“BERKATA JUJUR”

<Kamis, 27 Juli 2017 OOR 06:41>

Seorang gadis muda berpenampilan menawan, selalu menjadi pusat perhatian orang-orang sekelilingnya. Selain parasnya yang menarik, Jojo juga mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Seakan-akan mampu menghipnotis mereka yang mendengarkan ceritanya.

Namun sayang, bagi yang sudah mengenal karakter Jojo, mengetahui betul bahwa Jojo memiliki kebiasaan berkata tidak benar, suka berbohong dan gemar menambah-nambahkan bumbu penyedap dalam setiap ceritanya. Bagi yang baru mengenal Jojo akan terbuai dengan kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut Jojo.

Suatu kali Jojo pernah bercerita bahwa dirinya terpilih menjadi Puteri Favorit saat mengikuti ajang lomba kecantikan yang diselenggarakan oleh salah satu media nasional. Dengan bangganya Jojo mengungkapkan pengalamannya, mulai dari proses karantika hingga mengikuti puncak acara yang dihadiri oleh para pejabat penting negara.

Sebagian orang percaya karena memang penampilan fisik Jojo sangat mendukung. Namun yang sudah mengenal lama Jojo, hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar cerita bohong ini. Merasa apa yang disampaikan begitu berlebihan. Menganggap Jojo adalah manusia pembual.

Pernah juga Jojo melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Saat berada di sebuah gerai minuman ternama, Jojo menjatuhkan sebuah hiasan kaca. Dengan muka tidak bersalah, Jojo menunjukkan telunjuknya ke arah seorang bocah yang berada di dekatnya. Hampir semua orang percaya dengan kata-kata Jojo.

Namun tidak dengan ayah sang bocah. Walaupun Jojo bersikeras menuduh sang bocah lugu tersebut, tapi ayah sang bocah menolak tuduhan tersebut. Dia lebih percaya kepada buah hatinya. Malahan dia merasa curiga dengan sifat ngotot Jojo.

Akhirnya, setelah memutar ulang rekaman cctv, akhirnya terkuak bahwa yang telah menjatuhkan hiasan kaca itu adalah Jojo. Selain menanggung malu karena ketahuan berbohong, Jojo terpaksa harus merogoh koceknya untuk mengganti hiasan kaca yang sudah menjadi beling tidak berharga.

Karena ulahnya yang selalu berkata tidak benar, akhirnya banyak teman Jojo sudah menjauhinya. Sebagian dari temannya berusaha untuk menegur dan menasehati Jojo, namun tidak berbuah hasil. Jojo masih seperti Jojo yang dulu, gemar berkata bohong dan suka membual. Walau berpenampilan menarik bak artis, namun satu persatu temannya mulai meninggalkan Jojo. Dan Jojo masih tetap eksis dengan mencari teman-teman baru lagi yang bersedia mendengar bualannya. Ntah sampai kapan…

Sobatku yang budiman…

Kejujuran itu merupakan modal paling utama bagi kita untuk hidup bersosialisasi dengan orang lain. Tidak ada yang lebih penting daripada mengatakan kejujuran dan kebenaran. Jika selalu berkata jujur dimanapun kita berada, maka kita tidak lagi merasa takut untuk melangkah. Tidak takut tergelincir karena silap lidah telah membuka kedok kebohongan yang sudah tersimpan rapi selama ini.

Tidak mudah untuk mengubah kebiasaan berbicara bohong atau membual. Apalagi kalau sudah mendarah daging. Perlu tekad dan keinginan yang kuat untuk mengubah kebiasaan buruk ini. Kebiasaan berkata bohong akan meninggalkan jejak jelek di mata orang lain yang mengetahui kebohongan itu.

Walaupun kita sudah berusaha untuk menyembunyikan suatu kebohongan, pasti akan tiba waktunya kebohongan itu akan terkuak. Tanpa kita prediksi, sewaktu-waktu kebohongan itu akan ketahuan. Selanjutnya yang muncul adalah rasanya malu, itupun jika urat malu belum putus.

Dengan melakukan kebohongan saat ini, sesungguhnya kita telah membuat lubang menganga di jalan yang akan dilalui. Sewaktu-waktu pasti akan tergeiincir dan terperosok ke dalam lubang yang telah kita gali dengan tidak sengaja.

Jika kita tidak ingin terperosok ke dalam lubang penderitaan kelak, maka biasakanlah berkata jujur saat ini.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kejujuran #kebohongan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Kisah Inspiratif | Leave a comment

“PRASANGKA”

Belasan tahun yang lalu, ada seorang sahabat lamaku yang bernama Eddy sedang berkunjung ke Medan dalam rangka tugas meeting dan briefing.

