“AYAH, JANGAN PERNAH MELACURKAN KEHORMATANMU…”

<Rabu, 17 Februari 2016 OG 00:42>

Seperti biasa, setiap pagi saya selalu mengantarkan isteri ke kantornya, setelah itu baru berangkat ke tempat kerjaku.

Di seberang rumah, saya melihat tetanggaku, Mirna juga sedang mengantar suaminya hingga ke halaman depan. 

Sayup-sayup saya mendengar celoteh wanita muda ini kepada suaminya : “Pa, jangan lupa membeli susu untuk Momo. Hanya tinggal sehari minum saja….”

Sang lelaki berkumis tipis itu tersenyum mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya menuju sepeda motor…

Saat berada di atas motor bututnya, tiba-tiba terdengar suara sang Ibu yang sudah berusia lanjut, “Nak, jangan lupa membelikan CD Korea atau India yang terbaru yah… Film yang baru dibeli, sudah selesai Ibu tonton…”

Kembali lelaki tersebut manggut-manggut dan menjawab : “Oke, Bu… Nanti saya belikan yang paling seru…”

Dari jauh saya melihat, kegetiran wajah lusuhnya, walau sudah coba dibaluti dengan senyum terpaksanya.

Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana jika tetanggaku itu sedang tidak memegang rupiah, apa yang akan dilakukannya? Saya yakin langkah kakinya akan semakin bertambah berat, berikut dengan dua beban permintaan dari orang-orang yang dikasihinya.

Tiba-tiba hapeku bergetar dan terlihat serangkaian kalimat sebagai berikut : “Honey, jangan lupa membeli buah apel. Saya lagi ngidam rasa asam apel…”

Segera kubalas sms isteriku, “Baiklah sayang. Semoga apelnya belum habis…”

Padahal, saya belum dapat menjamin kalau sanggup membeli buah kesukaan isteriku. 

Pasalnya, uang di dompet tinggal bersisa selembar uang seratus ribu. Itupun akan dialokasikan untuk mengisi bensin mobil yang tinggal sedikit.

Saat ini saya sedang menunggu transferan gaji dari perusahaan. Dan seperti biasanya, perusahaanku sering sekali telat satu atau dua hari dalam membayarkan gaji karyawan.

Saya berharap semoga isteriku tidak kecewa jika nanti malam saya pulang dengan tangan kosong.

Di kantor, seorang temanku memperlihatkan sebuah SMS dari isterinya sebagai berikut : “Pa, tolong bayar uang listrik dan air yah. Terus jangan lupa isi pulsa internet. Makasih…”

Sontak saja isi SMS, itu membuat teman saya kebingungan, persis sama dengan kegundahan diriku, yang berharap hari ini bakal gajian. 

Sedikit berkelakar, temanku berkata : “Kalau saja hari ini tidak jadi gajian, tolong bilangin ke biniku, malam ini kita lembur hingga subuh. Saya malas pulang ke rumah. Ujung-ujungnya pasti berantam…”

Wahai sobat-sobatku yang budiman…

Setiap pagi, kebanyakan dari para ayah membawa serta problem rumah tangga dan semua gundah gulana yang timbul di rumah, hingga ke tempat kerjanya.

Beragam keluhan dan permintaan dari “orang rumah” mengenai uang belanja yang sudah menipis, susu dan pampers bayi yang tinggal beberapa kali pakai, uang sekolah anak yang sudah ditagih berulang kali oleh guru sekolah, tagihan uang listrik dan air, pulsa hape dan internet yang sudah habis, permintaan buah untuk isteri dan CD Korea atau India untuk bunda, dan lain sebagainya, sering membuat seorang ayah harus duduk termenung. 

Tidak jarang dia akan melakukan kesalahan kerja yang berujung mendapat omelan atau SP (Surat Peringatan).

Untuk memperoleh senyum dan pelukan mesra dari isterinya, seorang Ayah mencoba berjanji yang belum pasti dapat dipenuhinya, “Oke, nanti Ayah selesaikan semuanya…”

Lihat saja, begitu banyak tindak kriminal yang dilakukan dengan alasan ekonomi…

Seorang penjambret yang telah babak belur dihakimi massa, mengatakan terpaksa melakukan kejahatan karena susu untuk bayinya telah habis.

