“BAIK DAN JAHAT”

<Selasa, 12 Januari 2016  COR  09:50>

Seorang petani menanam padi di sawah merupakan sebuah perbuatan baik dan maha mulia. Karena buah dari perbuatannya bukan hanya dapat dinikmati oleh keluarganya melainkan juga dapat dinikmati oleh orang-orang lain yang tidak dikenalnya.

Untuk menjadi butiran beras, seorang petani harus menunggu selama 3-4 bulan dari masa menanam hingga siap untuk panen. Selama itu pula, petani harus berangkat ke sawah pagi/siang/sore untuk mengurus tanaman padinya dengan sangat telaten.

Petani harus menghadapi hama pengganggu, banjir atau apapun yang dapat membuat kegagalan panen.

Pada akhirnya beras pun berhasil didapatkan. Bagus tidaknya kualitas beras bergantung dari bagaimana petani merawat padi itu hingga jadi beras. 
Petani melawan hama pengganggu mengunakan obat anti hama…

(Jika kita tidak dihargai maka harus dilawan dengan memberikan senyum keikhlasan)

Petani melawan hujan dengan menyediakan lubang tempat aliran air agar tidak banjir…

(Jika kita memperoleh cibiran/hinaan maka harus dilawan dengan rasa cuek <masa bodo> dan melakukan intropeksi diri)
Perbuatan baik yang bernilai tinggi adalah perbuatan yang membawa faedah (manfaat) bagi banyak orang, seperti lakon sang petani.

Salah satu poin penting lainnya adalah petani menanam padi di sawah dan dia akan mendapatkan hasil padi di sawah juga.

Namun tidak demikian dengan kita. Perbuatan baik kita kepada teman atau saudara, acapkali tidak mendapat tanggapan baik atau tidak dihargai. 

Jangan khawatir…

Kebaikan kita biasanya bukan langsung kita dapatkan dari yang bersangkutan, melainkan didapatkan dari orang lain, yang bahkan sama sekali tidak dikenal.

Andai kata tidak ada yang menolong kita, jangan berkecil hati, karena Tuhan percaya kepada kita, bahwasanya kita pasti mampu untuk menghadapinya sendiri.

Jangan pernah takut untuk tidak dihargai, dan jangan pernah berhenti untuk berbuat baik. walaupun hasilnya nanti bakal terlihat jahat di mata sebagian orang. 
Sebab petani juga harus membunuh hama pengganggu untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Banyak orang mungkin bertanya, mengapa masih banyak koruptor yang hidup enak? 
Mereka bahkan bisa melakukan ibadah keagamaan tanpa rasa bersalah?

Mengapa para pengusaha yang melakukan kecurangan bisnis sepertinya menikmati segalanya, dan bisa tetap rajin beribadah sesuai keyakinan mereka masing-masing, bahkan terlihat begitu saleh di depan banyak orang? 

Di sekitar kita, mungkin ada tetangga yang suka gosip, namun hidupnya kelhatan begitu nyaman. 

Di kantor, ada orang yang sebenarnya tidak punya kemampuan, tidak bijaksana, tidak dapat menjadi suri teladan karena suka datang terlambat dan pandai memainkan “jurus kodok” (jilat atas, injak bawah, sepak kiri-kanan) namun malah mendapatkan promosi untuk menduduki jabatan yang tinggi. 

Sementara kita melihat orang yang idealis, berpegang pada nilai dan prinsip kebaikan, karirnya tidak secepat para “kodok” tersebut dan mungkin bahkan tidak jarang menjadi korban kezaliman oleh mereka.

Biarkan saja mereka bergembira di atas ketidakadilan dan kemunafikan, karena suatu saat akan datang azab yang akan “membuyarkan pesta mereka”. Kita harus tetap mempertahankan “pesta sederhana” dalam kehidupan yang jujur, penuh cinta kasih dan berkepribadian baik.

Dalam benak kita sudah terpola suatu konsep yaitu bahwa orang baik seharusnya bernasib baik dan orang jahat harus bernasib buruk pula. 

Maka jika kemalangan menimpa orang-orang yang kita pandang baik, maka kita akan sangat bersimpati.
Jika musibah menimpa orang jahat, maka kita akan berkata, “sudah karmanya”. 
Nah, ketika suatu keberuntungan dialami orang yang jahat, maka “rasa keadilan” kita mulai terganggu.

Berbagai contoh yang kejadian di atas janganlah membuat kita menjadi enggan berbuat kebaikan.

Biarkanlah orang yang tidak baik hidup dalam lingkaran api setan. Untuk apa kita harus masuk ke dalam lingkaran panas yang dapat membakar sekujur tubuh?

Manusia diciptakan baik dan sempurna oleh Tuhan, sepantasnya juga memberikan niat kebaikan secara tulus tanpa pamrih.

Kebaikan itu sukar untuk dipelihara dan dipupuk, karena rusak nila setitik maka rusak susu sebelanga.

Menjadi baik itu sulit sekali bagaikan mendaki sebuah gunung yang tinggi, 

Namun…
Menjadi jahat itu sangat mudah bagaikan meluncur dari puncak gunung.

Belajar hemat hingga puluhan tahun.

Namun…
Belajar menggesekkan kartu kredit hanya perlu 10 menit.

Belajar berjudi cukup satu jam saja.

Namun…

Mau cuci tangan dari judi, waktu 10 tahun pun tidak cukup.

Belajar untuk jujur, perlu waktu bertahun-tahun

Namun…

Belajar berbohong itu, tak perlu sampai satu menit.

Membina pribadi baik dengan susah payah, berjuang dari masa kecil hingga dewasa, 
Namun untuk merusaknya cukup dalam sehari saja. 

Sungguh menyedihkan!
Kejahatan mudah untuk dipelajari, namun susah untuk diperbaiki.
Kebaikan sulit untuk dibina namun mudah untuk ternoda….

Maka janganlah iseng dan mencoba berbuat jahat…

(Salam Kebaikan – Salam UFO) 

 

Advertisements
This entry was posted in Bahagia, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s