Beliau adalah seorang manager senior dari perusahan jasa keuangan yang cukup ternama dan berkantor pusat di Jakarta.

Selama di Medan, Opekiu pernah mengalami pengalaman yang cukup menarik. Beliau menceritakan detil kejadian ketika bertemu saya di hotel Angkasa.

Ceritanya, Eddy bersama isterinya berniat keluar mencari sesuatu untuk mengisi perut kosong di seputaran Jalan Nibung Raya.

Saat membeli makanan, mereka melihat ada sesosok laki-laki bertampang berewokan, berpakaian lusuh dan celana jeans robek, rambut awut-awutan serta tangan yang memperlihatkan guratan bekas jahitan.

Dalam hati, Eddy berpikir : "Wah… Apa mungkin dia seorang residivis yang baru keluar dari penjara? Mungkin saja penjahat yang mau merampok kami…"

Sontak saja, Eddy sangat khawatir dan merasa terancam. Dia segera mengajak isteri tercintanya berlalu dari tempat itu. Takut kalau-kalau menjadi korban perampokan.

Namun, laki-laki "asing" tadi terus saja mengikuti setiap langkah ke mana pun mereka berdua pergi. Mengekor seperti bayangan.

Akhirnya, Eddy menyimpulkan bahwa orang tadi benar-benar seorang penjahat yang mungkin akan merampok dan menyakiti mereka berdua.

Kebetulan, tidak jauh dari Jalan Nibung Raya terdapat kantor Polisi Sektor (Polsek) Medan Baru. Eddy segera bergegas menuju ke kantor polisi yang berjarak 200 m dari tempatnya membeli makanan.

Ketika langkah kaki sudah berada di atas batas gerbang masuk, perasaan Eddy sangat lega. Setidaknya sudah ada tempat berlindung. Namun, saat Eddy menoleh ke belakang, ternyata "orang asing" tadi tetap mengikutinya hingga masuk ke dalam pintu gerbang.

Sebelum Eddy sempat melapor ke polisi yang sedang piket jaga, dari belakang muncul teriakan : "Selamat malam, komandan. Perintah, Ndan !!"

Dua orang personil polisi, dengan pakaian sama kumalnya dengan orang asing tadi sedang mengucapkan salam komando kepada "orang asing" tadi.

Rupanya "orang asing" yang disangka sebagai seorang residivis adalah seorang perwira polisi. Sudah menjadi kebiasaan bahwa seorang perwira polisi akan dipanggil "komandan" oleh anggota yang masih level bintara atau tamtama.

Ternyata perwira polisi tadi berniat kembali ke markas setelah bersantap malam di seputaran kantornya. Beliau baru saja kembali dari operasi penyamaran untuk membekuk sindikat narkoba.

Alangkah malunya Eddy begitu mengetahui bahwa sebenarnya "orang asing" tadi adalah seorang anggota polisi. Bukan penjahat atau residivis.Lebih jauh lagi, rupa-rupanya "orang asing’ tadi mengikuti mereka berdua karena ingin mengembalikan dompet milik isteri Eddy yang terjatuh di jalan.

Dengan senyum ramah sambil merangkul pundak Eddy, sang perwira polisi mengembalikan dompet ke arah isteri Eddy dan berkata : "Abang kok jalannya cepat sekali. Langkah saya kalah cepat dibandingkan Abang. Mantan atlet jalan cepat yah. Hahaha…?"

Eddy ikut tertawa. Dia merasa malu sekali karena sudah berprasangka yang tidak-tidak terhadap beliau. Dengan nada yang perlahan, Eddy berkata : "Maaf Pak…saya tidak tahu jika bapak adalah polisi. Saya sangka bapak itu penjahat. Saya takut sekali".

Sang perwira polisi tertawa terbahak-bahak diikuti tawa dari seluruh anggota polisi yang berada di sekitarnya.

Perwira polisi : "Yang abang lakukan sudah benar, kalau berjumpa yang aneh-aneh langsung saja lapor ke polisi. Saya juga minta maaf sudah mengerjain abang. Bisa saja saya berteriak menghentikan langkah abang, tapi saya sedang pengen iseng. Habisnya…capek nih badan, selepas operasi penyamaran. Sorry yah bang".

Eddy dan isterinya ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak. Setelah bersenda gurau sejenak, Eddy permisi hendak "balik kanan" (pulang).

Tidak lupa Eddy menyelipkan 5 lembar uang seratus ribuan ke kantong sang perwira, sebagai upah mengembalikan dompet isterinya yang terjatuh tadi.

Namun, yang mencengangkan Eddy adalah sang perwira yang baik hati itu, malah mengembalikan lembaran uang tersebut ke kantong Eddy.

