“MEMBUKA AIB”

<Senin, 21 Agustus 2017 OOR 07:06>

Suatu ketika saya pernah berdebat dengan seorang teman, sebut saja namanya Joni, mengenai masalah aib. Kebetulan teman saya ini orang tidak pintar menyimpan rahasia. Semua yang diketahuinya akan segera disampaikan kepada orang lain tanpa filter. Bahkan untuk masalah yang bukan urusannya.

Joni : “Kalau memang ada yang tidak benar, tidak ada salahnya jika saya menyampaikan kepada orang lain…”

Saya : “Tidak semua hal boleh disampaikan kepada orang lain. Kita harus memilah mana yang boleh disampaikan dan mana yang sama sekali tidak boleh disampaikan…”

Joni : “Saya tidak sependapat dengan kamu. Bukankah ini dapat menjadi pelajaran buat yang lain…?”

Saya : “Begini yah… Apakah layak, masalah kekurangan fisik manusia, misalnya ada bisul di ketiak seseorang, perlu kamu sampaikan kepada orang lain? Pantaskah percekcokan suami isteri diberitahukan kepada orang lain? Bolehkah kamu membesar-besarkan masalah kesulitan ekonomi seseorang kepada orang lain? Benarkah kelakuan kamu jika kamu menceritakan tentang masa lalu seseorang kepada orang lain?”

Joni : “Memangnya kenapa? Dimana masalahnya? Apa salah…?”

Saya : “Tentu saja salah… Maukah kamu jika seseorang menceritakan masa lalu kamu yang pernah terlilit hutang karena judi? Bersediakah kamu jika seseorang membeberkan tompel berambut di kaki kirimu? Relakah kamu jika kehidupanmu bersama isterimu yang sering diwarnai pertengkaran itu menjadi bahan gunjingan orang lain? Marahkah kamu jika seseorang menyampaikan bahwa kamu pernah berhutang tapi tidak pernah kamu lunasi hingga sekarang?”

Joni terdiam sejenak, lalu berkata lemah : “Dari mana kamu tahu semuanya? Apakah semua orang sudah tahu?”

Saya menggelengkan kepala : “Saya tidak tahu pasti… Sejujurnya, apa yang kamu lakukan selama ini sudah membuat banyak orang marah. Mulutmu tidak mampu menyimpan rahasia. Lidahmu telah menyakiti hati orang. Kamu tidak sadar, bahwasanya mereka yang telah kamu sakiti, berusaha mencari-cari kekuranganmu di masa lalu dan di masa kini. Mereka masih masih menyimpan rahasia ini karena saya berusaha menahannya…”

Joni : “Tolong jangan dibuka rahasiaku…”

Saya : “Bukan saya yang akan membuka aibmu. Melainkan kamu sendiri yang memancing orang untuk membukanya…”

Joni : “Apa yang harus saya lakukan…?”

Saya : “Stop menceritakan aib siapapun kemana-mana…”

Joni : “Baik… baik… Saya akan menjaga mulutku mulai detik ini…”

Sobatku yang budiman..,

Sebagian dari kita ada yang suka membuka aib temannya, saudaranya dan barangkali orang yang tidak dikenalnya. Menceritakan aib tersebut disertai dengan bumbu-bumbu. Mengarang-ngarang cerita sehingga menarik minat orang lain. Bahkan hal yang bersifat pribadipun akan disampaikan.

Aib tidak sama dengan kejahatan. Menceritakan atau melaporkan tentang korupsi atau perbuatan jahat seseorang kepada pihak yang berkompeten, itu tidak menjadi masalah. Sebab perbuatan ini merugikan kepentingan orang lain.

Namun, menceritakan masalah kekurangan fisik manusia, membeberkan kebiasaan buruk seseorang yang tidak merugikan orang lain atau menggosipkan masalah internal rumah tangga, ini yang tidak diperbolehkan.

