“PRESIDEN MATAHARI YANG MERAKYAT”

<Rabu, 02 Maret 2016 OR 14:44>

Dalam kunjungan kerja di Sumatera Utara tanggal 01-02 Maret 2016, ternyata Presiden Jokowi khusus datang untuk meninjau pembangunan di Danau Toba. Memetakan kebutuhan dan memastikan arahan perintah yang disampaikan kepada para menteri beberapa waktu lalu, berjalan sesuai yang diinginkan beliau.

Danau Toba akan disulap menjadi destinasi kelas dunia. Tugas perdana yang paling pelik adalah pembangunan akomodasi dan transportasi yang mumpuni, salah satunya percepatan pembangunan Bandara Silangit agar dapat didarati oleh pesawat berbadan besar, bukan lagi oleh pesawat perintis.

Dan di era pemerintahan Presiden Jokowi lah mulai digerakkan pembangunan Wisata Danau Toba dengan sepenuh hati. Hebat? Jelas iya… Bangga? Tentu dong…

Seperti biasanya dalam setiap kunjungan ke daerah, Presiden Jokowi yang sering dihina para haters sebagai sosok yang suka pencitraan, tidak pernah ketinggalan untuk turun dari kendaraan dinasnya, menyapa, bersalaman, bercengkerama serta membagikan berbagai hadiah buku, kaos dan lain sebagainya.

Kegiatan sederhana ini memang bisa disebut pencitraan, pencitraan yang merakyat. Apakah itu salah?

Tanpa sekat dan tanpa batas, beliau menghampiri rakyatnya, sekedar melepas kerinduan rakyatnya untuk bertatapan langsung dengan pemimpinnya.

Dalam kegiatan yang super padat, Presiden Jokowi masih sempat-sempatnya turun ke daerah. Apakah ini pencitraan?

Apakah ada pemimpin terdahulu yang segesit dan selincah beliau, rajin menjenguk rakyatnya? Sudah 4 kali beliau berkunjung ke Sumatera Utara, dan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi rakyat di sini, sekaligus sebagai ajang penghiburan di kala pemimpinnya berulang kali harus meninggalkan tugasnya karena bertugas di hotel prodeo. Miris dan malu bok..!!!

Saya adalah pendukung presiden yang memiliki legitimasi sebagai pemenang pemilu dan presiden yang bekerja untuk rakyat. Kebetulan saat ini Jokowi berperan sebagai Presiden. Seandainya Prabowo, Fadli Zon, Ahmad Dhani, Farhat Abbas, Polan, Polin atau Tung Tung yang menjadi presiden, saya juga pasti akan memberikan dukungan sepenuhnya, asalkan orientasinya bekerja untuk rakyat dan berakhlak baik. Apalah arti sebuah nama. Gitu aja kok….

Jangan pula dikatakan saya tidak pernah mengkritik Presiden Jokowi. 

Saat Presiden Jokowi melakukan sesi acara tanya jawab di luar negeri, saya pernah mengkritisi mengapa seorang presiden tidak mau menggunakan seorang penerjemah. Akibatnya beliau sendiri merasa kelabakan menjawab pertanyaan yang barangkali belum dimengertinya, dengan melimpahkan pertanyaan tersebut kepada menteri yang mendampinginya. 

Masih ingat dalam benakku, saat masih duduk di SD…

Kami semua berduyun-duyun memadati jalan-jalan yang akan dilalui mantan Presiden Suharto dulu, dan berharap beliau turun sejenak untuk menyalami kami yang telah berpanas-panas menyambut kedatangan beliau. Namun, beliau tidak pernah turun dari mobil kepresidenan di tengah jalan, tidak pernah membagikan buku maupun baju kaos untuk kami.

Demikian juga dengan beberapa presiden sesudah era Suharto, tidak pernah turun dari mobil kepresidenan hanya sekadar menyapa, bersalaman dan membagikan sesuatu untuk rakyatnya.

Memang Presiden Jokowi berbeda dengan yang lainnya.

Di saat yang lainnya, senang berada di ruangan ber-AC, beliau rela turun berpanas-panasan menjumpai rakyatnya.

Ingin rasanya menobatkan beliau sebagai Presiden Matahari yang berani menantang terik dan panas matahari kapan dan dimana saja.

(Salam Pencitraan – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s