Berulang kali Eddy hendak menyusupkan uang tersebut ke dalam kantong sang perwira polisi, namun selalu ditolak dengan halus, hingga akhirnya beliau berkata : "Abang simpan saja duitnya. Tolong berikan kepada mereka yang jauh lebih membutuhkan. Anggap saja abang sudah memberikan kepada saya…."

Dalam hati Eddy berkata : "Luar biasa polisi yang satu ini. Selain jujur, baik hati dan anti korupsi, beliau juga berhati mulia. Masih mau memikirkan kaum yang tidak berpunya. Bukan main…."

Sobatku yang budiman…

Sebuah kisah nyata yang dialami sahabatku Eddy menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Jangan mudah berprasangka buruk terhadap orang lain. Jangan pernah menilai orang dari penampilan luar saja. Banyak orang yang berpakaian santun justru adalah seorang penjahat.

Namun demikian, kita tetap harus waspada dan hati-hati terhadap lingkungan sekitar kita. Jika ada hal-hal mencurigakan, segera lapor ke pihak berwajib.

Masih banyak anggota polisi yang berjiwa mulia dan ikhlas dalam melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat sesuai dengan motto kepolisian.

Pengalaman belasan tahun lalu masih tetap terpatri dan terukir indah dalam sanubari Opekiu dan diriku.

Bravo polisiku… !!!!

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“ORANG BAIK”

Mengapa orang baik itu hidupnya sederhana, bukan hidup dalam kelimpahan harta?
Bagi orang baik, harta terindahnya bukanlah harta benda yang bersifat keduniawian berupa uang, emas permata atau saham perusahaan. Orang baik lebih mementingkan harta surgawi yang dikumpulkan dari hasil berbuat kebajikan, beramal atau bersedekah kepada sesama umat manusia.

Mengapa orang baik harus bekerja lebih keras daripada orang yang tidak baik?
Orang baik selalu menjunjung tinggi kejujuran dalam mencari nafkah. Mereka tidak akan tergiur sedikitpun untuk melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama dan menguntungkan dirinya sendiri.

Mengapa orang baik lebih sering disakiti?
Orang baik tidak egois dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Saat berada di dalam bus umum, orang baik akan merelakan tempat duduknya bagi mereka yang membutuhkan dibandingkan dirinya.

Mengapa orang baik terlihat lebih susah hidupnya?
Dalam hidupnya, orang baik lebih senang melihat orang lain tersenyum bahagia, sebab bagi mereka sebuah senyuman dari orang lain, memberikan arti bahwa apa yang telah dilakukannya di dunia ini adalah benar adanya.

Mengapa orang baik sering disepelekan?
Dalam ruang kebahagiaan batinnya, orang baik juga menyediakan ruangan untuk orang lain, bukan hanya untuk dirinya. Mengalah agar tidak menciptakan permusuhan. Bagi orang baik, seribu musuh mudah untuk dicari sedangkan seorang sahabat sulit sekali untuk diketemukan.

Mengapa orang baik selalu ditipu?
Orang baik selalu berpikiran positif dan menjauhkan prasangka buruk terhadap orang lain. Perasaan tulus yang dilakukan orang baik sering dimanfaatkan orang lain untuk menipu atau mengkhianatinya.

Mengapa orang baik sering dibully atau dihina?
Orang baik adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Semua hinaan dan cercaan akan diterimanya sebagai pembelajaran hidup. Nalar kebijaksanaannya akan terasah sehingga kelak mereka dapat membedakan mana yang baik dan mana yang harus dijauhi.

Mengapa orang baik seringkali meneteskan air matanya?
Orang baik memiliki perasaan yang halus dan mudah tergugah oleh kejadian yang memilukan hatinya. Acapkali mereka enggan berbagi kesedihan kepada orang lain karena tidak ingin menyusahkan orang lain. Sudah terbiasa mengobati lukanya sendirian dan percaya bahwa suatu waktu nanti Tuhan pasti akan menggantikan kesabarannya dengan sesuatu yang lebih baik.

Mengapa orang baik tidak pernah membenci mereka yang telah melukai hatinya?
Orang baik selalu ikhlas dalam menerima berbagai cobaan yang menimpa kehidupannya. Semua kejadian yang terjadi dianggapnya sebagai berkah pelajaran yang tiada ternilai harganya. Membenci dan mendendam hanya akan membuang-buang energi dan menjadikan hidupnya terbelenggu dalam rantai penderitaan.

Mengapa orang baik lebih dulu "menghadap" Tuhan?
Orang baik itu ibarat bunga yang sedang mekar indah dengan harum wangi semerbak memenuhi seisi taman. Tentunya orang pasti akan memilih bunga yang seperti ini dibandingkan bunga yang sudah layu dan membusuk. Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta dan Seisinya.

