“MAUT ITU ADA DI SEBELAHMU”    Edisi 7 : Pengalaman Pribadi

<Selasa, 01 Maret 2016 OR 15:11>

Hidup dalam perputaran roda dunia yang bergerak kencang tanpa henti, sering kali memaksa manusia untuk bergerak lebih cepat agar tidak sampai “ketinggalan kereta”.

Berlomba-lomba memacu kendaraan sekencang mungkin untuk sampai di tujuan, tanpa mempedulikan keselamatan diri dan orang lain.

Bagi sebagian orang, melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi di atas aspal hitam akan meningkatkan hormon adrenalin dan bagi mereka perbuatan ini amat menyenangkan dirinya.

Namun…

Di saat mereka menganggap bahwa “mengebut” adalah perbuatan yang mengasyikkan, sebebarnya mereka belum memiliki pengalaman berhadapan dengan malaikat penjemput maut. 

Andai saja mereka mengalami sendiri kejadian yang hampir merenggut nyawa, pasti akan membuat mereka bersyukur sudah diberi karunia kehidupan atau telah diberikan “kesempatan kedua” untuk menikmati hidup.

Sobatku yang budiman…

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menyaksikan sebuah pemandangan yang membuatku bulu kudukku berdiri. Hatiku berdegub kencang dan tanganku terasa bergetar.

Saat itu, dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikan dampak dari sebuah kecelakaan tragis melibatkan sepasang anak manusia. Yang perempuan sudah diam membisu dengan kepala pecah, sedangkan yang laki-laki berlumuran darah dan bergerak-gerak menggelepar selama beberapa saat dan akhirnya diam terbujur kaku melepaskan nafas terakhirnya, 

Meski hanya beberapa saat, kejadian itu cukup untuk membuatku dan mungkin banyak pengendara bermotor yang melintas, menjadi sadar untuk lebih berhati-hati dalam mengemudi dan segera menurunkan kecepatan kendaraan.

Hmmm…

Sering kali orang belajar bukan dari buku atau tontonan di televisi, namun pembelajaran yang paling menyentuh hingga ke relung hati ketika orang tersebut melihat langsung suatu kejadian dengan mata sendiri. 

Inilah yang saya alami. Sejak saat itu saya mulai meningkatkan kehati-hatian ketika sedang mengemudi. Kejadian tragis tersebut sangat membekas dalam benakku. 

Sementara itu..

Masih banyak orang berkhayal bahwa menjelang kematian dirinya kelak, mereka bakal dikerubungi oleh orang-orang tersayang, suami, isteri dan anak-anaknya, kerabat dan handaitaulan serta sahabat-sahabat terdekat.

Bagaikan di film sinetron, mereka yang sudah berkumpul akan menangis sambil memberikan doa dan nasehat terakhir, menggenggam jari tangan seerat-eratnya untuk melepaskan kepergian orang tersayang dan berharap dia bisa masuk surga.

Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Sebaliknya banyak orang harus meninggalkan jasadnya dalam kondisi mengenaskan dan di bawah tatapan mata orang yang tidak dikenal.

Renungkanlah…

Seorang Ayah yang berniat mengantarkan sarapan buat sang buah hati di sekolah, harus meregang nyawa, di pinggiran jalan raya karena menabrak trotoar dengan hempasan keras di kepala.

Seorang Suami harus berpisah selama-lamanya dengan isteri tercinta karena mengebut, ingin menyelip mobil di depannya dengan sembrono dan akhirnya disambar truk gandeng ketika hendak menjemput sang isteri pulang dari kantor.

Seorang Ibu yang terus menerus menunggu kepulangan puteranya pergi membeli obat, hingga akhirnya harus merelakan kepergian anaknya selama-lamanya karena terjatuh dengan kepala terbentur ke aspal.

Beribu-ribu kisah pilu, penantian dari seseorang yang menantikan kehadiran orang yang dikasihinya. Namun semua berakhir duka akibat kelalaian dalam mengendarai kendaraan bermotor.

Banyak orang terbunuh karena kecerobohan dirinya sendiri…

Mereka terpaksa harus meninggalkan orang-orang yang menantikan kehadiran mereka serta anak-anak yang masih membutuhkan perlindungan dan kasih sayangnya.

Sobatku yang budiman…
Cobalah untuk bersahabat dengan kenyataan…

Maut itu ada disebelahmu..
Maut itu tidak bergerak dan tidak berkata-kata…
Maut itu tetap berada di tempatnya untuk menyambut kehadiran penghuni baru di rumah kediamannya.

Saat kita lengah, maut akan tersenyum sambil menggandeng tangan kita…

(Salam Harmoni – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s