“HARI PERTAMA DI PULAU PINANG”

<Sabtu, 26 Desember 2015 OOR 23:34>

Setelah mendapat “perlakuan yang istimewa” dari maskapai penerbangan Sriwijaya Air, kami bertiga sengaja turun dari pesawat paling terakhir, mendapat salam perpisahan yang akrab dari para awak pesawat, seakan-akan “mengundang” kami untuk menggunakan jasanya kembali.

Di lokasi Penang International Airport sebelum menuju ke loket imigrasi, terlebih dahulu kami membeli simcard Malaysia untuk memudahkan komunikasi selama di sini.

Setelah turun dari eskalator, tampak berjejer dua kompetitor layanan telekomunikasi Malaysia menawarkan berbagai produk layanan yang menarik. 

Akhirnya kami memilih merek My Maxis, bukan karena lebih bagus (sebab belum pernah menggunakan jasa telekomunikasi yang satu ini), namun karena di loket ini, lebih sedikit antriannya. 

Kasihan saja melihat pegawainya yang “melongo” menyaksikan kesibukan pegawai kompetitor yang berada di sebelahnya.

Keluar dari bandara kami disambut oleh pengemudi taxi pribadi yang terlebih dahulu sudah di-contact dari Medan.

Dalam pikiran kami, mobil jemputan adalah sejenis mobil van kapasitas 11-12 orang, seperti pengalaman kami sebelum-sebelumnya sewaktu berkunjung ke sini.

Ternyata…

Mobil jemputan kami adalah mobil yang sudah sangat lawas (lama), boleh dikatakan sejenis mobil kuno, kemungkinan mobil tahun 70-80an.

Bersama isteri, kami sering tersenyum dan tertawa sendiri ketika berada di dalam mobil ini.

Keheranan kami, kok masih ada mobil jenis ini beredar di jalanan? Menurut kami, mungkin mobil yg membawa kami ke tempat penginapan, adalah mobil tertua yang ada di Penang. Hahaha…
Pengalaman yang tidak terlupakan dech…

Berdasarkan referensi dari pengemudi mobil, kami diarahkan ke sebuah rumah tua yang disulap menjadi sebuah tempat penginapan (hotel).

Ketika tiba di hotel, kami mendapati pemandangan rumah yang cukup eksotik, seperti tinggal di rumah jaman dulu.

Tersedia 27 buah kamar dengan berbagai ukuran. Karena fully booked di peak season, hanya tersedia kamar paling kecil. 

Kekhawatiran kami, setelah bergerak kesana kemari mencari hotel dengan hasil hampa, terpaksa kami memutuskan untuk menginap di Old Penang Hotel. 

Pertimbangan lainnya di sekitar tempat kami menginap, terdapat banyak alternatif tempat makan dan berbagai jenis mall.

Memasuki ruang kamar yang lumayan sempit dengan ukuran tempat tidur mini size, kamar mandi ukuran 1x2m, membuat kami sedikit “gimana gitu lo”.
Untunglah kebersihan kamar begitu terjaga.

Dan…yang paling penting bagi kami adalah Eiffel dapat menikmati suasana penginapan di sini tanpa rewel.

Keseharian kami pada hari pertama diisi dengan berjalan-jalan di sekitar lokasi penginapan, mengunjungi plaza-plaza dan tempat-tempat makan, berfoto-foto ria, bercengkerama dan bersenda gurau sepanjang jalan.

Malamnya kami mencoba naik becak ala Penang. 

Sebenarnya saya kurang setuju, bukan karena masalah naik becak (bukan taxi), melainkan tidak tega dengan tukang becak di sini yang rata-rata sudah berusia sangat lanjut.

Heran dech…

Mengapa seorang kakek-kakek, yang di usia uzurnya, harus melakoni pekerjaan yang super duper berat sebagai penarik becak.

Rasanya sangat kurang ajar dan tidak beretika, ketika becak yang kami tumpangi harus dikayuh oleh beliau yang sebaya dengan kakek kami.

Namun…jika kami tidak menggunakan jasanya, beliau bakalan tidak dapat penghasilan donk…

Perjalanan lebih kurang 10 menit menuju tempat makan, terasa sedikit “kurang enak”, tapi saya sendiri tidak sanggup berbuat apa-apa, selain membiarkan beliau mengayuh becak.

Sesampainya di tujuan, dengan sangat memohon agar “sang kakek” bersedia bersantap makan malam bersama kami. Namun permintaan kami ditolak dengan halus, alasannya baru saja makan. 

Akhirnya dengan susah payah, kami berhasil juga menyuguhkan segelas minuman kepada “sang kakek”.

Sungguh pengalaman yang menggugah perasaan, kejadian yang membuat miris hati, naik becak di Pulau Pinang.
Jika naik becak, tak tega kalau dikayuh beliau…
Jika tidak naik becak, maka beliau tidak mendapat uang….
Tidak naik becak dan memberi duit kepada beliau, takut ditolak, dan membuat mereka tersinggung.

Seperti makan buah simalakama…
Sungguh sebuah perjuangan hidup maha berat yang harus beliau jalani hingga akhir hayatnya…

Semoga beliau selalu mendapat perlindungan dan kesehatan dari Sang Maha Pencipta.
Doa yang sama juga saya tujukan untuk rekan-rekan sebaya beliau sebagai penarik becak.
Pengharapan yang sama, saya tujukan kepada semua orang-orang tua yang masih harus membanting tulang hingga akhir hayat.

Salam kagum dan hormat setinggi-tingginya kepada mereka…!!!

Setelah selesai menyantap makanan, kami kembali ke hotel dengan perasaan lelah dan sedikit ngantuk.

Akhirnya tujuan terakhir perjalanan menuju “pulau kapuk” dapat terpenuhi untuk menuntaskan hasrat me-recharge tubuh dalam kedamaian tidur.

(Salam Pengharapan – Salam UFO)

   
    
 

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s