#firmanbossini #renungan
#inspirasi #motivasi #orangbaik
Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“PERSAHABATAN”

Opekiu, seorang mahasiswa di salah satu kampus ternama, memiliki teman pergaulan bernama Uvewe. Karena berasal dari daerah asal yang sama, mereka berdua mempunyai kesamaan dalam selera makanan.

Setiap kali pergi makan berdua, Opekiu selalu mentraktir Uvewe sebab tidak ada niat sedikitpun dari Uvewe untuk membayar bill makanan. Bahkan saat Opekiu berada di toilet, ketika bill datang, Uvewe berpura-pura mengetik sesuatu di ponselnya. Hingga akhirnya Opekiu tiba di meja dan terpaksa melunasi bill tersebut.

Karena merasa mampu, Opekiu tidak pernah mengeluhkan tabiat negatif Uvewe. Bagi orang lain, Opekiu seperti menjadi mesin uang bagi Uvewe. Bahkan ada yang menilai Opekiu adalah manusia bodoh yang selalu dimanfaatkan oleh Uvewe.

Sesungguhnya pertemanan yang dijalani oleh Opekiu dan Uvewe tidak akan langgeng karena pengorbanan hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Jika suatu saat Opekiu tidak lagi memiliki kemampuan dari sisi materi, biasanya orang yang bertipe seperti Uvewe akan meninggalkannya.

Lain lagi ceritanya dengan hubungan pertemanan antara Epel dan Sinchan.

Mereka memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Epel adalah orang kaya sedangkan Sinchan berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Setiap kali mereka pergi makan, tidak pernah sekalipun Epel membiarkan Sinchan untuk membayar bill makanan. Walaupun saat Sinchan baru saja menerima kiriman duit dari orang tuanya dan bersikeras untuk membayar bill, namun Epel dengan cekatan segera menuju ke meja kasir untuk membayarkan bill tersebut.

Akibatnya, beberapa kali, saat Epel mengajak Sinchan pergi makan, selalu ditolak oleh Sinchan dengan beribu satu alasan. Sinchan merasa segan selalu ditaktir. Epel mengetahui hal tersebut juga mengeluarkan "jurus lain" agar dapat mengajak Sinchan keluar makan bersama.

Epel merasa kasihan terhadap Sinchan. Dia merasa wajib untuk membantu Sinchan karena merasa Sinchan adalah teman yang amat baik, tidak neko-neko dan penuh perhatian. Selama ini Sinchan banyak membantunya dalam bidang pelajaran dan berbagai kesulitan lainnya. Sinchan juga bersedia menjadi tempatnya mengadu saat sedang dirundung masalah.

Dan yang paling penting, Sinchan tidak pernah mau menerima bantuan materi apapun dari Epel, walaupun sedang tidak memiliki uang di akhir bulan dan terpaksa harus makan mie instan setiap hari.

Karena keteguhan hatinya, pernah suatu kali, saat Epel belum menerima kiriman uang dari orang tuanya, sementara batas pembayaran uang kuliah sudah hampir habis, Epel menyiasatinya dengan berpura-pura memberikan pekerjaan mengetik makalah untuk Sinchan dengan imbalan yang cukup untuk membayar uang kuliah Sinchan.

Sesungguhnya hubungan pertemanan yang dijalani oleh Epel dan Sinchan adalah hubungan persahabatan yang tulus karena mereka berdua tidak memiliki niat buruk untuk memanfaatkan yang lainnya.

Mereka merasa cocok serta dapat menerima kelebihan dan kekurangan sahabatnya. Saling membantu dengan cara elegan dan tidak terlihat memojokkan sahabat yang lain.

Sobatku yang budiman…

Begitu banyak momen yang tercipta sehingga terjalin hubungan pertemanan yang baik. Saat kita berkenalan dengan seseorang atau menyapa seseorang di medsos tanpa pernah bertemu, saat itulah kita menganggap seseorang itu adalah teman kita.

Meningkatnya status pertemanan menjadi persahabatan membutuhkan waktu yang panjang dan berliku. Kebersamaan yang dilandaskan oleh niat tulus untuk membantu di saat susah, sering kali menjadi acuan "naik kelas" dari teman menjadi sahabat.

Persahabatan itu tidak memandang status sosial, kondisi fisik, suku, agama dan warna kulit. Sahabat akan hadir dalam kehidupan kita saat suka terutama duka.

Saat kita sedang bersedih, sahabat akan hadir untuk menghibur, mencandai dan menggokilin kita supaya suasana dipenuhi oleh canda tawa. Mengajak kita keluar untuk melupakan masalah yang membuat hati galau.

Namun, saat sahabat kita sedang mengalami kesulitan, segera ulurkan tangan selebar-lebarnya merangkul dan menampung semua keluh kesahnya, menghibur dan memberikan solusi jitu untuk menyelesaikan permasalahannya.

