“FILOSOFI KARET : JADILAH KARET, JANGAN MENJADI BESI”

<Senin, 29 Februari 2016 OR 07:57>

Sesuai kenyataan, karet itu hampir kalah segala-galanya dari besi.

Dilihat dari bentuknya, sudah pasti besi jauh lebih kuat, keras dan kokoh dibandingkan karet yang lunak, dapat melar dan bersifat fleksibel.

Dibandingkan harganya, besi jauh lebih mahal dibandingkan karet.

Dibandingkan kegunaannya, semua orang pasti setuju jika besi lebih berguna dari karet.

Namun…

Ada satu sisi karet yang tidak dimiliki oleh besi yaitu sifat kelenturannya.

Karet dapat memaju-mundurkan dirinya mengikuti arah yang diinginkan pengguna. 

Sedangkan besi bersifat sangat kaku, keras dan sulit diubah bentuknya kecuali dengan dipanaskan atau dibakar dalam suhu teramat tinggi terlebih dahulu.

Kemampuan karet memelarkan diri dan menyesuaikan bentuknya sesuai dengan bentuk wadah atau sesuatu benda pastilah tidak mungkin diikuti oleh besi.

Dalam konteks pergaulan dan pekerjaan, kita harus memilih untuk menjadi karet daripada besi.

“Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Sebuah kalimat peribahasa lawas mengajarkan kita untuk menghormati adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku di suatu daerah / lingkungan.

Peribahasa ini sesuai dengan filosofi karet yang mengajarkan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan di mana pun kita berada.

Belajarlah menjadi sebuah karet yang mampu beradaptasi di lingkungan apapun…

Kita tidak boleh memaksakan kehendak dan kemauan secara egosentris dalam lingkungan pergaulan dan pekerjaan sehari-hari.

Jangan pula kita membawa kebiasaan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sekitar kita.

Lingkungan pekerjaan yang tertib, sehat dan disiplin tidak boleh dirusak oleh kebiasaan diri yang buruk.

Persoalannya, bagaimana jika kebetulan kita berada dalam lingkungan yang buruk? 

Haruskah kita membiarkan diri kita, menggadaikan harkat, martabat, kehormatan dan idealisme dengan mengikuti alur kebiasaan di lingkungan kerja yang penuh dengan kemunafikan dan begitu koruptif?

Tentu saja tidak boleh…

Sesuai dengan prinsip karet yang dapat kembali ke bentuk semula, kita harus mempertahankan komitmen untuk tidak mengikuti arus dalam lingkungan yang buruk dan tidak sesuai dengan hati nurani.

Jangan memelarkan karet (diri) mengikuti kemauan orang-orang jahat tersebut. Bertahanlah dengan prinsip hidup kita, dan berusahalah mengajak mereka kembali ke jalan yang benar.

Jika memiliki power (kekuatan) dan keyakinan, paksa dan ikat mereka dengan menggunakan “karet” seerat-eratnya agar mereka tidak lagi berbuat kejahatan dan segera meninggalkan semua perbuatan yang tidak baik.

Dan jika kita tidak mempunyai power (kekuatan) dan keyakinan, tinggalkanlah lingkungan tersebut, dengan masih membawa nilai semangat idealisme yang tinggi.

Percayalah…

Dengan kemampuan beradaptasi yang baik, kita pasti mampu bersikap lebih tenang di saat sedang menghadapi situasi sulit.

Dengan berbekal sifat lentur dan dapat kembali ke bentuk semula seperti karet, diharapkan kita dapat menjadi sosok manusia yang lebih bijak dan adaptif.

Ketajaman naluri dan nalar akal yang sehat, akan mampu mengarahkan kita untuk mengubah kondisi yang tidak menguntungkan menjadi sebuah peluang yang bermanfaat bagi kita dan lingkungan.

Berlatihlah untuk mengubah kebiasaan diri dalam situasi, karakter, kebiasaan dan lingkungan yang berbeda. 

Selamat pagi sobatku…
Selamat beraktifitas dengan mengadopsi sifat kemelaran sebuah karet yang adaptif, berdedikasi, sportif dan pantang menyerah…!!!

(Salam Harmoni – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Filosofi, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s