“SAYA ADALAH AYAHNYA”

<Selasa, 12 Januari 2016  OOR   21:17>

Sepulangnya dari cafe, Abece tidak lagi menumpang ojek untuk pulang ke rumah. Alasan utamanya adalah dompetnya ketinggalan di atas tempat tidur. Alasan kedua adalah dompet hanya berisikan bon belanja Indomaret dan bon hutang di warung Pak Sadong dan Bu Sur.

Perasaan kesal, bercampur sedih setelah menjadi korban bully oleh para pengunjung cafe, membuat Abece berjalan gontai menyusuri setapak demi setapak lintasan pulang sambil bergumam tidak jelas.

Batu-batu kerikil menjadi korban kekesalannya. Tidak jarang Abece menendang kerikil sejauh-jauhnya sebagai pelampiasan amarah dan untuk menurunkan emosi jiwa

Perjalanan pulang ke tempat penginapan dilalui dengan perasaan gundah gulana.
Saat sedang berjalan pelan, dari kejauhan Abece melihat banyak sekali kerumunan orang.

Kelihatannya telah terjadi kecelakaan yang menyebabkan ada korban yang tergeletak di atas jalan.

Abece segera bergegas menuju ke lokasi TKP kecelakaan, berusaha untuk melihat apa yang terjadi.

Namun, karena begitu banyaknya kerumunan orang mengerubungi sang korban, menyebabkan Abece tidak dapat menerobos untuk melihat korban dari dekat.

Keingintahuan Abece begitu besar, sehingga memaksanya untuk berpikir keras bagaimana caranya agar dapat menerobos masuk mendekati sang korban.
Akhirnya, Abece mendapatkan sebuah ide brillian yang sangat cemerlang.

Tinggg…!!!!!

Tiba-tiba Abece berteriak-teriak dengan lantang sambil menangis tersedu-sedu : “Anakku…anakku yang paling kusayangi… Mengapa semua ini terjadi padamu? Ayah sedih sekali.”

Untuk meyakinkan semua orang, Abece menjewer kelopak matanya dengan kuat. Akibatnya, air mata Abece mengalir deras membasahi wajah lugu dan sebagian kerah bajunya.

Dan akting Abece berhasil….!!!

Sekarang mata semua orang tertuju ke arah Abece.

Abece berteriak sekali lagi : “Minggir-minggir semua, saya adalah ayah korban…! Tolong, saya minta jalan.”
Benar saja…..

Kerumunan orang segera menepi dan membentuk sebuah jalan kecil supaya Abece dapat melintas dan mendekati sang korban.

Untuk lebih meyakinkan setiap orang, ketika berjalan di bawah tatapan orang-orang, Abece kembali menangis dengan raungan lebih keras lagi : “Anakku yang malang… Sejak kecil ayah merawat dan menjagamu, memandikan dirimu supaya kulitmu putih bersih seperti ibumu. Ayah masih ingat ketika kamu menyuapin ayah dengan penuh kasih sayang. Ohhh…anakku…ayah tidak bisa hidup tanpa kamu… Hiks…hikss…hiksss… Ayah ingin menciummu selama sejam dan memelukmu selama dua jam, barulah Ayah merasa lebih tenang”.

Semua orang tampak mengernyitkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepala penuh keheranan.

Akhirnya, sampailah Abece ke tengah kerumunan dan, ia terpana melihat… SEEKOR ANAK MONYET tergeletak tak berdaya…

Gubrakkk…

<Sono cium tuh anak monyet selama sejam yah Abece!!!>

(Salam Cekikik – Salam UFO) 

 

Advertisements
This entry was posted in Joke. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s