Hubungan persahabatan yang sudah terjalin dengan baik harus dipelihara seperti tanaman. Harus diberi pupuk jika tanamannya bantet, harus diberi pestisida saat diserang oleh serangga pengganggu dan harus disirami agar tidak menjadi gersang.

Persahabatan, tidak melulu lancar seperti jalan tol. Berbagai cobaan dan rintangan sering kali datang untuk menguji, baik dari dalam diri yang sedang tidak stabil, maupun dari pihak luar yang tidak suka dengan hubungan ini.

Kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan. Semuanya harus dilewati dan diselesaikan sesegera mungkin. Jangan berlarut-larut, karena akan membuat status hubungan "turun kelas" atau bahkan menjadi bubar. Persahabatan sejati akan dapat mengatasi cobaan ini bahkan bertumbuh bersamanya.

Seorang sahabat tidak pernah membungkus pukulan dan tikaman dengan ciuman. Tidak akan pernah menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena sayangnya, dia memberanikan diri menegur dan menasehati. Memberi penjelasan dengan kalimat yang sejuk dan membangun. Tidak akan membiarkan sahabatnya terjerumus dengan kesalahan yang sama.

Banyak orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun tidak sedikit yang mampu mempertahankannya. Mereka harus menerima kenyataan bahwa persahabatan yang telah terjalin menjadi hancur berkeping-keping karena sebuah pengkhianatan.

Ingatlah siapa yang berada di samping kita saat kita berada dalam kesulitan? Siapa yang mengasihi saat kita merasa tidak dicintai dan sendirian? Siapa yang mengangkat kita saat kita terjatuh? Siapa yang ingin bersama kita saat kita tidak berdaya dan tidak dapat memberikan apa-apa? Siapa yang paling sering membuat kita tersenyum dan tertawa lepas saat hati sedang dirundung kepedihan?

MEREKALAH SESUNGGUHNYA SAHABAT SEJATI…

Untuk itu, hargai dan peliharalah selalu persahabatan kita dengan mereka. Hingga suatu saat kelak, ketika mendengar nama kita, lantas dia akan tersenyum dan berkata kepada anak cucunya : "Dia adalah Sahabat Terbaikku… "

Seorang sahabat akan mendengarkan lagu di dalam hati kita dan menyanyikan kembali saat kita lupa akan syair lagu itu.

Seorang sahabat akan berkata : "Aku tidak mau berjalan di belakangmu karena aku tidak mampu mengikutimu. Aku tidak mau berjalan di depanmu karena aku tidak mampu memimpinmu. Namun, berjalanlah di sampingku untuk melangkah bersama-sama…."

Mempunyai satu sahabat yang mau mengerti kita, jauh lebih berharga dari seribu teman yang egois dan mementingkan kepentingan diri sendiri.

#firmanbossini #2016
#inspirasi #motivasi #renungan
Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“JALAN PINTAS MENJADI PENGHUNI SURGA”

Saat mengadakan wisata alam menyusuri hutan yang masih asri, Opekiu berniat untuk beristirahat melepaskan lelah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mengejar rombongan wisata di depannya.

Saat ini Opekiu tertinggal sendirian di tengah hutan. Pemandu wisata berani membiarkan Opekiu seorang diri tertinggal dari rombongan karena Opekiu sudah berpengalaman berpuluh-puluh kali keluar masuk hutan ini dan pernah menginap selama sebulan di hutan yang dipenuhi tumbuhan menjulang tinggi ke atas.

Hingga akhirnya, Opekiu berhasil menemukan sebuah gua kecil yang hanya sanggup dimasuki oleh beberapa orang saja.

Saat berada di dalam gua, tiba-tiba terdengar suara batuk yang cukup keras. Opekiu segera mengarahkan senternya ke arah suara.

Ternyata, di atas sebuah batu besar, seorang pemuda kurus tanpa baju sedang duduk bertapa dalam kondisi mata terpejam.

Opekiu menyapa : "Wahai anak muda… Sedang apakah kamu seorang diri di sini…?"

Pemuda tersebut tidak bergeming. Tubuhnya diam kaku tanpa gerakan sedikitpun.

Opekiu menyapa lagi : "Apakah kamu seorang manusia atau jin jadi-jadian yang ingin menguji keimananku…?"

Pemuda itu tetap tidak bergerak. Hanya terdengar sedikit suara helaan nafas yang pelan, diantara suara hembusan angin yang teratur keluar dari kedua lubang hidungnya.

Opekiu semakin penasaran. Dia berjalan mendekati pria yang berambut gondrong dan awut-awutan tersebut. Mencolek lengannya sambil berkata : "Kamu ini pasti seorang manusia. Jangan-jangan kamu sedang mencari wangsit untuk menjadi kaya atau ingin mendapatkan promosi jabatan atau ingin memelet hati seorang wanita…?"

