“BURUNG DIPENJARA”

<Senin, 25 Januari 2016 OR 22:01>

Abece merasa sedih sekali karena dimarahi oleh Bang Emon…

Dia merasa tidak bersalah karena menjual kambing dengan harga setengah juta, yang penting kan ada kata “juta”.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Abece berjalan gontai dan seperti orang yang tidak memiliki tulang.

Bahunya bergerak naik turun dengan gemulai, kakinya melangkah perlahan sambil menendang botol minuman yang dijumpainya.

Namun, tiba-tiba …..

Brakkkkk….

Seekor burung merpati tergeletak di atas tanah. Pingsan…

Sementara Abece merasakan adanya benjolan di jidatnya, meninggalkan sedikit bercak putih, yang ternyata adalah kotoran burung merpati.

Abece merasa kebingungan, mengapa burung merpati bisa menabrak kepalanya.

“Burung merpati sinting..!!! Saya lagi enak-enak jalan ditabrak juga olehnya. Habis itu, sebelum pingsan, membuang kotoran sembarangan ke jidatku. Pintar kali pun… Kalau kamu itu manusia, sudah pasti saya hajar kamu hingga keok…” 

Abece mengoceh sendiri, tanpa mempedulikan keberadaan burung merpati yang sedang pingsan di atas tanah.

Setelah berjalan beberapa langkah melewati badan burung merpati tersebut, Abece merasa seperti ada yang membisikkan sesuatu ke telinganya.

“Wahai anak muda… Sebenarnya kamu yang menabrak burung merpati. Sudah menjadi kewajiban kamu untuk merawatnya hingga sembuh dan melepaskannya kembali ke habitatnya setelah dia sehat”, suara merdu tersebut mampir di telinga Abece.

Bagaikan tersentak, Abece buru-buru membalikkan badannya dan kembali ke tempat di mana burung merpati tadi terbaring.

Abece membelai kepala burung merpati untuk membangunkannya, namun tidak berhasil.

Tinggg…!!!!

Abece teringat dengan pelajaran di sekolah dulu, mengenai nafas buatan. 

“Saya masih ingat cara memberikan nafas buatan. Yang penting tutup hidung korban, lalu salurkan oksigen melalui hembusan nafas dari mulut ke mulut. Ulangi beberapa kali hingga berhasil”, Abece bergumam dalam hati.

Dengan penuh perasaan Abece memonyongkan mulutnya mendekati mulut si merpati. 

“Aduhhhh….”, Abece berteriak kencang sambil memegang gusinya yang berdarah.

Rupanya paruh burung merpati yang tajam menghujam ke dalam gusi Abece dan menyebabkan sedikit pendarahan di mulutnya.

Abece tidak patah semangat… Akhirnya dengan menutup kedua hidung burung merpati menggunakan tangkai pohon yang halus, Abece berhasil memberikan oksigen kepada burung malang tersebut.

Setelah mencoba sebanyak 13 kali, berangsur-angsur kepala burung merpati bergerak perlahan. Matanya terbuka sedikit, dan setelah bertatapan mata dengan Abece, rupanya burung merpati tersebut kembali pingsan.

“Loh…kok pingsan lagi? Apa karena terkejut melihat wajahku yang tampan bagaikan pangeran kodok?”, Abece berkata-kata sendiri.

Karena tidak berhasil menyadarkan burung merpati tersebut, Abece membawanya pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Abece meletakkan burung itu ke dalam sangkar besi. 

Abece mencoba lagi cara lain dengan memciprat-cipratkan air ke badan dan muka merpati itu, namun tetap tidak mampu membangunkannya.

Keesokan harinya, saat Abece hendak meninggalkan rumah, dia memberikan air ke dalam wadah kecil dan beberapa helai roti berisikan selai strawberry.

“Nanti setelah siuman, burung merpati ini pasti akan makan dan minum. Kasihan banget, sudah puasa semalaman”, kata Abece.

Setelah dua jam kepergian Abece, akhirnya burung merpati itu siuman dan berdiri di atas kedua kakinya sambil melihat keadaan sekelilingnya.

Dia melihat ada air di cawan kecil lalu meminumnya. Kemudian mulai mencicipi roti yang tersedia.

Burung merpati itu berusaha terbang keluar dari sangkar, namun tidak berhasil.

Dalam hati burung malang ini berkata sambil menangis : “Oh Tuhan… Rupanya kemarin aku menabrak orang hingga meninggal sehingga aku sekarang dipenjara. Maafkan Tuhan karena aku tidak sengaja. Semoga arwah orang yang kutabrak, berada tenang di sisi-Mu…”

Gubrakkkk….

(Salam Cekikik – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in Joke. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s