dan berwajah tampan, mirip dengan ayahnya, Sammy.

Beberapa waktu lalu…

Sekembalinya dari Malaysia, Isabella memohon petunjuk dan restu dari Sang Nenek untuk meninggalkan kampung halamannya, memulai kehidupan baru bersama calon bayi yang masih berada di dalam perutnya.

Pengakuan dari Isabella atas kehamilannya di luar nikah dan pembatalan pernikahannya karena tidak mendaoat restu orang tua kekasihnya, tidak serta merta membuat Sang Nenek marah dan mengusirnya dari rumah. Sebaliknya, dengan penuh kebijaksanaan, Sang Nenek memberi nasehat kepada Isabella untuk tetap bertahan dan terus melanjutkan hidup demi sang buah hati.

Sang Nenek menawarkan agar Isabella tinggal di sebuah gubuk sederhana di kampung halaman tempatnya dilahirkan. Lokasinya jauh dari perkotaan dan sangat terpencil, di pinggiran kaki gunung.

Isabella mengangguk tanda setuju. Perpisahan yang sangat memilukan terjadi untuk kedua kalinya, setelah berpisah dengan sang kekasih, Sammy.

Kebersamaannya bersama Sang Nenek sejak Isabella masih kecil, membuatnya tidak dapat lagi menahan rasa haru. Isabella menangis terisak-isak, saat harus meninggalkan rumah yang telah memberinya banyak kenangan tak terlupakan..

Memulai kehidupan baru, di tempat baru dalam suasana yang baru, mengharuskan Isabella harus segera menyesuaikan diri untuk tetap “survive”.

Isabella : “Saya harus hidup… Saya harus dapat bertahan dan melalui semua cobaan ini, demi keberlangsungan hidup anakku..”

Berkat bantuan dari seorang tetangganya yang baik hati, Isabella berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai buruh cuci. Malam harinya, Isabella merajut ukiran kain dan hasilnya cukup lumayan sebagai tambahan penghasilan.

Kelahiran yang dinanti-nantikan telah tiba…

Uluran tangan dari tetangganya yang baik hati itu, sangat membantu melancarkan proses persalinan. Perlengkapan bayi juga disiapkan mereka untuk sang bayi.

Seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki lahir dengan selamat, dan diberi nama Gundala.

Gundala tumbuh normal seperti anak desa lainnya. Ketampanan dan wajah yang imut, membuatnya menjadi sesosok balita yang disenangi para tetangganya. 

Ketika Isabella bekerja, seringkali Gundala dititipkan kepada para tetangga secara bergantian. Mereka dengan sukarela dan penuh keikhlasan merawat Gundala. Hal ini tentunya cukup meringankan beban Isabella, terutama dalam urusan menyediakan kebutuhan susu dan popok. Sebagian sudah ditanggung oleh para tetangganya yang baik hati.

Pada usia empat tahun, tiba-tiba Gundala mengalami sakit keras. Suhu tubuhnya begitu tinggi, sering mengigau tidak jelas dan berulang kali menggeretakkan gigi atas bawah, sehingga membuat Isabella merasa sangat khawatir. 

Dua hari telah berlalu… Kondisi Gundala tidak membaik, demamnya tetap tinggi. Isabella tidak punya pilihan lain selain membawa Gundala ke rumah sakit di kota.

Hasil pemeriksaan dokter, mengharuskan Gundala untuk opname di rumah sakit selama beberapa hari.

Selain mengkhawatirkan kondisi Gundala, Isabella juga bingung memikirkan masalah biaya rumah sakit yang membengkak. Uang tabungan yang selama ini ditabungnya untuk pendidikan Gundala, telah habis terkuras guna menutupi biaya pengobatan Gundala di rumah sakit.

Isabella berniat membawa pulang Gundala karena telah kehabisan uang, walaupun kondisi Gundala masih belum pulih. Namun, beberapa orang tetangganya menganjurkan Isabella untuk tidak melakukan hal yang dapat membahayakan keselamatan buah hatinya.

