“KOK SESAMA MENTERI SALING MENYIKUT?”

<Sabtu, 05 Maret 2016 OR 14:40>

Menteri yang notabene adalah pembantu presiden seharusnya saling mendukung kebijakan yang diamanatkan oleh boss mereka.

Manakala terjadi perbedaan pandangan seyogyanya diselesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan gaya sindir-sindiran, persis seperti yang dilakukan anak muda dengan mantannya.

Melihat usia yang tidak muda lagi, tidak pantas mereka saling “menghantam” dan saling “menyikut”. Kedewasaan pola pikir dan kebijaksanaan harus diutamakan, terutama dalam menyikapi konflik antar instansi.

Jadi teringat dengan masa lalu, ketika menjadi pengurus Senat Mahasiswa USU, saat berkumpul dalam sidang rapat, muncul begitu banyak perbedaan pendapat untuk satu tujuan yang sama.

Hempasan tinju di atas meja, caci maki yang sportif tanpa sedikitpun mengeluarkan umpatan kata-kata kotor dan tidak jarang lemparan benda-benda termasuk kursi mewarnai agenda sidang mahasiswa.

Maklumlah, usia masih muda dengan emosi kejiwaan yang masih belum stabil, menghasilkan tindakan-tindakan yang kurang elok dipandang.

Walkout lah jalan satu-satunya ketika pendapat sudah tidak dapat diakomodir oleh peserta sidang.

Setelah selesai bersidang, pihak yang berkonflik kembali duduk bersama menikmati hidangan dalam suasana keakraban, serasa tidak pernah terjadi konflik sebelumnya.

Indah bukan…

Konflik antar menteri bukan hanya terjadi di era pemerintahan saat ini saja. Namun metode pengelolaan konflik yang elegan, tidak sampai ke telinga rakyat, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang beragam. Dan pastinya, konflik ini akan menjadi sasaran empuk bagi lawan politik untuk melancarkan serangan.

Saya sedikit ragu dengan pendapat berbagai pengamat yang mengatakan bahwa Presiden Jokowi sengaja memilih seorang pembantunya, bertindak sebagai mainan “ketapel” untuk mengkepret para menteri yang sudah tidak sejalan dengan kebijakannya, atau melenceng dari program nawacita.

Presiden Jokowi memegang penuh atas semua kekuatan pemerintahan, dengan sekali teken surat reshuffel, seharusnya dapat menimbulkan “rasa takut” di kalangan para menteri jika sudah berniat untuk mbabelo. Jangan pedulikan partai yang terus menerus merongrong kebebasan presiden memilih pembantunya. Toh, hak prerogatif mutlak hanya dimiliki seorang presiden.

Hayoo, presidenku…

Kamu bisa…!!!

Kewibawaan seorang Presiden Jokowi akan diuji dalam menangani konflik internal di lingkungan kabinet yang dipimpinnya.

(Salam Kebangsaan – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s