“KAMI TIDAK TAKUT KARENA KAMI ADALAH SATU”

<Kamis, 14 Januari 2016  OOR  15:00>

Hari ini kita dikejutkan oleh rentetan ledakan granat yang menyerang pos polisi dan beberapa lokasi strategis lainnya di Jakarta. 

Ledakan tersebut telah memakan beberapa korban jiwa, satu dari aparat keamanan dan lima dari masyarakat sipil (kemungkinan adalah pelaku).

Tren mengacaukan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat yang pluralis melalui ledakan ataupun serangan tembakan membabibuta ternyata dikembangbiakkan oleh kaum ekstrimis teroris sebagai sarana untuk menciptakan rasa takut.

Ketakutan masyarakat atas aksi mereka akan membuat mereka semakin percaya diri dan bangga atas kemampuannya untuk menciptakan suasana “chaos” (kacau).

Wahai teroris, dimanapun anda berada…

Kami tidak takut, kami tidak akan pernah takut…

Euforia kegembiraan setelah menuntaskan aksi bejatmu, tidak akan membuat kami gentar untuk bersatu padu melawan kelompok kalian dan ideologi sesat yang kalian anut…

Kami percaya dengan pemerintah dan aparat keamanan yang telah bersusah payah untuk mengejar dan menghancurkan kalian dimanapun kalian bersembunyi.

Rasa aman yang tercipta saat ini, tidak akan mengurangi sedikitpun aktivitas kerja rakyat Indonesia dalam berkarya.

Percayalah…

Untuk beberapa waktu ke depan, mereka akan segera tiarap setelah menuntaskan aksinya.

Mereka akan menyusun kekuatan dan amunisi untuk kembali melakukan teror.

Para teroris bukanlah orang bodoh, karena mereka sangat lihai bermain “petak umpat” dengan aparat keamanan.

Mereka mampu menyamar dengan sangat baik, berbaur dengan kelompok masyarakat umum, tanpa menimbulkan rasa curiga bahwa mereka adalah seorang teroris. Berkamuflase menjadi seorang pedagang, teknisi elektronik dan sebagainya.

Teroris itu bukan paham keagamaan, sebab tidak ada satu agamapun yang memperbolehkan tindakan yang mencederai umat manusia dengan alasan apapun.

Teroris itu adalah oknum yang melakukan tindakan aksi teror untuk menciptakan suasana tidak aman. Saya cenderung menilai bahwa mereka bekerja atas dasar motif ekonomi.

Untuk mencegah aksi teror yang marak di Indonesia, para pemuka agama harus melakukan bimbingan rohani kepada generasi muda agar tidak terjerumus dalam aksi terorisme. 

Pemuka agama yang santun dan memiliki wawasan pluralisme, bukan pemuka agama yang menganut paham radikal.

Dalam hal ini pemerintah harus mengambil peranan penting agar tidak bermunculan jaringan-jaringan teroris baru. 

Jangan biarkan “api teroris” membesar membakar negara tercinta, karena api yang telah besar tentunya sulit untuk dipadamkan. 

Selain itu, untuk mencegah aksi teror, kita juga harus bekerja sama dan berpegangan erat antar umat beragama agar tidak ada tercipta kondisi saling tuduh dan saling berburuk sangka yang hanya akan menimbulkan kebencian satu sama lain.

Kami cinta damai…
Kami tidak takut karena kami adalah satu, Indonesia Pusaka…

(Salam Perdamaian – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in POLITIK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s