Beberapa tetangga dengan sukarela memberikan pinjaman, untuk menutupi biaya rumah sakit, harapan mereka agar Gundala dapat pulih seperti sedia kala.

Seorang tetangganya, kebetulan seorang ahli pengobatan alternatif menganjurkan Isabella untuk membuat ramuan sup tradisional untuk mempercepat kesembuhan dan memperkuat ketahanan tubuh Gundala, agar tidak gampang sakit.

Ramuan tersebut terdiri dari beberapa jenis tanaman yang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kaki gunung, dekat kediaman Isabella, dimasak bersama daging sapi atau lembu.

Sesampai di rumahnya, Isabella merasa sedih sendiri. Menangis meratapi kepiluan hidupnya bersama Gundala. Uangnya telah habis, dan dia tidak sanggup lagi untuk membeli daging sapi sebagai bahan ramuan obat.

Rasa gengsi dan perasaan sungkan, membuat Isabella enggan untuk meminjam uang dari tetangganya. Lagipula, pinjaman yang diberikan para tetangga sebelumnya, juga belum dikembalikan. Untuk mengutang kepada penjual daging, juga tidak mungkin lagi. Terakhir kali, sang penjual daging sudah memberi ultimatum kepadanya untuk segera melunasi hutangnya sebelum mengutang lagi.

Dalam keheningan malam yang beriramakan sedu sedannya, terbersit sebuah ide yang cukup “gila”.

Isabella segera mencari alkohol yang ada di rumahnya, kemudian mengambil sebilah pisau dapur, beberapa potong kapas dan perban, serta dua potong kain panjang.

Hujan turun dengan amat lebat, disertai petir yang menggelegar bersahut-sahutan memekakkan telinga.

Sepertinya alam pun merasakan kepedihan yang dialami oleh seorang anak manusia yang tidak berdaya menghadapi kegetiran hidup. Guntur yang menyambar-nyambar seakan mengingatkan Isabella untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan dan menyiksa dirinya…

Isabella sudah bertekad bulat…

Setelah membersihkan pisau dapur yang sedikit berkarat, dengan menggunakan alkohol, Isabella akan segera mulai melaksanakan aksinya.

Sepotong kain panjang diikatkan seerat mungkin melilit paha kanannya, kain panjang yang lain dililitkan ke mulutnya hingga ke belakang untuk mengurangi suara teriakan ketika sakit yang hebat datang mendera.

Dengan penuh keyakinan, Isabella mengiris sekerat daging pahanya….

Seketika darah berhamburan keluar membasahi lantai. Isabella segera menutup luka menganga dengan daun kelor yang telah diremas menjadi halus dan menutupnya dengan kain, kapas dan perban.

Rasa sakit yang teramat sangat tidak dihiraukan Isabella. Di dalam benaknya, yang penting putera semata wayangnya dapat segera sembuh.

Hujan lebat terus menerus turun, seakan ikut bersedih dan terharu dengan pengorbanan Isabella. 
Lebatnya hujan dan gelegar petir yang tiada henti, menyebabkan rintihan kesakitan Isabella tidak sampai terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri…

Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh seorang ibu muda, yang begitu menyayangi dan mencintai buah hatinya…

—————–$$$—————-
” Wanita miskin itu… Yang hanya memakai sendal jepit, Yang tidak pernah memakai make up, Yang selalu memakai baju lusuh dan koyak Yang membiarkan telapak tangannya menjadi kusam dan tidak mulus, Yang merendahkan hatinya menjadi pembantu orang lain, Dia adalah ibuku”

” Wanita cantik yang berhati mulia itu…. Dia bertarung siang dan malam, Mengais rezeki untuk penghidupanku, Membiarkan dirinya kelaparan agar diriku kenyang, Menahan sakit dan lelah hingga ke peraduannya, Aku mencintainya, Dia adalah ibuku tercinta…”

(Bersambung ke part 3)

Advertisements
This entry was posted in CERITA BERSAMBUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s