“AKIBAT SUKA BERBOHONG”

<Selasa, 01 Maret 2016 EOR 08:41>

Alkisah…

Ada seorang penggembala yang bernama Gentong Tutihong, nama yang sesuai dengan perawakannya yang besar, gendut dan memiliki perut besar mirip dengan sebuah gentong.

Setiap hari Gentong Tutihong ditugaskan oleh ibundanya menggembalakan sepuluh ekor kambing. Dengan menggunakan sebuah suling bambu, Gentong sangat cekatan mengarahkan setiap langkah kambing-kambingnya ke lokasi penggembalaan.

Tempat favoritnya untuk bersantai sambil mengamati hewan ternaknya adalah di sebuah lapangan rumput di pinggir kampung yang berdekatan dengan kaki gunung.

Pada suatu hari, Gentong berniat mengerjai orang-orang kampung. Dia lalu memanjat pohon yang cukup tinggi. 

Dari atas pohon, Gentong berteriak sekencang-kencangnya, ”Tolong…tolong…ada harimau, ada harimau hendak memakan kambing saya… Toloooong…!”

Orang-orang kampung mendengar teriakan Gentong Tutihong dan segera berlarian ke arah lokasi penggembalaan. 

Mereka melongok kesana kemari untuk mencari asal suara teriakan Gentong. Bahkan ada yang berteriak : “Gentong hilang…!!! Mungkin dia sudah dimakan harimau. Sungguh kasihan anak yatim ini…”

Dari atas pohon, Gentong tidak dapat lagi menahan gelak tawanya. Suaranya sangat mengejutkan penduduk kampung yang sudah berkumpul dengan berbagai jenis senjata tajam.

Warga kampung melihat kambing-kambing milik Gentong sedang asyik-asyiknya menikmati rumput hijau di lapangan.

”Mana harimaunya, Nak Gentong?” tanya orang-orang kampung.

Gentong Tutihong tertawa. ”Hehehehe, ada yang tertipu…ada yang kena noko…!”

”Dasar anak sialan. Berani-beraninya membohongi orang tua. Nanti kamu bisa kualat…!” Orang-orang kampung merasa sangat kesal dan bersungut-sungut, lalu kembali ke rumah masing-masing.

Beberapa hari kemudian, Gentong berniat mengulangi perbuatannya yang dulu karena merasa sangat bosan menunggui kambing-kambingnya yang sedang melahap rumput hijau.

Gentong segera memanjat pohon yang tinggi, lalu berteriak dengan suara nyaring, ”Tolong, tolong, ada serigala hendak memangsa kambing saya… Tolongggg….!”

Orang-orang kampung mendengar teriakan Gembul, tapi mereka tidak bergeming. Mereka diam saja dan meneruskan aktifitas sehari-hari dengan santai. Mereka masih merasa trauma dikerjain Gentong Tutihong beberapa hari lalu.

Gentong menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang berniat menolongnya. Namun dia tidak patah semangat dan terus berteriak-teriak. Lagi dan lagi sambil memukul-mukulkan suling bambunya ke batang pohon…

Karena Gentong terus berteriak, orang-orang kampung mulai ragu dan khawatir jangan-jangan memang ada serigala hendak memangsa kambing-kambing si Gentong Tutihong. Maka penduduk kampung beramai-ramai mendatangi Gentong di lapangan, meski jumlahnya lebih sedikit daripada sebelumnya.

Sesampainya di lapangan, ternyata keadaan baik-baik saja. Tidak ada jejak serigala dan tidak kelihatan ceceran darah di atas rumput.

Merasa dibohongi, beberapa pemuda terpancing emosinya hendak memukul Gentong. Untunglah ada orang tua yang menghalangi perilaku main hakim sendiri terhadapa anak usil ini.

“Sungguh tidak bermoral dirimu, Nak Gentong. Suatu saat engkau pasti akan mendapat hukuman atas perilakumu ini…”, demikian hujatan dari orang-orang kampung yang sangat marah karena untuk kedua kali merasa dikibuli oleh si Gentong.

Pada suatu hari, muncul segerombolan macan tutul, turun dari gunung dengan kondisi sangat kelaparan. 

Gerombolan macan tutul tersebut datang ke padang rumput, tempat Gentong Tutihong menggembalakan kambing-kambingnya.

Gentong sangat kaget melihat begitu banyak hewan predator yang buas. 

Gentong bergegas naik ke atas pohon untuk menyelamatkan diri.

Dari atas pohon, Gentong berteriak histeris sambil menangis ketakutan : ”Tolooong….tolooong, ada macan sungguhan sedang memakan kambing-kambing saya. Tolooong… tolooong….!”

Orang-orang kampung mendengar teriakan Gentong Tutihong, namun mereka tak peduli dan tetap dengan aktivitasnya masing-masing.

Gentong terus berteriak, namun tidak ada seorangpun yang datang. 

Dengan perasaan sangat sedih, Gentong menyaksikan satu per satu kambing miliknya dimangsa oleh si penguasa hutan. 

Setelah gerombolan macan tutul itu kenyang dan pergi meninggalkan lapangan yang berceceran darah segar, Gentong turun ke bawah. Hanya tersisa seekor kambing dari sepuluh kambing yang digembalakan.

Dengan nada pilu, Gentong menangis tersedu-sedu, sambil menuntun kambingnya yang tinggal seekor. 

Sekarang Gentong baru menyadari dan menyesali perbuatannya dulu yang suka membohongi orang lain.

Sesampainya di kampung, seorang pemuda kampung berkata kepadanya, “Kualat kamu Dik… .Inilah akibat dari perbuatan suka berbohong….” 

____________________________

Apa kabar politisi kita?

Sebagai penduduk kampung yang polos, berulangkali kita berniat membantu kinerja para politisi (si Gentong), namun berulangkali juga kita dikibuli oleh mereka, hingga akhirnya banyak diantara kita merasa lebih baik cuek dan tidak usah peduli lagi.

Berharap ada politisi lain yang berperangai kejam dan sadis mirip macan akan segera memangsa politisi yang culas dan penipu.

(Salam Kejujuran – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s