Pertanyaan bertubi-tubi yang dirasa kurang pantas, membuat pria itu perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Namun mulutnya masih enggan mengeluarkan suara.

Opekiu bertanya lagi : "Mengapa kamu duduk bertapa atau beryoga atau bermeditasi seorang diri di hutan ini…"

Akhirnya suara yang dinantikan Opekiu keluar juga dari mulut pemuda yang sebenarnya terlihat ganteng dengan kedua bola mata bulat nan indah.

Pemuda : "Perkenalkan… Nama saya Uvewe. Saya baru saja meninggalkan kehidupan duniawi yang penuh kemunafikan. Saya ingin membuang beban nafsu kejahatan yang masih melekat di dalam batinku. Saya berharap dengan mengasingkan diri dari kehidupan manusia, maka saya dapat diterima sebagai penghuni surga…."

Opekiu tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan jawaban Uvewe. Dia tidak menyangka, di masa modern sekarang ini, masih ada manusia yang berpikiran segampang ini.

Lantas Opekiu mengambil sebuah batu persegi dan mulai menggosoknya dengan menggunakan batu lain sehingga menimbulkan suara gaduh.

Uvewe : "Apa yang sedang kamu lakukan…? Mengapa kamu menggosok-gosok batu persegi itu?"

Opekiu : "Saya ingin menggosoknya menjadi sebuah permata…"

Uvewe tertawa mendengar jawaban Opekiu : "Manusia bodoh… Mana mungkin sebuah batu biasa dapat dibuat menjadi batu permata yang indah. Perbuatan tolol ini hanya akan berakhir sia-sia saja…"

Opekiu bertepuk tangan, lalu berkata : "Ternyata kamu adalah manusia cerdas. Sesungguhnya kamu sedang menegur dirimu sendiri. Bahkan kamu juga menjuluki dirimu manusia bodoh dan tolol…"

Uvewe : "Kurang ajar…Coba kamu jelaskan sejelas-jelasnya, maksud perbuatan kamu…"

Opekiu : "Karena batu biasa tidak dapat digosok menjadi permata, bagaimana kamu berharap dengan mengasingkan diri dari kehidupan duniawi dan melakukan tapa atau meditasi, lantas dapat mengubah dirimu menjadi manusia baik dan berharap menjadi salah satu penghuni surga…?"

Jawaban yang jelas, gamblang dan jitu segera menyadarkan Uvewe dari pikirannya yang sesat dan salah.

Uvewe : "Jadi… Apakah yang harus saya lakukan untuk menjadi penghuni surga..?"

Opekiu : "Berbuat baik kepada sesama dengan tulus dan ikhlas tanpa memandang perbedaan. Menjauhi larangan Tuhan. Mendekatkan diri dan berserah kepada Tuhan. Syukuri nikmat yang ada. Bertoleransi dan bertenggang rasa kepada siapapun juga tanpa terkecuali. Dan yang tidak kalah pentingnya, yakin dan percaya dengan kitab suci dan ajaran agama yang kamu anut…."

Uvewe : "Hanya itu saja…?"

Opekiu : "Masih banyak lagi, namun yang saya sampaikan adalah intisarinya. Eits… Ngomong-ngomong, kamu akan membayar berapa atas wejangan yang barusan saya berikan? Sekadar kamu tahu, biaya untuk mendatangkan motivator ulung kayak M.Teguh itu mencapai puluhan juta loh…"

Uvewe : "Tapi kamu bukan M.Teguh… Noh ambil saja 'batu permata' yang tadi kamu gosok… Inilah upah atas nasehat super kamu…."

Opekiu : "Owalah, cuma dapat imbalan sebuah batu. Lumayanlah bisa digunakan untuk mengasah pisau yang tumpul…"

Sobatku yang budiman…

Tidak semua jalan pintas akan membawa kita ke tujuan dengan lebih cepat. Kadang kala, karena tidak mengenal jalan pintas dengan baik, malah akan membuat kita berputar-putar dan kembali ke tempat semula atau bahkan mengarahkan kita ke jalan yang tidak benar.

Tidak jarang sebuah jalan pintas akan berakhir dengan kebuntuan. Kebanyakan jalan pintas yang tersedia justru membawa kita ke jurang kehancuran

#firmanbossini #renungan
#inspirasi #motivasi #ceritakehidupan #2016
Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in Agama | Leave a comment

“JANGAN MINDER”

"JANGAN MINDER"

Jangan minder ngekost di kamar berukuran kecil karena penghasilan masih belum selevel manajer, padahal teman-temanmu sudah ngekost di kamar berukuran gede dan ber-AC walaupun harus menghabiskan setengah dari gaji mereka sebulan. Sebab suatu saat nanti kamu akan memiliki rumah idaman yang besar dan asri sedangkan teman-temanmu masih menyewa rumah petak.

