“ABECE MEMESAN TIKET PESAWAT TERBANG”

<Rabu, 23 Desember 2015 COR 00:30>

Setelah menikmati liburan seminggu di Yogyakarta, Abece berniat meninggalkan suasana kota yang telah meninggalkan kesan begitu mendalam, terutama ketika acara berdugem ria.

Kerinduannya terhadap Miyabi, sang kekasih tercinta, memaksa Abece untuk segera kembali ke kampung halamannya.

Abece bingung hendak menggunakan jasa pesawat terbang atau bus.

Om Pipit menyarankan kepada Abece untuk naik pesawat terbang saja.

Masalah biaya yang lebih mahal akan ditanggulangi oleh Om Pipit, karena begitu sayangnya Om Pipit kepada Abece.

Om Pipit menyuruh Abece segera menghubungi maskapai penerbangan untuk booking tiket jurusan Yogyakarta – Jakarta. 

Abece yang kurang cerdas namun sok tahu segera menelepon maskapai Mawar Airways. 

Tapi tampaknya telepon di seberang sana sedang digunakan sehingga dijawab oleh mesin otomatis : “Maaf, jurusan yang anda tuju sedang sibuk.”

“Maaf pak, jurusan Yogyakarta – Jakarta sedang sibuk,” kata Abece pada Om Pipit.
Om Pipit merasa heran, karena baru pertama kali mendapat penjelasan bahwa ada jurusan pesawat yang sedang sibuk. 

Masalah yang umum biasanya adalah seat (tempat duduk) yang penuh.

“Oke, kalau begitu… Coba kamu hubungi maskapai penerbangan Anggrek Airlines,” kata Om Pipit kepada Abece.

Abece memenuhi permintaan Om Pipit dan segera menelepon Anggrek Airlines. 

Namun lagi-lagi tidak berhasil. Karena tak ada yang mengangkat telepon, kembali terdengar suara mesin penjawab otomatis : “Maaf, panggilan ini sementara dialihkan. Mohon menunggu beberapa saat…”

Abece segera melapor kepada Om Pipit yang sedang menonton film kartun Shincan, “Om, kata pegawai Anggrek Airlines, jurusan Yogyakarta – Jakarta untuk sementara dialihkan.”

Om Pipit semakin heran mengapa pegawai dari kedua maskapai penerbangan tersebut memberikan jawaban yang aneh.

Namun Om Pipit belum menyadari keganjilan peristiwa ini. Beliau segera membuka daftar buku alamat perusahaan miliknya. 

Om Pipit hendak mencari nomor telepon agen travel yang biasa digunakannya untuk mendapatkan tiket pesawat terbang ketika bertugas keluar kota.

“Baiklah, coba kamu hubungi agen travel yang ini saja,” kata Om Pipit seraya menyerahkan secarik kertas bertuliskan angka-angka nomor telepon.

Abece menerima kertas tersebut dan mulai memencet tombol telepon sesuai nomor yang tertera. 

Karena kurang teliti, ada satu angka terlewati oleh Abece. Sehingga untuk ketiga kalinya yang menjawab panggilan adalah operator otomatis : “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak ada dalam layanan kami.”

Abece mendekati Om Pipit dan dengan suara pelan bertanya, “Apa Om kemarin lupa kasih tips ke dia ya? Kok dia bilang tidak mau melayani Om lagi?”

Abece berkata dengan mantap namun seperti suara mengejek : “Lain kali Om tiru gaya saya dong biar bisa dilayani orang. Jangan pelit-pelit… Hahaha…”

“Plokkkk” 

Terdengar suara keras persis seperti suara durian jatuh.

“Aduh Om… Kenapa kepala saya dilempar pakai remote TV? Apa salah saya?” Abece berteriak sambil memegang kepalanya yang benjol sebesar telur.

Om Pipit : “Masalahnya kamu kok bego amat? Si Amat, teman saya saja tidak sebego dirimu. Untung cuma remote TV yang saya lempar, coba kalau TV ysng saya lempar, dirimu yang pekok bakal jadi penghuni alam baka… Bodoh kok dipiara sich”

Gubrakkk…

(Salam Cekikik – Salam Abece) 

 

Advertisements
This entry was posted in Joke. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s