“FILOSOFI BURUNG ELANG”

 <Senin, 11Januari 2916  COR  24:34)

Elang menjadi burung yang paling populer sepanjang peradaban manusia. Wujudnya dijadikan simbol oleh banyak bangsa sejak dulu. 

Menjadi lambang militer saat kekaisaran Roma dan Persia, digunakan juga oleh Napoleon, hingga saat Ottoman Turks berkuasa di Turki.

Sementara di Indonesia, elang sudah dipakai oleh Kerajaan Sintang sekitar abad 13 M. Dan, jaman sekarang, lebih dari 40 negara menggunakan elang sebagai lambang nasional.

Elang adalah hewan berdarah panas yang mampu terbang jauh dengan kecepatan hingga 160 km per jam dan dapat mencengkram mangsanya dengan cakarnya yang kuat. Paruhnya yang tidak bergigi tetapi mempunyai bengkok yang kuat, sanggup untuk mengoyak daging mangsanya. Daya penglihatan seekor elang sejauh 5 km. Sungguh luar biasa…!!!

Meski elang mewarisi kemampuan tersebut secara genetik, bukan berarti mereka tidak berlatih dan berjuang saat masih kecil.

Elang muda mulai berlatih terbang saat mencapai usia 2 atau 3 bulan. Beberapa bahkan lebih cepat, terutama bagi elang kecil yang tidak suka berbagi sarang dengan saudaranya.

Awal belajar terbang pasti mengalami jatuh-bangun. Tak ada satu burung elang pun yang langsung sukses terbang saat pertama kali mencoba.

Pada beberapa kasus, ada elang muda yang takut keluar sarang dan belajar terbang. Maka orang tuanya akan terbang sekeliling sarang sambil memancing anaknya dengan makanan favorit. Jadi tak benar pendapat yang mengatakan orang tua elang sengaja menendang anaknya agar berani terbang.

Bagaimanapun, seekor elang muda harus punya keberanian untuk keluar dari sarangnya yang nyaman. Karena pada usia sekitar 6 bulan elang muda harus bisa terbang sendiri tanpa pengawasan orang tuanya lagi. 

Mereka juga belajar mencari umpan dengan melihat serta mengikuti orang tuanya saat berburu. Mereka belajar terbang tinggi, mengintai, lalu terjun secepatnya mencengkeram mangsanya.

Elang adalah burung yang mampu terbang paling tinggi di dunia ini. Elang bahkan membuat sarang di ketinggian. Padahal seperti diketahui bahwa di ketinggian, angin selalu bertiup sangat kencang. 

Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.

Anda tentu pernah mendengar ungkapan “Life begins at 40”? Banyak yang beranggapan bahwa ungkapan ini tentang usia 40 tahun adalah usia manusia saat mengalami masa-masa kedewasaan. 

Padahal sebenarnya ungkapan ini berasal dari filosofi burung elang ini.

Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. 

Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan selama 150 hari.
Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. 

Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi.

Elang adalah pasangan yang setia, sekali kawin untuk selamanya. Elang betina adalah ibu yang teladan, mengasuh dan mendidik anak-anak mereka dengan penuh rasa cinta.

Dalam kehidupan ini, kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan membuat diri menjadi terlena.

Kita harus rela meninggalkan perilaku lama agar dapat memulai aktivitas terbang lagi untuk menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.

Jika kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, maka kita akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan diri yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan.

Ada lima pelajaran penting yang dapat diambil hikmahnya dari seekor burung elang :

Pelajaran pertama 

“Kita harus siap dengan kenyataan dan situasi di lingkungan sekitar kita, serta wajib menghadapinya dengan penuh keberanian.” 

Menyalahkan situasi tidak akan menyelesaikan apapun. Tugas kita adalah melihat peluang-peluang dari keadaan yang ada dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan diri.

Pelajaran Kedua

“Jangan menyerah pada keadaan dan bayarlah harga untuk sebuah kesuksesan.”

Saat menghadapi masalah, selalu ada dua pilihan, menyerah dengan keadaan atau berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi realitas, melakukan sesuatu dengan kerja keras dan keluar sebagai pemenang.

Pelajaran Ketiga 

“Berani untuk keluar dari zona nyaman” Seperti elang, untuk menjadi tangguh perlu tekad dan keberanian. Terkadang, kita harus keluar dari “comfort zone” (zona nyaman) seperti halnya keberanian elang muda keluar dari sarang mereka. 

Hanya dengan keberanian melakukannya, kita bisa mengetahui dunia yang luas, dan bisa terbang tinggi mengejar apa yang kita impikan.

Pelajaran Keempat

“Setia kepada pasangan”

Tirulah elang yang hanya sekali kawin dengan pasangan yang sama seumur hidupnya.

Tidak pernah tergoda dengan kemolekan tubuh elang-elang lainnya, walaupun yang lain memiliki kelebihan dibandingkan pasangannya.

Pelajaran Kelima
“Mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab”
Induk elang sangat bertanggungjawab dalam menyediakan makanan bagi anak-anaknya.

Elang muda juga akan dipaksa untuk berani terbang meninggalkan sarangnya dan menemani sang induk untuk berburu makanan. Sungguh pelajaran yang menakjubkan…

Sobat-sobatku yang budiman…

Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan kita adalah sang penguasa atas diri kita sendiri.
Jangan biarkan masa lalu menumpulkan harapan dan melayukan semangat kita. 
Pemikiran akan mempengaruhi tindakanmu…
Tindakan akan mempengaruhi kebiasaanmu….
Kebiasaan akan mempengaruhi karaktermu…
Dan karakter akan mempengaruhi jalan hidupmu ke depan…
Kita adalah elang-elang itu….

Perubahan pasti terjadi..!!! 

Maka dari itu, kita harus berubah….!!!!
Fly like an eagle…

(Salam Pencerahan – Salam UFO) 

 

Advertisements
This entry was posted in Binatang, Renungan Harian. Bookmark the permalink.

2 Responses to “FILOSOFI BURUNG ELANG”

  1. Mira says:

    Izin share kak

  2. obrolanbeken says:

    Silakan n thanks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s