Jangan minder naik angkot atau sepeda motor jika kamu belum terlalu memerlukan mobil, padahal teman-temanmu sudah mulai kredit mobil meskipun gaji mereka pas-pasan. Sebab suatu saat nanti, kamu akan mengendarai mobil Mercedes Benz sedangkan teman-temanmu masih mengendarai mobil jadul yang mereka beli pertama kali.

Jangan minder makan di warteg padahal teman-temanmu selalu makan di kafe atau restaurant mahal. Sebab suatu saat nanti, kamu sudah memiliki cukup tabungan untuk makanan seumur hidupmu, mau di kafe maupun restoran termahal sekalipun sedangkan teman-temanmu harus mencari kerja sampingan untuk menutupi kebutuhan hidupnya.

Jangan minder setiap liburan panjang hanya menghabiskan waktu di kampung halaman, padahal teman-temanmu terbang ke luar negeri meskipun harus menggesek kartu kredit. Sebab suatu saat nanti, kamu dapat menikmati liburan ke seluruh dunia bersama anak cucu sedangkan teman-temanmu hanya melihat keindahan dunia dari internet saja.

Jangan minder menggunakan handphone jadul padahal teman-temanmu setiap bulan selalu gonta-ganti model handphone terbaru walau masih bergaji minim. Sebab suatu saat nanti, kamu sudah memiliki toko handphone sedangkan teman-temanmu sibuk mencari pinjaman untuk menutupi cicilan kartu kredit sambil menenteng handphone tercanggih.

Jangan minder membawa bontot ke tempat kerja, padahal teman-temanmu sibuk memesan makanan mahal via Gojek. Sebab suatu saat nanti, kamu sudah dapat menikmati masa pensiun dengan tenang sedangkan teman-temanmu masih bersusah payah bekerja penuh padahal badan mereka sudah renta.

Jangan minder membelikan calengan dan mengajarkan anakmu untuk menabung, padahal orang tua yang lain berlomba-lomba memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas dan aneka mainan yang berharga selangit. Sebab suatu saat nanti, kamu tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah anakmu di kampus favorit sedangkan teman-temanmu justru memaksa anak-anaknya bekerja dengan alasan pendidikan tidak penting, padahal alasan utamanya karena tidak memiliki dana cadangan pendidikan.

Jangan minder setiap akhir pekan hanya menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta di rumah atau di tempat yang tidak memerlukan tiket masuk, sedangkan teman-temanmu pergi menonton bioskop atau berkaraoke ria bersama keluarga mereka. Sebab suatu saat nanti, kamu tidak perlu memikirkan hiburan karena semua sudah tersedia di rumah sedangkan teman-temanmu juga turut menghabiskan waktu mereka di rumahmu karena tiket nonton atau karaoke yang mahal.

Jangan minder dengan gaji 3 juta, namun kamu dapat menyisihkan dana 30 % sebagai tabungan hari tua, padahal teman-temanmu sudah bergaji 15 juta, namun tidak dapat mengontrol diri dengan pengeluaran juga sebesar 15 juta. Apa bedanya mereka dengan pegawai yang bergaji UMR yang tidak dapat menabung sama sekali? Saat terjadi sesuatu hal, misalnya dipecat, mereka yang bergaji tinggi, harus mencari uang sebesar 15 juta untuk menutupi kebutuhan hidupnya selama ini.

Sobatku yang budiman…

Abaikan pendapat orang yang mengatakan "uang tidak bakal dibawa mati, untuk apa susah-susah ngirit. Nikmati aja selagi masih hidup". Pendapat ini tidak salah jika kamu langsung mati begitu uangmu habis. Bagaimana jika kamu masih hidup namun uang tabungan sudah nihil?

Banyak diantara kita terjebak oleh nafsu keinginan. Membelanjakan barang karena keinginan bukan karena kebutuhan. Pemasukan satu koper tapi pengeluaran dua koper. Akhirnya sibuk mencari pinjaman atau menggesek kartu kredit. Ujung-ujungnya, gali lobang – tutup lobang untuk memenuhi nafsu gaya hidup.

Berhemat bukan berarti pelit atau kikir. Jangan pula hanya makan nasi putih berlaukkan telor mata sapi setiap hari. Atau tetap mengenakan pakaian yang sudah kumal dan luntur saat keluar rumah. Yang terpenting kebutuhan pokok dapat terpenuhi, sedangkan kesenangan yang lain dapat ditunda dulu demi memperoleh kesenangan yang lebih tinggi di masa tua kelak.

