“SANG PENCURI MIMPI (IMPIAN) DORA”

<Kamis, 25 Februari 2016 EOR 22:23>

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang gadis muda (Dora) yang sangat suka menyanyi. 

Suaranya sangat merdu dan mampu menghipnotis para pendengar. 

Kemampuan Dora dalam mengolah suara merupakan bakat turunan dari kedua orang tuanya. Namun sayang kedua orang tuanya telah lama meninggal karena mengalami kecelakaan pesawat terbang. Bahkan jasad keduanya tidak dapat diketemukan karena pesawat tersebut jatuh ke dalam samudera luas.

Kehidupannya sepeninggal kedua orang tuanya, sangatlah sederhana. Dora tinggal di rumah neneknya yang sudah sepuh. 

Menyadari dirinya seorang yatim piatu, menempa diri Dora menjadi seorang yang mandiri.

Keteguhan hati Dora dalam menekuni bidang tarik suara membuahkan hasil, tatkala Dora berhasil memenangkan beberapa kejuaraan menyanyi tingkat kecamatan.

Dora memimpikan suatu hari nanti akan menjadi seorang penyanyi kelas dunia, dan mungkin saja dapat menggantikan suara emas sang legendaris Whitney Houston.

Dora membayangkan dirinya sedang menyanyi di berbagai negara dan mengadakan konser yang ditonton oleh ribuan orang disertai dengan tepukan meriah atas penampilannya yang memukau.

Pada suatu hari, seorang penyanyi papan atas sekaligus seorang pendidik (Sang Idola Dora) dan pemandu bakat tersohor datang mengunjungi kota kelahiran Dora untuk mencari anak-anak yang memiliki bakat bernyanyi yang hebat.

Dari tangan dinginnya telah lahir begitu banyak penyanyi bagus yang sering menghiasi acara musik di televisi.

Karena keterbatasan kapasitas peserta, Dora gagal mendapatkan tempat untuk menunjukkan kebolehannya di atas pentas, di depan Sang Idola. Banyak orang tua peserta yang menyogok panitia agar putera puterinya dapat tampil di pentas.

Namun Dora masih tetap berupaya untuk menjumpai Sang Idola.

Dora ingin sekali menunjukkan kebolehannya bernyanyi di depan sang penyanyi terkenal tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi anak muridnya. 

Akhirnya kesempatan itu datang…

Kesabaran Dora menunggu di belakang pentas membuahkan hasil….

Setelah menyelesaikan tugas penjurian, sang penyanyi tenar itu berjalan melalui belakang pentas untuk pulang ke hotel menggunakan mobil yang telah disediakan panitia.

Dora menerobos barisan pengawal dan berteriak : “Master, bolehkan saya meminta waktu sebentar saja?”

Sang Idola menoleh ke arah Dora, merasa heran dengan kenekatan seorang gadis muda yang berjuang untuk menjumpainya.

Dia tersenyum dan mengangguk. Kibasan tangannya menyuruh beberapa pengawal untuk minggir ke samping dan memberi tempat buat Dora mendekatinya.

Sang Idola memegang pundak Dora : “Adik kecil, ada apa?”

Dora : “Maaf Master, saya bermimpi ingin menjadi penyanyi kelas dunia. Bolehkah saya menunjukkan kebolehanku bernyanyi di hadapan Master? Dapatkah Master menyediakan waktu sejenak?”

Sang Penyanyi : “Okay, saya hanya memberikan waktu 3 menit untukmu. Menyanyilah dengan hati dan sepenuh jiwa… Ayo silakan dimulai Adik kecil…”

Dora tersenyum kegirangan dan mulai bernyanyi dengan sebaik-baiknya.

Belum sampai 3 menit, Sang Penyanyi berlalu meninggalkan Dora yang masih terus bernyanyi, tanpa meninggalkan sepatah katapun.

Akhirnya Dora menghentikan aktifitas bernyanyi, dalam deraian air mata dan tangis sesegukan yang begitu memilukan.

Dora segera berlari meninggalkan tempat yang telah memalukan dirinya. Betapa hancur hati Dora…

Sesampainya di rumah, Dora menumpahkan segala kesedihannya dengan menangis tersedu-sedu, tanpa sepengetahuan neneknya.

Dora sangat membenci dirinya sendiri. Selama ini dia sangat membanggakan suara emasnya, namun ternyata tidak dianggap sama sekali oleh Sang Idola.

Saking sedihnya, akhirnya Dora memutuskan untuk berhenti menyanyi dan bersumpah untuk meninggalkan aktifitas bernyanyi selama-lamanya. Dia telah mengubur dalam-dalam salah satu impian terbesar hidupnya.

Waktu berlalu dengan cepatnya…

Sang gadis muda telah menikah dan menjadi isteri dari seorang pegawai pemerintahan dengan memiliki sepasang anak kembar yang begitu imut. 

Suatu kebetulan…

Pada acara kontes menyanyi yang diikuti oleh kedua buah hatinya, pandangan mata Dora tertuju kepada seorang sosok yang paling dibenci seumur hidupnya karena telah membuyarkan mimpinya menjadi seorang penyanyi terkenal.