Jika seseorang berani membuka aib sesamanya, maka semua aib hidupnya yang tersembunyi dengan baik selama ini, pasti akan terkuak satu persatu, pada waktu dan kesempatan yang tidak terduga. Oleh sebab itu, jika tidak ingin membuka aib kita sendiri maka seyogyanya kita harus dapat menutup aib orang lain. Siapapun yang menutup aib orang lain dengan rapat, maka Tuhan pasti akan menutup aibnya.

Semoga Tuhan selalu membimbing kita agar berada di jalan kebijaksanaan dan kebaikan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #aib #agust2017 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in PENGALAMAN PRIBADI | Leave a comment

“CINTA DAN KESETIAAN”

<Jumat, 18 Agustus 2017 OOR 18:08>

Suatu ketika, saya berjumpa dengan Alex, sahabat lamaku semasa kuliah. Dari perbincangan singkat, saya tahu bahwa Alex sekarang sudah menjadi orang sukses. Bisnis kuliner berhasil mengantarkannya memiliki sebuah restoran ternama di kotanya.

Alex mengundang saya untuk makan malam bersama isterinya di restoran miliknya. Sayangnya, saat berkunjung di kota kelahiran Alex ini, saya tidak membawa keluarga karena urusan bisnis,

Saat jam menunjukkan pukul 18:45 saya sudah tiba di restoran dengan menggunakan taxi. Setelah mengenalkan namaku, pelayan segera mempersilakan diriku masuk ke sebuah ruangan VIP.

Tepat pukul 19:00 seperti yang dijanjikan, Alex mengetuk pintu dan masuk ke dalam bersama seorang wanita yang duduk di atas kursi roda. Sejenak saya berdiri dan menyalami keduanya. Alex memperkenalkan wanita tersebut sebagai isterinya. Saya tersenyum kepada wanita itu, namun dalam hati menunjukkan sedikit keterkejutan karena Alex tidak sungkan dan ragu mengenalkan isterinya yang cacat.

Dalam perbincangan santai, saat menikmati santap malam, berulangkali Alex membanggakan kelebihan isterinya. Tidak pernah sekalipun mengungkit kekurangan wanita yang telah dinikahinya selama 16 tahun dan telah melahirkan seorang putera yang sekarang duduk di bangku SMA.

Acara makan malam berlangsung akrab. Usai dinner, sang isteri meminta izin untuk menemui temannya di ruangan sebelah. Sambil menunggu isteri Alex menyelesaikan obrolannya, kami berdua menunggu di meja kosong, tepat di depan ruangan yang sedang dikunjungi isteri Alex. Lantas Alex menceritakan tentang kecelakaan yang menyebabkan isterinya mengalami kelumpuhan.

Karena kekurang hati-hatian dari seorang pengguna motor, sang isteri terlempar hingga beberapa meter ke aspal karena ditabrak pemuda itu. Saraf belakangnya terluka dan berimbas hingga isterinya tidak dapat berjalan secara normal lagi.

Terlihat raut kesedihan dari wajah Alex saat mengenang kejadian tersebut. Namun sedikitpun tidak tampak kecanggungannya menceritakan musibah yang menimpa isterinya.

Alex : “Saya justru semakin cinta kepada isteriku. Saya kasihan dengan kondisinya sekarang, yang harus mengekang kebebasannya. Sebelumnya isteriku adalah wanita yang aktif dan dinamis. Beberapa waktu sejak kejadian itu, isteriku sempat down, karena tidak kunjung sembuh…”

Alex menghela nafas sejenak sembari melihat ke arah isterinya yang sedang asyik bersenda gurau dengan temannya.

Alex : “Di saat isteriku sakit, saya mengurangi kegiatanku di luar rumah. Pagi hari saya pergi kerja, setelah menikmati sarapan bersamanya. Siang harinya, saya kembali ke rumah untuk menemaninya makan siang. Dan sore harinya saya cepat pulang dari kantor, untuk bercengkerama dengannya…”

Saya : “Setiap hari…?”

