“KISAH CINTA SEORANG ANAK”

(Sebuah Cerita Memilukan dalam rangka menyambut “HARI IBU”)

<Selasa, 22 Desember 2015 COR 00:32>

Kisah menarik yang amat menggugah perasaan…
Sepuluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. 
Janu, suamiku, memberinya nama Okto. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Karena malu melihat keadaannya, saya berniat memberikannya kepada orang lain.
Namun Janu mencegah niat buruk itu.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, saya harus membesarkan Okto juga. 

Di tahun kedua setelah Okto dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang mungil nan cantik. Saya menamainya July. 

Saya sangat menyayangi July, demikian juga halnya dengan Janu, suamiku. Seringkali kami mengajak July pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Okto…

Okto hanya memiliki beberapa pasang pakaian butut. Sebenarnya Janu berniat membelikan berbagai pakaian dan mainan untuk Okto, namun saya selalu melarangnya dengan dalih untuk penghematan uang keluarga. Dan Janu tidak berani membantah semua ucapanku. Janu selalu menuruti perkataan saya. 
Saat usia July 2 tahun, suamiku, Janu meninggal dunia. Saat itu Okto sudah berumur 4 tahun. 

Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. 
Akhirnya saya mengambil sebuah tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup…

Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta putri cantikku, July.

Okto yang sedang tertidur lelap, tidak ikut saya bawa pergi. Saya meninggalkan Okto begitu saja di sebuah gudang tidak berpenghuni di samping rumah. Okto terbaring tidur lelap di atas tumpukan kardus bekas minuman. 

Selanjutnya kami berdua bersama July tinggal di sebuah gubuk di desa sebelah. 
Rumah yang kami tempati, peninggalan almarhum suamiku, Janu, (tidak termasuk gudang yang ditempati Okto), laku terjual dan hanya mampu untuk membayar hutang dan membeli sebuah gubuk sederhana.

Saya menikah kembali dengan seorang pria dewasa bernama Feb, lima tahun setelah saya menempati gubuk tersebut. 

Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima…

Berkat kedewasaan Feb dalam membimbingku, akhirnya sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. 

Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu…

Saat itu, July telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. 

Tidak ada lagi yang ingat tentang Okto dan tidak ada lagi yang memikirkannya…

Namun sebuah mimpi buruk telah menyadarkan saya, bahwa dulu saya memiliki seorang putra yang kurang bagus pertumbuhannya….

Tiba-tiba terlintas kembali kisah pilu yang terjadi dulu, persis seperti sebuah film yang diputar di dalam kepala saya. 

Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Sekelumit bayangan Okto melintas kembali di pikiran saya. 

Ya Okto…. Anakku yang malang…

Maafkan Mommy yang telah menyia-nyiakan dirimu dulu…

Mommy akan menjemputmu sekarang juga, Okto, anakku sayang….

Sore itu, saya memarkirkan mobil biru saya di samping sebuah gudang tua, saya masih mengingat dengan pasti letak lokasi gudang yang dulu ditempati Okto…

Dengan pandangan heran, Feb menatap saya dari samping. “May, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Feb, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” 

Aku menceritakan rentetan peristiwa dengan terisak-isak…

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. 

Setelah tangis saya reda, dengan penuh kepastian saya keluar dari mobil diikuti oleh Feb dari belakang. 

Mata saya menatap lekat pada gudang yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk di samping gudang itu pernah saya tempati beberapa tahun lamanya bersama anakku Okto.. Iya….Okto…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di atas lantai tanah. Saya mengambil kain tersebut dan mengamatinya dengan sangat seksama… 

Mata saya mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Okto dalam kesehariannya.

Walaupun sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali, akhirnya saya memberanikan memanggil : “Okto…anakku sayang. Kamu ada dimana? Ibu datang ingin membawamu pulang ke rumah Ibu yang baru”.

Tak lama kemudian, muncullah sesosok wajah wanita tua, berpenampilan kumal dan kotor dengan baju koyak menempel di badan.

Saya tersentak kaget ketika tiba-tiba sang nenek menegur saya dengan suaranya yang parau : “Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan sedikit memberanikan diri, saya pun bertanya, “Nek, apa nenek kenal dengan seorang anak yang bernama Okto yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kamu Ibunya Okto? Kalau kamu adalah ibundanya Okto, kamu sungguh tega dan berhati iblis. Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Okto terus menerus menunggu ibunya dan berulang kali memanggil-manggil, ‘Mommy… mommy!’ Karena tidak tega, saya selalu menghiburnya dengan mendendangkan lagu anak-anak. Okto sedikit terhibur, walaupun air matanya selalu tidak terbendung, mengalir keluar dari pelupuk matanya. Kadang-kadang saya memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya”.

Nenek tua itu melanjutkan ceritanya : “Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Okto meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis beberapa kalimat ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan acak di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Okto, ya? Mom, biarlah Okto yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Okto. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu.
“Nek, tolong katakan di mana Okto sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang dan selamanya! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Nek….Tolong katakan..!!”

Feb memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Okto telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gudang ini. Tubuhnya sangat kurus dan sangat lemah. Hanya demi menunggumu Okto rela bertahan di belakang gudang ini tanpa berani masuk ke dalamnya. Okto takut apabila Mommy-nya datang, dan langsung akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Okto hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gudang, bukan dari dalam gudang ini. Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”

May menerit histeris kemudian jatuh pingsan.

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Makna dari cerita di atas:

• Buah hati yang terlahir di dunia dari rahim seorang Ibu adalah anugerah titipan dari Tuhan. Wajib dijaga, dipelihara dan dilindungi hingga memiliki kemandirian hidup.

• Pikirkanlah baik-baik perbuatan yang dilakukan terhadap seorang anak, agar di kemudian hari tidak berubah menjadi sebuah penyesalan yang sia-sia.

I love u Mommy…

(Salam Pencerahan – Salam UFO) 

 

Advertisements
This entry was posted in Cerita Bermakna, Keluarga, Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s