“BALAS BUDI”

<Sabtu, 27 Februari 2016 EOR 09:04>

Dalam sebuah pertengkaran, seorang suami berkata pada istrinya, “Jika kamu baik kepadaku, aku pasti akan baik juga kepadamu…”

Sang isteri tidak mau kalah, menyolot dengan suara lebih keras : “Jika kamu berbuat sepuluh kebaikan kepadaku, maka aku akan berbuat seratus kebaikan kepadamu”.

Sang suami membalas : “Mengapa kamu selalu membalas dengan perlakuan buruk atas tindakanku yang tidak menyenangkan hatimu?”

Sang isteri menyahut : “Sekali saja kamu menyakitiku, takkan kumaafkan dirimu seumur hidupku. Jika kamu baik kepadaku, seluruh jiwa dan raga ini akan kuserahkan untukmu”.

Pertengkaran yang tiada berujung ini karena tidak ada yang mau mengalah, berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan mereka.

Masalah sepele, jika tidak disikapi dengan bijaksana akan berakhir petaka.

Sangat manusiawi sekali, jika seseorang akan membalas kebaikan orang lain sesuai dengan perbuatan baik yang diterimanya.

Misalnya, kebaikan orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak dibalas dengan berbakti kepadanya atau kebaikan sahabat dibalas dengan mengasihinya atau kebaikan tetangga dibalas dengan sikap lebih peduli kepada mereka.

Hmmm…

Apakah selama ini CINTA KASIH kita hanya untuk membalas perbuatan baik dari orang lain saja?

Apakah istimewanya, membalas baik budi orang hanya karena mereka terlebih dahulu berbuat baik kepada kita? Dimana letak kehebatannya? Bukankan perbuatan balas budi kebaikan merupakan hal yang lumrah dan sudah jamak dilakukan oleh banyak orang.

Nah…

Bagaimana jika sebaliknya, yang diterima adalah perlakuan buruk dan tidak menyenangkan hati kita? 

Jika orang lain menyakiti perasaan, apa yang bakal kita lakukan? 

Bagaimana bila tindakan yang dilakukan orang lain bukannya menguntungkan kita, sebaliknya malah mendatangkan kerugian di pihak kita? 

Apakah kita harus membalasnya dengan perbuatan buruk juga?

Banyak diantara kita pasti akan mengatakan : “Ya, wajar dong. Toh mereka sudah jahat kepada kita, ngapain kita harus baik kepada mereka?”.

Jika pembalasan ini kita lakukan, maka kita ini tidak ubahnya dengan sepasang suami isteri dalam cerita di atas yang selalu bertengkar gara-gara balas membalas perbuatan buruk di antara mereka. Semilir angin cinta sudah menjauh dari udara yang mereka hirup setiap saat.

Mari ubah pola pikir kita…!!! 

Maukah kita tetap berbakti pada orang tua, meski diabaikan? 

Masihkah kita mau mencintai negeri ini padahal kenyataan hidup yang dijalani tidak sesuai dengan impian?

Maukah kita tetap mengasihi pasangan, meski sering tersakiti baik disengaja maupun tidak disengaja olehnya? 

Maukah kita tetap peduli, meski orang lain membenci kita?

Niat untuk melakukan perbuatan baik terlebih dahulu walau sebelumnya telah disakiti, memang tidak semudah mengucapkannya…

Ingatlah…

Mengasihi sesama bukan sebuah pilihan, tapi adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan ajaran semua agama.

Marilah kita mulai berbuat kebaikan dahulu, tanpa perlu menggunakan kalkulator untuk menghitung untung ruginya.

Semerbak harum CINTA KASIH akan menghiasi udara pagi yang sejuk di kala kita menyertakan KASIH SAYANG dalam setiap hembusan nafas.

Selamat pagi sobatku semua..

Selamat beraktifitas dan tetap semangat…

(Salam Cinta Kasih – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s