Berhemat bukan berarti memaksakan diri untuk menabung sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan kesehatan. Akhirnya tubuh menjadi cepat rusak atau aus dan tidak mampu lagi untuk mencari uang.

Berhemat jangan asal berhemat, misalnya dengan menggembok lemari uang agar tidak ada uang yang keluar. Atau membuang kartu ATM yang menjadi sumber petaka pemborosan, sehingga setiap gajian, uang yang masuk ke tabungan tidak bisa keluar lagi.

Kita harus bijaksana, dapat memilih barang yang wajib dibeli dan barang yang dapat ditunda. Jangan tergiur dengan promosi diskon yang kadang menyesatkan.

Perilaku hemat pasti akan berujung kebahagiaan. Saat sudah memasuki masa pensiun, kita sudah memiliki dana yang cukup untuk bersenang-senang sembari menunggu perintah dari Sang Pencipta : "Wahai si anu… Kontrakmu sudah habis. Ayo kita pulang…"

#firmanbossini #inspirasi #motivasi
Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“GELAR SARJANA”

<Kamis, 20 Juli 2017 OOR 13:20>

Suatu ketika, Abece pernah diledek oleh temannya, Sutet yang telah berhasil menamatkan kuliah S2 di luar negeri dengan menyandang titel mentereng di depan dan dibelakang namanya.

Saat berkunjung di rumah Sutet, di depan pagar halamannya, tergantung sebuah plang nama yang terbuat dari ukiran kayu jati. Tertulis : "Ini Rumah IR. SUTET MANUKWAWALI, MSC"

Abece bingung dengan istilah singkatan gelar yang menyertai nama Sutet. Heran karena hanya ada beberapa huruf saja.

Abece : "Bro, sebenarnya kepanjangan IR dan MSC itu apaan sich…? Saya kok belum pernah dengar…?"

Sutet : "IR itu adalah singkatan dari kata Insinyur, sebuah gelar strata satu (S1) yang diperoleh di Indonesia. Itupun sekarang tidak digunakan lagi, diganti dengan Sarjana Teknik (ST), Sarjana Pertanian (SP), dan lain-lain, sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari. Sedangkan MSC itu singkatan dari Master of Science, gelar strata dua (S2) yang saya peroleh dari universitas di Amerika. Keren bukan…?"

Abece : "Memangnya bisa suka-suka kita menambahkan gelar di depan maupun di belakang nama kita…"

Sutet : "Boleh saja, asalkan kita benar-benar sudah tamat kuliah dan memperoleh ijazah tanda kelulusan…"

Abece : "Oh begitu yah… Makin pusing diri eike mendengar penjelasanmu…"

Karena terus dihina dan dikata-katai oleh Sutet, ditambah lagi dengan begitu banyak tetangganya yang menambahkan gelar sarjana di papan nama rumahnya, membuat Abece merasa malu dan rendah diri. Gengsinya turun jika tidak menggunakan gelar sarjana di depan atau di belakang namanya.

Abece tidak mau kalah dan membuat sebuah papan nama besar dengan warna mencolok. Setiap huruf diberikan warna merah, kuning, hijau, merah jambu, ungu dan coklat, secara selang seling. Papan nama tersebut terlihat begitu norak dan tidak lazim. Selalu menjadi pusat perhatian bagi setiap orang yang melewati rumah Abece.

Tulisannya juga besar kecil, sesuai selera Abece. Huruf konsonan ditulis dengan huruf besar dan huruf vokal ditulis dengan huruf kecil. Bagi sebagian orang, papan itu sangat lebay, kampungan dan menjadi papan nama terjelek yang pernah ada di muka bumi.

"iR. aBeCe WaKGaNTeNG, SH, MM, M. KeS, MBa". Begitulah tulisan yang tertera di papan nama yang tergantung di tembok rumah Abece.

Suatu hari, Sutet berkunjung ke rumah Abece dan melihat papan nama unik yang bertuliskan nama Abece, lengkap dengan gelar-gelar akademiknya. Dia merasa Abece tidak mungkin dapat memperoleh gelar sarjana sebanyak itu dalam waktu singkat.

Sutet : "Bro, kok gelar kamu banyak banget…? Emangnya kamu pernah kuliah…"

Abece : "Belum lah bro… Sssttt, semua gelar itu punya singkatan masing-masing…"

Sutet : "Hah…? Singkatan apa?"

Abece tersenyum tanpa dosa : "Ini Rumah, ABECE WAKGANTENG, Setiap Hari, Mondar Mandir, Mencari Kerja Sampingan, Mohon Bantuan Alakadarnya."

Sutet : "Owalah… Ada-ada aja kamu, bro…"

Gubrakkk…

#firmanbossini #joke #gokil #ceritalucu #abece #gelarsarjana Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Joke | 1 Comment