“AHOK, LU MEMANG GILA”

<Rabu, 13 Januari 2016   OOR  09:57>

Akibat kebijakan meningkatkan taraf hidup pejabat Pemprov DKI melalui kenaikan gaji yang gila-gilaan, membuat banyak kalangan terpana. Antara mau protes atau malah mengiyakan.

Sampai saat ini, saya belum melihat ada warga Jakarta yang memprotes kebijakan ini, dikarenakan telah terjadi transformasi perilaku dari para pejabat publik di Jakarta.

Sebagian besar dari mereka saat ini, seakan-akan telah mengharamkan uang kutipan atau uang terima kasih yang tidak seberapa, dibandingkan harus kehilangan gaji yang 9 juta (untuk pegawai level terbawah) per bulannya.

Coba dibandingkan, gaji seorang lurah di Jakarta (33 juta atau minimal 15 jutaan jika honor tunjangan ditolak Depdagri) dengan lurah di daerah lainnya (jika tahun 2016 jadi naik 100% menjadi 3 jutaan). 

Perbedaannya sangat mencolok. Dan tentu saja, outputnya ke masyarakat juga sangat berbeda, terutama dari segi pelayanan publik.

Uang yang seharusnya dapat dibagikan oleh kepala daerah kepada “gengnya” melalui dana bansos ataupun dana desa, benar-benar telah diseleksi dengan ketat oleh Ahok. Sehingga kelebihan dana, bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan pegawainya.

Entah karena begitu adanya, entah karena dilahirkan untuk itu, atau jangan-jangan karena “saat ini” sosok fenomenal ini sangat dibutuhkan sebagai antitesis atas kondisi yang ada.

Di saat para pejabat dan pemimpin di negeri ini sedang mencari “aman dan nyaman”, namun sebaliknya seorang sosok “Ahok” malah meluluhlantakkan kenyaman yang telah terjadi selama ini. 
Beliau bahkan harus berjibaku untuk mempertahankan prinsip hidup jujur tanpa mempedulikan keamanan diri dan keluarganya.

Gubernur DKI Jakarta yang dianggap arogan ini pernah berucap : “Salah sendiri gue dipilih oleh masyarakat Jakarta jadi wagub dan salah konstitusi juga yang bikin gue jadi gubernur!”

Ahok adalah sebuah paradoks yang secara gamblang menggelar tirai pembatas antara penguasa dan pengusaha, hingga keduanya tak lagi bisa sambil bermain “mata, data dan permata”.

Lihat saja keberaniannya menutup Diskotik Stadium yang sudah melegenda di dunia gemerlepan di Jakarta. Beliau bahkan tidak peduli dengan pemilik Stadium yang merupakan tetangganya.

“Gue pasti baik kepada orang yang baik. Jika dia jahat, gue gak peduli dia itu siapa. Pasti gue sikat”, ucap Ahok dengan tegas.
Seakan-akan tak ada hal yang ditakuti olehnya, bahkan keselamatan diri dan keluarganya dipertaruhkan demi mengisi penuh otak, perut dan dompet warga yang dipimpinnya.

Meski banyak yang tidak suka dan sering mendapat ancaman, Ahok yang sudah diprediksikan menjadi Gubernur oleh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu, tidak gentar menghadapinya.

Mendapatkan berbagai ancaman tersebut, Ahok malah mengatakan: “Saya sudah berpesan (pada keluarga saya) kalau saya mati, tolong jasad saya dikirim ke Belitung. Pada peti matinya sertakan juga: ‘mati dengan baik’,” ujarnya.
Jujur saja, siapa yang sanggup melontarkan kalimat bahwa “bahkan anak dan isteriku rela gue korbankan demi menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok tertentu”.

Bukan main….!!!!
Ahok memang manusia gila…!!!

Ahok memang unik, karena beliau adalah antitesis. Beliau tak suka pujian, apalagi pujian dari para penjilat, bawahannya dan para penjahat berkerah putih, koleganya.
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta akan digelar pada tahun 2017 nanti. Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merencanakan akan maju kembali. Namun tidak menggunakankendaran partai politik, melainkan jalur perseorangan atau independen.