Seorang koruptor mengaku melakukan aksinya mengambil harta yang bukan miliknya hanya untuk memenuhi hasrat isterinya yang memimpikan rumah mewah dan bertamasya ke luar negeri.

Tidak sedikit, para Ayah yang rapuh dan tidak mampu memikul beban hidup yang teramat berat, harus mengakhiri hidupnya di bawah jeratan tali gantungan.

Mungkin yang dipikirkan Ayah yang berpikiran picik ini, bahwa jeratan tali di lehernya, tidak ubahnya dengan jeratan hutang dan rengekan permintaan “orang rumah” yang tidak akan sanggup dipenuhinya.

Tidak sedikit para Ayah harus merelakan bajunya berlumuran darah dari percikan darah korban yang nyawanya telah diambil paksa olehnya. Walau dengan konsekuensi bakal menghuni hotel prodeo yang dingin dan pengap.

Tak jarang pula, para Ayah terpaksa menggadaikan harga diri dan martabat hidupnya, melakukan tindakan penipuan terhadap orang lain, mengelabui bossnya dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. 

Kehalalan uang yang diperolehnya tidaklah menjadi sesuatu yang penting lagi.

Yang terpenting baginya, semua janji-janji yang telah terucap untuk para “orang rumah” sudah terpenuhi semua. Lega rasanya… Plong….!!!

Para ayah yang berperilaku negatif ini, tidak mau peduli, jika suatu saat mereka malah menambah beban keluarga dengan luka-luka di sekujur tubuh atau bahkan hanya menyisakan nama saja.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang tetap setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut namun yang ditunggu tak juga kembali. 

Sekali lagi, ada ayah yang berani menanggung resiko ini demi penuntasan sekarung gundah gulana yang sedang menghimpit dan menyesakkan dadanya.

Miris sekali…

Di lain pihak, saya menaruh hormat sambil mengacungkan dua buah jari telunjukku, kepada sebagian Ayah lain yang tetap sabar dan tawakal menggenggam erat gundahnya, tanpa berupaya melakukan tindakan melanggar hukum.

Sang ayah akan membawa pulang kembali gundahnya ke rumah, menangkupkan gundah tersebut ke dalam telapak tangannya bersama dengan kepasrahan diri kepada Sang Pencipta dan berharap adanya rezeki berdatangan, yang kelak akan digunakan untuk menuntaskan satu persatu gundah yang masih melekat di tubuhnya.

Ayah yang satu ini, masih percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya berada dalam kesengsaraan akibat gundah-gundah yang silih berganti menghinggapi hidupnya.

Para Ayah yang “teope” ini, yakin akan dapat menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah gulana baru bagi keluarganya, melalui berita dukacita nengenai dirinya.

Ayah-ayah ini tidak akan pernah melacurkan kehormatan diri dan keluarganya hanya demi pemenuhan hasrat duniawi belaka.

Dan saya, sebagai sosok seorang Ayah, akan tetap berupaya menggenggam segunung gundah gulana milikku ke manapun diriku pergi dengan lantunan suara cadel puteri semata wayangku yang menyanyikan lagu “Balonku”, “Abang Tukang Bakso” atau “Naik Kereta Api”, juga bersama senyum dan canda tawa…

Semoga para isteri dan para penghuni rumah, mau menyadari betapa berat beban yang dipikul oleh seorang Ayah dalam hidupnya…

Dan, akan selalu mengingatkan dengan sebuah bisikan mesra : “Ayah, jangan pernah merasa lelah… Jangan pernah melacurkan kehormatanmu… Saya akan selalu setia mendampingimu baik dalam suka maupun duka…”

(Salam Harmoni – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

One Response to “AYAH, JANGAN PERNAH MELACURKAN KEHORMATANMU…”

  1. Perspektif says:

    Saya sedih baca tulisan ini. Tulisan ini mengingatkan saya bahwa didalam semua kesulitan, agar tetap menjaga kejujuran. Semoga Tulisan ini menguatkan kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s