Dora berada dalam situasi yang sangat dilematis. Antara ingin menghindar atau ingin meminta penjelasan atas ketidakadilan yang diterimanya sewaktu muda dulu.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, terutama disebabkan rasa penasaran, setelah usai kontes, Dora bergegas menghampiri Sang Idola.

Dengan wajah sinis, Dora menatap wajah Sang Idola sambil berkata dengan ketus : “Master, masih ingatkah dirimu padaku?”

Sang Idola mengangguk dengan cepat, “Tentu saja saya ingat dengan seorang bocah perempuan sederhana yang memiliki kemampuan menyanyi yang luar biasa hebat…”

Dora : “Untuk apa Master sekarang memuji diriku? Impianku telah kubuang ke dasar laut terdalam, setelah engkau mempermalukan diriku. Saya ingin meminta penjelasan sejelas-jelasnya dari Master, mengapa engkau begitu kejam meninggalkan diriku dulu? Sebegitu jelekkah suaraku sehingga Master harus pergi berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun?”

Sang Idola : “Suara kamu itu bukan main indahnya. Belum pernah saya mendengar suara yang begitu merdunya. Saat itu saya memiliki keyakinan, kamu bakal menjadi penyanyi kelas dunia, bahkan mengalahkan diriku. Tapi sayang, kamu tiba-tiba menghilang bagaikan ditelan bumi. Saya berupaya mencari informasi tentang kamu, namun semua berakhir sia-sia. Sungguh saya menunggu kemunculanmu hingga akhirnya saya pensiun dari menyanyi… Mengapa engkau berhenti menyanyi?”

Dora terkejut setengah mati mendengar penuturan dari Sang Idola. Dia tidak menyangka bakal mendapat pujian yang begitu tinggi di saat dirinya sudah berhenti menyanyi.

Setengah terisak, Dora berteriak : “Ini amat tidak adil….!! Master tidak adil…!!! Mengapa Master meninggalkan diriku dulu? Mengapaaaa….??”

Sang Idola : “Mengapa kamu bilang saya tidak adil? Kamu yang berprasangka buruk, namun kamu malah menyalahkan diriku….”

Dora : “Jadi mengapa Master meninggalkan diriku saat saya belum menuntaskan semua lirik laguku?”

Sang Idola : “Saat itu saya sangat menderita akibat menahan rasa ingin buang air. Tapi karena keingintahuan diriku tentang kemampuan kamu menyanyi, membuatku sedikit menahan sakit, dan mencoba mendengarkan sepenggal suara emasmu. Di bait ketiga, saya sudah tahu, bahwa kamu memang seorang penyanyi berbakat. Saya meninggalkan dirimu sejenak, untuk selanjutnya mengajakmu ikut bersamaku. Saya sangat yakin akan mampu memoles dirimu menjadi seorang penyanyi kelas dunia”.

Setelah mendengar penjelasan Sang Idola, Dora kelihatan sedikit tenang. Dengan suara lirih, Dora berkata : “Sikap Master telah mencuri semua mimpi dan harapanku. Seharusnya Master memujiku, bukan lantas meninggalkanku begitu saja. Seharusnya saya dapat menjadi penyanyi kelas dunia, dan bukannya menjadi seorang ibu rumah tangga”.

Sang Idola menjawab lagi dengan tenang : “Tidak…Tidak… Saya tidak merasa saya telah berbuat sesuatu yang tidak adil kepadamu. Anda tidak harus minum anggur satu galon untuk membuktikan anggur itu enak, bukan?”

Dora mengangguk pelan…

Sang Idola melanjutkan lagi : “Demikian juga dengan saya. Untuk apa saya menyiksa diriku dengan menahan sakit di perut bawahku karena rasa ingin buang air kecil hanya untuk mendengar suara indahmu hingga tuntas? Toh saya sudah tahu kualitas suaramu yang begitu hebat…”

Dora semakin tertunduk dan mulai meneteskan air matanya. Penyesalan atas keputusannya tidak akan mengembalikan waktunya ke masa muda dulu.

Sang Idola : “Seharusnya kamu fokus dengan impianmu bukan pada ucapan yang keluar dari bibirku. Atau barangkali kamu mengharapkan selaksa pujian dariku?”

Sambil menghela nafas panjang, Sang Idola melanjutkan : “Ketahuilah… Pujian itu seperti pedang bermata dua. Di saat seseorang sedang bertumbuh, seringkali sebuah pujian menyebabkan malapetaka bagi karirnya. Seseorang dengan mudah akan merasa puas atas keberhasilannya. Dia tidak akan lagi menggali potensi terpendam yang masih tersimpan. Pujian berlebihan yang diberikan pada saat seseorang sedang berkembang, hanya akan membuat pertumbuhannya berhenti”.

Dora : “Sungguh ini tidak adil. Sang Pencuri Mimpiku”

Sang Idola : “Seandainya tindakan saya dulu membuat kamu terpukul, tidak seharusnya kamu menyerah. Sebaliknya kamu harus berlatih lebih giat untuk menunjukkan kemampuanmu. Jika saja, kamu tetap teguh menekuni bidang menyanyi, pastilah saat ini kamu sudah menjadi penyanyi kelas dunia. Mungkin saja, saat ini kamu menjadi salah satu penyanyi idolaku…”

(Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s