Dalam beberapa pengalaman di daerah-daerah, calon incumbent pasti menggunakan jabatannya untuk meraih kemenangan.
Banyak saluran yang bisa digunakan untuk memuluskan aksinya yaitu melalui penyaluran Dana Desa dan Dana Bansos.
Kita sering menemukan kecenderungan calon incumbent membuat peraturan atau kebijakan yang menguntungkan warganya menjelang pemilihan. Tujuannya agar memilih dirinya kembali.

Namun sekali lagi…Ahok memang gila..!!!

Beliau justru memilih melawan arus. Ahok menggusur warga Kampung Pulo dan merelokasi mereka ke rumah susun yang sebelumnya telah disiapkan, menggusur warga di bantaran sungai, menertibkan parkir liar yang dikuasai para preman, memecat pegawai yang bermasalah dan lamban dalam melayani masyarakat, dan seabreg kebijakan yang dapat meruntuhkan pamornya sebagai pemimpin pro rakyat.

Ahok justru dengan lantang menyatakan bahwa dirinya tidak ingin dipilih oleh masyarakat yang melanggar peraturan. Beliau tidak sudi dipilih oleh mereka yang menghambat programnya dalam memperbaiki Jakarta supaya lebih aman, nyaman dan indah.

Gubernur DKI saat ini memang “gila”….

Mungkin level kegilaannya telah di atas rata-rata. Jelas-jelas beliau ingin maju kembali di pilkada 2017, tapi malah mengusik warga yang sudah keenakan dengan kebiasaan-kebiasaan negatif mereka. Padahal sudah pasti, orang-orang yang terusik ini, tak akan memilihnya pada Pilkada mendatang.

Akibatnya begitu terasa. Muncul kelompok-kelompok masyarakat atas nama organisasi tertentu yang berniat menggulingkannya.

Mengapa mereka ngotot untuk menggantikan Ahok? Karena dia keturunan Cina? Karena dia Kristen? Karena dia suka blak-blakan dan bicara kasar? 

Menurut pendapatku, “FAKTOR EKONOMI” adalah faktor utama mereka menolak Ahok. 

Seorang Ahok yang begitu keras tidak bisa diajak kompromi. 

Beliau bahkan berulangkali mengacak-acak “tabungan berjalan” dari para penikmat uang haram rakyat. Berhadapan langsung dengan para preman dan dedengkotnya melalui pengambilalihan lahan parkir dan berniat mengangkat seorang juru parkir dengan gaji 2 kali UMP (sekitar 6.2 juta tahun 2016).
Gaji 6 jutaan itu di daerah sudah setara dengan gaji level kepala bagian yang punya pendidikan. Masak disamakan dengan gaji seorang jukir?

Gila….menang gila nih orang…

Satu-satunya yang bisa membuat nama Ahok jatuh adalah kalau Gubernur Jakarta itu terbukti melakukan kesalahan. Cukup sebuah kesalahan kecil dan memang terbukti salah, maka sudah cukup untuk melengserkan Ahok. 

Sumber Waras? Belum terbukti saja sudah heboh… 

Jika terbukti salah, saya yakin dengan kearoganannya, Ahok pasti akan mundur sendiri sebagai wujud seorang ksatria.
Tapi Gubernur Jakarta yang non muslim, kaum minoritas, sering ngomel, dan dianggap arogan, saat ini mendapat dukungan sangat besar dari rakyat Indonesia, khususnya warga DKI Jakarta, yang memang merindukan sosok pemimpin “gila” dan rasional seperti Ahok.

Penduduk Jakarta sudah terlalu muak dengan kemunafikan. Mereka sudah jijik dengan tampilan para pejabat yang religius, kalem, kelihatan sopan tutur katanya namun sesungguhnya di balik semua topeng itu, mereka adalah sosok penjahat dan pengkhianat negara.

Ahok…Ahok…. Lu memang gila…

Benar-benar manusia gila dengan seribu akal dan seratus nyawa cadangan.
Sepiring nasi putih dan segelas teh pahit dingin akan menemaniku mengidolakan salah satu orang gila di bumi pertiwi tercinta.

(Salam Re-Reformasi – Salam UFO) 

 

Advertisements
This entry was posted in POLITIK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s