“BUKIT LAWANG, PINTU GERBANG HUTAN TROPIS SUMATERA”

<Senin, 14 Desember 2015 OOR 13:01>

http://harianandalas.com/kanal-berita-utama/banjir-bandang-terjang-bukit-lawang

Membaca berita di atas membuatku sangat sedih. Ada ikatan emosional yang membaluti sanubariku. Pikiranku terbang melayang ke tahun 2012 lalu.

Itulah kunjungan terakhirku ke Bukit Lawang, setelah kejadian banjir bandang 2003 dan sebelum kejadian banjir besar melanda, beberapa hari lalu.

Kami berenam (saya, mantan pacar Christina Tina, adikku, kak Wara Anif, Musa, anaknya kak Wara dan pengasuh Musa) mengendarai dua mobil terpisah berangkat menuju ke daerah hutan indah nan eksotis, pusat rehabilitasi orang utan yang sudah mendunia.

Jungle Inn, merupakan pilihan kami untuk menginap di sana. Letaknya berada paling ujung, harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menit dari tempat parkir mobil.
Lokasi penginapan persis berada di dalam hutan, tempat favorit para traveller mancanegara.

Kamar tidur dibuat sealami mungkin, dan kebetulan di dalam kamar tidur yang saya tempati terdapat bongkahan batu besar. Sungguh mengagumkan…!!!

Kamar mandi yang luas tanpa atap dan sangat terbuka, sehingga menimbulkan kerisihanku ketika pertama kali akan membasuh badan. Timbul sedikit perasaan was-was jika sampai ada orang usil mengintipku mandi telanjang.

Dan ternyata memang benar..!!! Ada sesosok “orang” sedang menatap ketelanjanganku dengan mimik wajah datar, mungkin aneh melihat cara mandi manusia. Dan dia adalah “orang utan tua” yang sedang bergelantungan di dahan di hutan seberang sungai. Untung saja bukan manusia… Kalau tidak, bakal sial tujuh turunan, seperti kata orang-orang tua di kampung.

Memang indah sekali pemandangan hutan dengan pohon-pohon besar berdaun rimbun, kadang kala muncul beberapa makhluk khas hutan, terutama orang utan dan monyet-monyet bermain di antara cabang-cabang pohon.

Saya paling senang duduk santai di cafe “lounge-forest” sambil menikmati “lukisan hidup hutan” di pagi-pagi subuh menjelang matahari terbit, dengan ditemani minuman khas ala Jungle Inn yang terbuat dari berbagai campuran bahan rempah – rempah.

Setiap malam, turis asing duduk mengobrol, bercengkerama dan kadang kala bersenandung dengan riang gembira, ditemani beragam suara unik hewan hutan.

Mereka sangat menikmati suasana yang tercipta di tengah hutan belantara, barangkali sudah menjadi “barang langka” di negara mereka. Kebanyakan dari mereka sudah berusia lanjut.

Hari kedua, saya bersama pasangan sengaja tidak tidur di kamar tidur hingga pagi dan membiarkan adik saya tidur di dalam.

Kami berdua terhanyut dalam suasana keheningan nan syahdu. Tidak jemu-jemu mata kami memandang ke arah hutan di seberang sungai, hingga akhirnya datang sekelompok tour guide (pemandu wisata) melantunkan lagu beragam daerah dengan suara merdu diiringi dentingan gitar.

Keseharian kami di Bukit Lawang, diisi dengan bermain-main di sungai Bahorok berarus sedang nan jernih yang membelah hutan, melakukan treking ke hutan, bermain di air terjun, mendaki bukit tempat orang utan menikmati pisang yang disediakan penjaga hutan dan menyusuri jalan-jalan setapak di sepanjang lokasi wisata.

Kehidupan yang sangat mengasyikkan seraya melepaskan penat pikiran yang selama ini bersemayam di kepala.