Alex mengangguk : “Yah, itulah keseharianku selama beberapa tahun belakangan ini. Setiap Sabtu, Minggu dan hari libur, saya pasti akan mengajaknya liburan. Ke taman, ke pantai, ke tempat rekreasi dan kadang kala pergi ke mall. Berdua saja, jarang sekali saya mengajak suster yang merawatnya…”

Secara spontan saya berucap : “Anda sungguh luar biasa. Suami yang begitu baik dan bertanggungjawab…”

Alex tersenyum : “Di saat saya sedang bersama isteriku, tidak seorangpun yang boleh mengambil waktuku dari isteri tercintaku. Segala panggilan bisnis, pasti akan kutunda hingga besok hari. Urusan kerjaan tidak pernah saya bawa ke rumah. Pokoknya saat bersama isteriku, tidak ada seorangpun yang boleh menggangguku. Saya tidak peduli dengan uang. Isteriku jauh lebih berharga dari lembaran-lembaran kertas berangka.”

Saya menepuk pundak Alex : “Saya bangga dengan kesetiaanmu. Ini tentunya menjadi pelajaran yang berarti buatku…”

Alex : “Tengkiu bro… Saya ingin selalu ada untuk isteriku. Bila harus keluar rumah, seperti sekarang ini, saya selalu mengajak isteriku pergi bersamaku…”

Alex memanggil seorang pelayannya agar menyediakan minuman untuk kami berdua, lalu Alex melanjutkan : “Melalui musibah ini, Tuhan mengajarkan diriku tentang arti cinta dan kesetiaan. Banyak sekali godaan datang ke dalam benakku, namun saya sama sekali tidak bergeming. Saya masih ingat, bagaimana saat muda dulu, saat saya bukanlah apa-apa, isteriku begitu setia menemaniku. Tidak peduli dengan hujan dan terik matahari saat dibonceng. Tidak juga peduli dengan cibiran dari saudara dan sahabatnya. Isteriku bahkan semakin sayang kepadaku. Memompa semangatku agar tidak menyerah. Semua ini dilakukannya dengan penuh keikhlasan. Nah, bagaimana mungkin saya tega mencurangi kesetiaannya saat dirinya sedang sakit?”

Obrolan kami terputus karena sang isteri melambaikan tangannya memanggil Alex. Dengan tergopoh-gopoh Alex masuk ke dalam ruangan untuk menuntun kursi roda yang sedang diduduki sang isteri keluar ruangan.

Saya melihat dengan jelas, perlakuan Alex kepada isterinya. Menggamit mesra tangan isterinya. Menuntun kursi roda dengan amat sabar, selangkah demi selangkah. Padahal, semua ini dapat dilakukan oleh suster, yang memang sengaja ditinggalkan di rumah.

Sesampainya di halaman restoran, sebuah mobil mewah telah menunggu mereka. Sang supir berdiri di samping mobil. Tidak terlihat membantu Alex, mungkin ini merupakan instruksi Alex agar tidak membantunya.

Alex membukakan pintu mobil dan mendudukkan isterinya ke dalam mobil dengan penuh kehati-hatian. Memastikan sang isteri tercinta duduk nyaman.

Setelah itu, Alex menyalami diriku sambil berkata : “Senang sekali bertemu dengan kamu. Kapan-kapan, ajaklah keluargamu ikut kemari. Nanti kita makan malam bersama isteriku. Tadi isteriku menanyakan ketidakhadiran isterimu…”

Saya tersenyum sambil melirik ke dalam mobil. Mengangguk dan melambaikan tangan ke arah isteri Alex.

Saya : “Suatu hari nanti, saya pasti akan mengajak keluarga kecilku berkunjung ke kota ini…”

Sobatku yang budiman…

Banyak sekali kita dengar di sekitar kita, seorang pria tega meninggalkan isterinya demi wanita lain. Bukan karena sang isteri sedang sakit atau berkekurangan, namun hanya untuk memuaskan hasrat keduniawiannya.

Seorang Alex, dengan kelimpahan hartanya, akan sangat mudah menggaet wanita lain, meninggalkan isterinya yang sakit. Namun ternyata sama sekali tidak dilakukannya. Alex mampu menepis godaan-godaan yang menggiurkan.

