“SEGONI BENANG DI HARI SERASA”

<Selasa, 15 Desember 2015 COR 16:46>

Hari terakhir keberadaan tante Mipansit di kampung membuat Abece gundah gulana.
Abece sudah terlanjur akrab dan cocok dengan tante Mipansit yang berumur 15 tahun lebih tua darinya.

Namun tante Mipansit memiliki paras wajah masih seperti anak gadis usia 20 tahun-an. Kulit wajah putih mulus dan belum berkeriput. Pakaian sedikit menor, parfum beraroma bunga kantil dan sanggup “mengundang” jelalatan mata dari para lelaki hidung belang di kampung.

Untunglah ada sosok Abece yang senantiasa melindungi tante Mipansit dari godaan dan tatapan nakal para pemuda usil.

Seperti janjinya semalam kepada tante Mipansit, walaupun hari masih subuh, Abece sudah berangkat ke Pasar Bengkok untuk membeli benang jahit.

Abece tiba di rumah Miyabi sambil membawa segoni benang jahit.

Kebetulan tante Mipansit baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai keramas.

Mipansit : “Met pagi dek Abece yang ganteng. Kok pagi-pagi uda nongol di sini? Uda sarapan? Terus ada beli benang jahit, seperti yang saya pesankan kemaren?”

Abece : “Pagi juga tanteku yang cantik. Tadi saya sudah sarapan sepotong jagung muda dan dua butir telur bebek setengah matang. Nih…. Ada saya bawakan benangnya”.

Abece mengambil goni berisikan tumpukan benang dan menyerahkan kepada tante Mipansit.

Mipansit : “Hah???? Kok segoni? Banyak amat?”

Abece : “Kemarin saya lupa menanyakan warna benang yang mau dibeli, makanya saya ambil saja semua warna benang yang ada..”

Miyabi : “Terus… Darimana kamu dapat duit untuk membeli benang segoni?”

Abece : “Tenang tante, semua pedagang kain dan penjahit baju di Pasar Bengkok adalah teman-temanku. Mereka gotong-royong mengumpulkan sisa-sisa benang yang ada. Tapi ada juga yang baik memberikan gulungan benang baru. Gitu loh tanteku…”

Sambil menyengir kayak kuda mau kawin, tanpa sadar Abece memajukan kedua tangannya untuk mencubit gemas pipi tante Mipansit, seperti yang sering dilakukannya pada Miyabi.

Tante Mipansit tidak berusaha menolak dan terkesan membiarkan perlakuan Abece.

Bahkan tante Mipansit turut melayangkan ciuman ringan ke pipi dan kanan Abece.

Mipansit : “Walah… Jadi saya harus bongkar nih goni dan memilih-milih warna benang yang sesuai dengan warna dalaman tante. Ya udah lah. Gak papa… tante hargai perjuangan kamu”.

Abece : “Sini saya bantu, tante. Coba tante buka dalaman yang koyak, ntar saya pilih warna benang yang cocok”.

Mipansit : “Hushh… Polosnya dirimu ngomong buka dalaman. Ntar gak enak sama Miyabi. Nanti dikiranya kita ada apa-apa…”

Tante Mipansit bergegas ke belakang sebab baru menyadari bahwa dia hanya mengenakan sehelai handuk membaluti tubuhnya. Takut kejadian semalam seperti yang dialami Miyabi terulang kembali.

Tidak berapa lama kemudian, tante Mipansit kembali ke ruang tengah sambil menyodorkan segelas kopi tarik buat Abece.

Mipansit : “Dek Abece, hari ini hari Selasa yah?”

Abece : “Bukan tante, hari ini hari Serasa….”

Mipansit : “Kamu gimana sih, hari Selasa”.

Abece : “Ish.. Tante kok jadi ngaco deh… Gak pernah belajar Bahasa Indonesia di sekolah yah? Yang benar itu Serasa bukan Selasa”.

Mipansit : “Selasa!”

Abece : “Serasa tante. Pasti waktu sekolah, tante tukang nyontek”.

Mipansit : “Hushh… Enak aja kamu ngomong. Pokoknya Selasa!”

Abece : “Serasa!”

Mipansit : “Selasa! Selasa! Selasa!”

Tiba-tiba muncullah nenek Miyabi dari balik gorden…

Nenek : “Ada apa pagi-pagi sudah ribut?”

Abece : “Sudah..sudah daripada jadi ribut. Coba kita tanyakan sama nenek, yang benar itu Serasa atau Selasa?”

Nenek Miyabi berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang tengah sambil mengunyah daun sirih kesukaannya.

Abece : “Nek, permisi kami mau tanya nih… Hari ini hari Serasa atau Selasa?”

Nenek : “Kok bego banget kamu berdua nanya sama nenek mengenai nama hari. Hari ini pasti hari Serasa”.

Abece : “Serius nek? Benar khan Serasa?”

Abece coba menegaskan sekali lagi dengan tujuan untuk mengejek Tante Mipansit.

Nenek : “Ya benarrah. Hari Serasa. Gini-gini nenek ini pintar roh… Karian gak tau yah….Semasa muda, nenek ini sering pergi ke Bari, riat-riat Pantai Kuta, paring suka ke Tanah Rot. Suka makan ikan rere, ditambah sambar pete. Enak sekari rasanya”.

Abece dan Mipansit tak bisa menahan tawa lagi.

Mereka terbahak-bahak sambil berpelukan dan berguling-guling di lantai.

Nenek : “Eitsss….pamari. Tidak boreh begitu. Nanti karung emas kamu putus, nak Mipansit. Rama-rama saya sentir kepara karian biar benjor”.

(Salam cekikik – Salam UFO)

Advertisements
This entry was posted in JOKE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s