Bukit Lawang adalah pintu gerbang ke dalam hutan Sumatera yang legendaris yang memiliki medan licin dan lereng curam serta berlumpur, menjelajahi hutan di sini merupakan petualangan yang menakjubkan. Perjalanan menyusuri hutan nan rimbun sungguh mendebarkan hati layaknya kita akan memasuki dunia baru.

Secara harfiah Bukit Lawang berarti “pintu ke bukit”. Bukit Lawang adalah sebuah desa kecil yang terletak di selatan Taman Nasional Gunung Leuser. Terletak sekitar 90 kilometer barat laut Medan, ibu kota Sumatera Utara (waktu tempuh 2.5 s/d 3 jam dari kota Medan).

Bukit Lawang adalah salah satu hutan terbaik di dunia. Di sini kita masih dapat menemukan berbagai primata langka seperti monyet, gajah, harimau, beruang madu, macan tutul dan “orang utan” yang hampir punah.

Pusat rehabilitasi orang utan adalah tempat pelatihan bagi orang utan yatim piatu untuk mengembalikan sifat “keliaran” mereka sebelum dilepaskan hidup mandiri di alam bebas. Ketika primata ini kembali hutan, pusat rehabilitasi masih terus menyediakan suplemen makanan dan pemeriksaan rutin.

Pusat rehabilitasi ini didirikan oleh organisasi nirlaba dari Swiss dan telah beroperasi sejak tahun 1973 hingga kini.

Jumlah orang utan di hutan ini telah menurun akibat perburuan liar, perdagangan satwa dan pengrusakan lingkungan.

Kejadian memilukan akhirnya datang menerpa…

Saat itu bulan puasa, bertepatan bulan November 2003. Hujan lebat turun berhari-hari di Langkat Hulu, termasuk di Bukit Lawang.

Saat warga sedang mengadakan tarawih, terdengar suara gemuruh. Seketika muncul gelombang air bah beserta lumpur, pasir, batu, dan gelondongan kayu, datang “menghajar” tanpa ampun.

Dijelaskan oleh para saksi, gelombang pasang dengan air tinggi sekitar 20 meter menghantam hotel dan pemukiman penduduk disertai terjadinya tanah longsor, merusak apa saja yang ada di jalan.

Bencana maha dahsyat ini menghancurkan resort wisata lokal dan berdampak menghancurkan industri pariwisata lokal.
Sekitar 400 rumah, 3 masjid, 8 jembatan, 280 kios warung makan dan 35 losmen hancur serta menewaskan 239 orang (5 diantaranya adalah turis asing).

Sekitar 1.400 penduduk setempat kehilangan tempat tinggal.

Perlu waktu delapan bulan untuk membangun kembali daerah wisata Bukit Lawang dan akhirnya kondisi pulih kembali pada Juli 2004.

Dan kejadian kembali berulang beberapa hari lalu….

Untunglah tidak terjadi korban jiwa. Bencana banjir besar ini menimbulkan kerugian materi berupa kerusakan bangunan, jalan dan jembatan yang berada di lokasi wisata saja.

Ingin rasanya kembali ke sana sesegera mungkin, bercengkerama dengan alam liar, bersahabat dengan para penghuni hutan, bermain dengan kejernihan aliran sungai dan bersenda gurau dengan penduduk setempat yang ramah.

Dan, saya masih harus bersabar menunggu beberapa tahun lagi, (jika diberi umur panjang) setelah si buah hati telah berkamuflase dari seorang bayi menjadi sosok anak-anak yang sudah lebih mengerti dan dapat mencerna apa yang saya kemukakan.

Saya berjanji akan membawa si kecil Eiffel mengelilingi seantero hutan nan eksotis sambil memberi pengetahuan tentang arti pentingnya hutan bagi kehidupan manusia.
Semoga…

(Salam Petualangan – Salam UFO)

  
  
  
  

Advertisements
This entry was posted in TRAVELLING. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s