“SUPER AHOK DAN DUPER SETYA”

<Kamis, 07 Januari 2016 OOR>

Berita mengenai Setya Novanto (SN) memecat para loyalis Akom di tubuh Fraksi Golkar cukup mencengangkan banyak kalangan.

Keberaniannya memecat Ketua Banggar Ahmadi Noor Supit dan Sekretaris Fraksi Golkar Bambang Soesatyo turut menyemarakkan kegaduhan perpolitikan nasional terutama di kalangan internal anggota DPR.

Masalah pecat memecat anggota, membuat pikiranku tertuju pada sosok fenomenal, Gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Kegemaran Ahok menggusur anak buahnya, sebenarnya dapat membuat kegaduhan di kalangan pegawai Pemprov DKI.

Namun bedanya, SN menggeser anggota Fraksi Golkar karena unsur nepotisme alias geng-gengan demi kepentingan pribadi dan golongannya.

Sedangkan Ahok merotasi anak buahnya karena mereka tidak mampu bekerja cepat sesuai harapan, demi kepentingan rakyat DKI.

Ahok dan SN sama-sama berasal dari suku Tionghoa. Keduanya sama-sama telah berhasil menjadi pejabat terkemuka di negeri ini. 

Awalnya, keduanya sama-sama Kristiani. Ahok yang Protestan dan SN beragama Katolik. Sejauh ini Ahok tidak terpikir untuk menjual agama demi jabatan, apalagi niat untuk menambah jumlah istri, sementara SN melakukan hal sebaliknya.

Keduanya juga sama-sama pernah dibesarkan oleh Partai Golkar. Bila SN tetap bertahan di Golkar, sejak menjadi supir pribadi Hayono Isman, Ahok malah menjauh dari partai tersebut. Kini, Ahok bahkan tidak memiliki partai sama sekali alias sosok independen.

Akhirnya, satu hal yang paling menonjol dari perbedaan keduanya adalah cara masing-masing pribadi dalam memilih teman bergaul.

Ahok sejak awal berteman lintas SARA tanpa menghilangkan darah Tionghoa dan agama Kristen yang dianutnya. Lain lagi dengan SN yang menyembunyikan latar belakang identitasnya agar dapat melebur dengan para pejabat Golkar yang memang selalu mudah diiming-imingi oleh rupiah.

Ahok banyak belajar tentang cara berdemokrasi dan rasa cinta tanah air dari seorang Gus Dur (Bapak Bangsa), belajar kelembutan dan kesabaran dari seorang Jokowi, dan belajar merakyat lewat lagu dangdut milik Cita Citata, “Goyang Dumang”. Weleh-weleh….

SN justru bergaul dengan para penikmat harta negara. Bisa dikatakan bahwa SN banyak belajar dari Boss Tikus, FH dan FZ yang gemar “menyiram” masyarakat dengan statement pemecah belah bangsa dan juga banyak belajar ‘tata cara menebalkan muka tembok seakan-akan tidak pernah melakukan kesalahan sekalipun”.

Bila Ahok meleburkan diri hingga benar-benar sudah meng-Indonesia, maka SN justru memerah kekayaan negeri melalui niat mengambil komisi saham dengan cara menjual kekayaan Indonesia demi kepentingan diri dan kolompoknya.

Tampaknya tanpa disuruh, kita pasti akan memilih Ahok sebagai panutan dalam berpolitik daripada memilihi SN yang lebih memilih mendapatkan “saham” untuk pribadi dan kelompoknya hingga rela menjual nama presidennya sendiri.

Ahok tumbuh dan berkibar berkat sokongan orang-orang sekitarnya yang setia mendukungnya dalam ketulusan dan keikhlasan. Hal ini terbukti dari aktivitas relawannya yang bekerja tanpa pamrih dalam mengumpulkan KTP DKI yang sudah menembus angka 500 ribu.

Sungguh amat berbeda watak dan kepribadian dari seorang Ahok dan seorang SN, walaupun berasal dari garis keturunan yang sama.

(Salam Nasionalis – Salam UFO) 

 

Advertisements
This entry was posted in POLITIK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s