Sungguh luar biasa apa yang ditunjukkan Alex, seorang pengusaha kuliner sukses. Walaupun memiliki kemampuan lebih, namun tidak sedikitpun terbersit untuk mengkhianati cinta sejatinya.

Kita semua patut belajar tentang arti cinta dan kesetiaan, pengabdian dan keikhlasan darinya. Memang benar, kesetiaan dan kehormatan tidak mungkin dapat dipisahkan oleh apapun juga. Seseorang yang setia pasti akan dihormati.

Cinta adalah kesetiaan. Orang-orang yang setia, pasti akan memperoleh cinta, kasih sayang dan perlakuan yang terbaik dari pasangannya. Sesuatu yang belum tentu didapatkan dari orang lain.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #cinta #kesetiaan #gus2017 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in PENGALAMAN PRIBADI | Leave a comment

“DIRGAHAYU RI-72 (17-8-17)

<Kamis, 17 Agustus 2017 EPOT 09:00>

Negeriku adalah negeri terindah seantero jagad. Gugusan 17-ribuan pulau membentang bagaikan jamrud khatulistiwa nan elok memukau. Aneka kekayaan alam, mulai dari hasil tambang, hasil bumi, beragam tumbuhan dan binatang “tertata” rapi di dalam hutan, gunung, daratan dan lautan sebagai anugerah Tuhan yang tiada ternilai.

Negeriku bukanlah milik sekelompok orang yang merasa paling berjasa bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini. Negeriku ini mutlak menjadi milik seluruh penduduk yang memiliki bukti otentik sebagai warga negara Indonesia, tanpa memandang suku, agama, ras dan warna kulit.

Negaraku bukan negara maya yang dapat dikelola dan diatur melalui sosial media, oleh orang-orang yang memiliki kegemaran berselancar di dunia maya tanpa pernah melakukan sesuatu aksi nyata demi kemajuan negeri. Bukan pula negara yang memandang bahwa hanya facebook, twitter, instagram dan media sosial lainnya sebagai satu-satunya sarana yang mampu untuk menata sebuah negara.

Negaraku adalah negara besar, bukan negara kecil-kecilan, yang dapat dipimpin oleh mereka yang berpikiran picik dan berwawasan kerdil yang hanya mengutamakan kepentingan kelompok atau golongannya. Tidak juga oleh mereka yang berpikiran bahwa negeri ini adalah sapi perah yang dapat diperas dan hartanya dapat dirampok untuk kepentingan pribadi. Atau mereka yang memiliki hasrat terpendam ingin menjadi seorang raja kecil di negeri antah berantah.

Negaraku juga bukan negara para pengamat, yang senang memberikan penilaian dari kacamata kuda yang dikenakannya demi sebuah kepentingan culas atau sesuai pesanan dari para cukong perampok negara. Mereka yang lebih senang membalut hasil pengamatannya sebagai alasan untuk tampil eksis sebagai seorang yang hebat. Sebagian yang lain justru bertujuan untuk melariskan jualannya tanpa peduli akan bahaya prahara di negeri ini akibat propagandanya. 

Negaraku bukanlah negara “seandainya”. Mereka yang menjadi pemuja aliran “seandainya” akan selalu menganalisa kondisi negeri ini dalam balutan pesimistis dan cenderung untuk menakut-nakuti rakyat agar terpenuhi nafsu keinginan dalam menguasai negeri ini melalui jalan inkonstusional alias makar.

Para penggembos akan berseru lantang : “Seandainya si anu menjadi presiden maka negara ini akan segera kiamat, aset negara ini akan dijual kepada bangsa lain, negara ini akan menjadi kuli di negerinya sendiri atau negara ini akan menjadi negara yang paling bobrok diantara negara-negara yang ada di dunia.”

Mereka akan lanjut memprovokasi dan menghasut bagaikan seorang pahlawan kesiangan : “Untuk itu, sebagai warga yang baik, kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Kita harus menjatuhkan pemimpin negeri ini. Yang layak menjadi pemimpin negeri ini adalah si anu. Jika ada yang setuju, mari berjuang bersama-sama dengan kami untuk melakukan regenerasi kepemimpinan negeri ini demi menyelamatkan negara tercinta ini.”

