“KISAH SEPIRING NASI LEMAK”

<Rabu, 02 Maret 2016 EOR 07:59>

Di suatu kota kecil, hiduplah seorang anak yatim miskin yang bernama Sinchan. Sehari-hari Sinchan membantu ibunya mengumpulkan barang-barang bekas.

Hasil dari penjualan barang-barang bekas ini digunakan untuk membantu Sang Ibu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan sekolahnya 

Suatu hari, Sinchan merasa sangat kelaparan. Sejak berangkat dari rumahnya untuk berkeliling kota, Sinchan tidak sempat menikmati sarapan pagi karena ibunya sedang sakit.

Dengan hanya mengantongi selembar uang 2000 rupiah, Sinchan bergerak menuju ke sebuah warung makan di pinggir jalan.

Rencananya, Sinchan ingin membeli segelas teh manis saja, sekadar untuk menghalau sejenak rasa lapar yang mendera, sebelum nantinya Sinchan berhasil mendapat uang dari hasil menjual barang yang dikumpulkannya hari ini.

Warung makanan sederhana itu dijaga oleh seorang ibu yang masih berusia muda, mungkin sekitar 30 tahunan.

Dengan mengumpulkan sedikit keberanian dan berharap pemilik warung mau menjual teh manis kepadanya dengan harga 2000 rupiah, bukan 5000 rupiah seperti harga normal.

Sinchan : “Bu, bolehkah saya membeli segelas teh manis dengan harga 2000 rupiah? Saya sangat lapar…”

Pemilik warung dengan sebuah tangan kiri yang cacat karena buntung hingga pergelangan tangan, terus memandangi tubuh Sinchan mulai dari atas rambut hingga ke bawah kaki.

Akhirnya pemilik warung tersebut tersenyum mengangguk dan segera menuangkan segelas teh manis. Ibu yang baik hati tersebut juga memberikan sepiring nasi lemak untuk Sinchan.

Sinchan : “Cukup segelas teh manis saja, Bu… Nasi lemak ini, Ibu simpan saja agar dapat dijual kembali kepada pembeli yang lain. Dengan memberikan segelas teh manis saja, Ibu sudah mengalami kerugian 3000 rupiah…”

Pemilik warung : “Tidak apa-apa… Saat ini pastinya kamu sudah sangat kelaparan. Segelas teh manis tidak akan mampu membuatmu kenyang. Makan saja nasi lemak yang Ibu sajikan. Jangan malu-malu dan sungkan, Adik manis…”

Sinchan mengiyakan dan mulai melahap sepiring nasi lemak yang dirasakan sebagai makanan terlezat hari ini.

Setelah menghabiskan sepiring nasi lemak dan segelas teh manis, Sinchan segera menyerahkan uang 2000 rupiah yang berada di kantong baju depannya.

Pemilik warung menolak halus : “Simpan saja uang ini untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Ibuku dulu sering mengajarkan saya, tidak boleh menerima bayaran apapun ketika berbuat kebaikan…”

Sinchan sangat terharu.

Dilihatnya wajah teduh dari Ibu pemilik warung yang sudah mulai menampakkan uban putih di atas kepalanya.

Sinchan memeluk pemilik warung dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Direngkuhnya telapak tangan kanan Ibu tersebut, lalu diletakkan di depan dahinya, sembari menitikkan air mata penuh haru.

Sebelum meninggalkan warung tersebut, Sinchan sempat menoleh ke belakang menatap wajah dan mata Sang Ibu, terutama ke arah tangan kirinya yang cacat.

Dalam hati, Sinchan berkata : “Terima kasih atas sepiring nasi lemak yang sangat lezat. Saya berjanji akan membalas kebaikan Ibu pemilik warung setelah saya sukses nanti…”

20 tahun kemudian…

Di sebuah rumah sakit swasta di kota kecil, seorang wanita yang berumur 50-an tahun, mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota ini sudah tidak sanggup lagi menanganinya.

Akhirnya pihak rumah sakit mengirim pasiennya ke kota besar, dimana terdapat seorang dokter spesialis yang dinilai mampu untuk menangani penyakit langka tersebut. 

Pada saat Sang Dokter mendengar nama kota asal wanita tersebut, tiba-tiba angannya berputar ke belakang mengingatkan akan sesosok wanita yang pernah memberinya sepiring nasi lemak di kala dirinya menderita kelaparan.

Dokter muda yang ganteng itu segera bergegas meninggalkan ruangannya menuju kamar pasien wanita itu.

Hatinya berdegub kencang tatkala dirinya hendak membuka pintu kamar. Dengan perlahan Sang Dokter mengetuk pintu dan melangkah ke dalam.

Betapa terkejut dirinya, ketika mendapati bahwa wanita yang sedang terbaring lemah di atas tempat tempat tidur adalah ibu pemilik warung yang pernah menolongnya. 

“Benar sekali…. Ibu pemilik warung yang baik hatinya. Tangan kirinya cacat. Selama beberapa tahun terakhir beberapa kali beliau hadir dalam mimpiku,” dokter itu bergumam dalam hati.

Dengan penuh telaten, Sang Dokter memeriksa kondisi seluruh tubuh wanita itu. 

Bergegas kembali ke ruangannya, Sang Dokter segera memerintahkan perawat untuk mencurahksn perhatian yang lebih untuk pasien istimewanya.

Dengan semangat menggebu-gebu Sang Dokter mengerahkan segala kemampuan terbaik yang dimiliki untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. 

Setelah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan, akhirnya wanita tersebut berhasil disembuhkan.

Sang Dokter meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya.

Setelah memeriksa satu persatu tagihan dengan seksama, lantas Sang Dokter menuliskan sesuatu kalimat pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. 

Sementara itu, setelah dinyatakan sembuh dan boleh meninggalkan rumah sakit, wanita itu dihantui kecemasan akan tagihan pengobatannya selama di rumah sakit. 

Ketika pegawai rumah sakit menyodorkan sebuah amplop berisi semua tagihan biaya di rumah sakit, wanita itu sangat takut untuk membuka amplop tersebut.

Wanita itu sangat yakin bahwa tidak mungkin dia akan sanggup membayar seluruh tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Anak perempuannya, yang selama ini setia menemaninya, terdiam membisu melihat dengan jelas, bagaimana jemari tangan ibunya bergemetaran saat hendak membuka amplop tersebut.

Saat melihat ke bawah surat tagihan, wanita itu terkejut dengan mata membelalak ke atas, melihat nominal rupiah yang begitu besar. LUNAS…!!!

Namun seketika senyum manisnya mengembang lebar ketika pandangan matanya tertuju ke pojok atas surat tagihan yang bertuliskan : 
“Terima kasih atas sepiring nasi lemak yang ibu berikan dengan ikhlas dulu. Gurihnya nasi lemak tersebut tidak pernah hilang dari ingatanku hingga kini. Tertanda : Dr. Sinchan Marica Hehe.”

(Salam Ketulusan – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s