Negaraku juga bukanlah negara quasi, negara yang seolah-olah atau negara yang tidak jelas, hanya karena presidennya tampil kurang “macho”, sering “cengengesan” dan gemar blusukan tanpa mengenakan seragam safari atau jas berdasi dan tanpa menyandang pistol di pinggangnya. Padahal semua kebijakan yang dikeluarkan jauh lebih nekad dan berani, bahkan oleh mereka yang pernah mengenyam pendidikan militer. 

Jadi, bagi kita yang waras, akan menyadari bahwa roda pemerintahan sebuah negara tidak akan mungkin dijalankan secara virtual di dunia maya, yang selalu mengutamakan jumlah follower atau liker. Dunia yang mengutamakan kebutuhan pasar dengan beragam trik marketing, yang kadang berintrik murahan dan memuakkan.

Sobatku yang budiman…

Mari kita kembalikan negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi negara nyata, bukan negara maya atau negara jadi-jadian. Negeri ini adalah negeri impian yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan kerelaan mengorbankan segala kepentingannya tanpa pamrih. Negara yang dirumuskan oleh para pendiri yang berpikiran arif bijaksana dan berdiri di atas semua agama, suku dan golongan berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.

Negeri ini tidak mungkin dapat dirumuskan oleh para pengamat yang setiap hari mulutnya berkomat-kamit tidak jelas juntrungannya atau mereka yang berpikiran picik, berpura-pura berjuang untuk kepentingan negara, namun kenyataannya lebih mengutamakan kelompoknya. 

Kita tidak boleh membiarkan negara ini diintimidasi oleh para pengguna sosial media yang menggunakan akun tidak jelas ataupun mereka yang memiliki akun terakreditasi namun bertujuan untuk memecah belah persatuan bangsa. 

Kita tidak boleh memberi peluang sedikitpun kepada mereka yang gemar meremehkan kemampuan anak negeri serta berupaya mengobok-obok semua sendi kehidupan melalui pernyataan sarkasme picisan, hasutan yang disukai oleh sebagian pengguna medsos yang telah terkontaminasi nalar pikirannya. 

Jangan kita biarkan sekelompok penghuni tanah air tercinta melecehkan keagungan negeri ini dengan memuja-muja orang atau kelompok asing secara berlebihan. Ini Indonesia, bung…!!!

Mari kembalikan negara kita menjadi negara yang dihuni oleh manusia nyata, yang nyata-nyata bekerja dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa, bukan mereka yang seolah-olah berjasa dan menghujat warga lain sebagai warga kelas teri yang layak untuk dihujat oleh mereka.

Mari kembalikan negara ini menjadi negara besar, adidaya dan super nation yang bermartabat dan berwibawa yang dipimpin dan dilayani pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya, yang bekerja tanpa mengenal lelah dalam kesederhanaan, yang berupaya semaksimal mungkin memberantas keangkaramurkaan dari kelompok teroris yang meneror dan mengancam kehidupan rakyatnya. Kita siap dipimpin oleh pemimpin yang tetap tegar berjuang di jalur kebenaran walaupun selalu dihina dan dilecehkan mereka yang masih selalu berkutat dengan nyinyirannya.

Kita semua merindukan dan memimpikan sebuah bangsa yang berdaulat dibawah kepemimpinan yang bermartabat dan berwibawa. Pemimpin yang akan mengantarkan rakyat Indonesia kepada kehidupan yang aman, sentosa, adil dan makmur.

Untuk itu, kita harus berani menghentikan segala bentuk kebodohan yang melanda negeri ini, menjual kesalahan orang lain demi keuntungan sendiri, menghasut dan memprovokasi sekelompok warga yang kurang berpendidikan untuk membangkang terhadap pemerintahan yang sah dan berdaulat secara konstitusi. Hal yang dapat menimbulkan perang saudara, perang yang paatinya akan merenggut harta dan nyawa rakyat yang tidak berdosa serta mengkhianati cita-cita luhur para pendiri bangsa.

Bagi yang masih mencintai negeri ini dan masih ingin melihat keutuhan bangsa ini, marilah kita keluar dari pikiran picik yang merusak. Buang jauh-jauh keyakinan “merasa paling hebat” dan “merasa kebal hukum” karena masih bebas menyebarkan propaganda kebencian kepada mereka yang tidak sealiran dengan mereka.

Mari keluar dari pandangan sempit yang menganggap dirinya “tahu segala hal tentang negara ini” atau hanya dia dan kelompoknya yang mampu memimpin negeri ini, padahal hanya untuk menutupi realitas atas ketidakmampuannya bersaing menjadi pemimpin negeri ini.

Mari kita lawan para “penjajah modern” yang menjadikan negara kita menjadi negara maya, negara khayalan yang hanya sesuai untuk mereka, yang akan menjadikan mereka makmur di atas penderitaan rakyat.

Dan yang terakhir, marilah kita mendoakan pemimpin negeri agar tetap sehat dan berpikiran jernih, pemimpin yang sudah bekerja sepenuh hati di atas kebenaran, berjuang demi kepentingan rakyat, bukan sebaliknya mendoakan kejatuhan pemerintahan yang konstitusional.
 
Semoga negeri tercinta menjadi negeri yang terhormat, bermartabat dan disegani oleh seluruh bangsa di muka bumi. Aminnn…!!!

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-72…!!!

HIDUP MATIKU HANYA UNTUK INDONESIA RAYA…!!!

#firmanbossini #inspirasi #renungan #HUTRI72 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in POLITIK | Leave a comment

“DUA ORANG PAHLAWAN HIDUPKU”

<Senin, 14 Agustus 2017 OOR 14:10>

Tahun 1994 lahir seorang anak laki-laki di sebuah kampung kumuh di pinggiran kota. Anak yang diberi nama Sinchan ini terbilang sehat, memiliki berat badan ideal dengan paras yang ganteng, hidung mancung dan garis alis yang tebal. Terlahir dari rahim seorang wanita berusia tiga puluh dua tahun. Ayah Sinchan meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, saat usia kandungan baru menginjak empat bulan.

Ibu Sinchan merawat Sinchan seorang diri, masih dalam suasana sedih setelah ditinggal mati sang suami tercinta hingga Sinchan berusia tiga tahun. Belum sempat membesarkan putera tunggalnya hingga dewasa, ibunda Sinchan meninggal dunia karena luka parah di kepala, saat terjatuh dari pohon.

Alhasil, Sinchan harus hidup sebatang kara, memanggul beban sebagai anak yatim piatu. Untunglah nenek Sinchan berkenan merawat dan membesarkan Sinchan, sembari menghabiskan sisa-sisa masa tuanya.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, nenek Sinchan berusaha menunaikan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Berharap kelak Sinchan dapat menjadi pribadi yang mandiri dan sukses.

Tetangga terdekat mereka adalah Dodot, seorang pemuda tanggung yang memiliki keterbelakangan jiwa. Tidak gila, namun memiliki nalar pikir yang pendek dan tidak sempurna. Bersekolah hanya sampai kelas dua SD, terpaksa dikeluarkan pihak sekolah karena tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Kebanyakan mendapat nilai nol di hampir semua pelajaran.

Saat pertama sekali melihat keberadaan Sinchan yang masih berusia tujuh tahun, Dodot sudah menaruh perhatian lebih kepada Sinchan. Awalnya masih ragu-ragu mengajak Sinchan pergi bermain karena takut dimarahi nenek Sinchan. Namun karena tidak ada teguran, Dodot mulai berani mengajak Sinchan ke lokasi bermain baru yang letaknya cukup jauh dari kampung mereka.

Sungai merupakan lokasi favorit mereka, selain hutan dan sawah. Dodot mengajari Sinchan berenang, menangkap ikan dan berburu udang sungai. Bukan hanya melatih fisik, namun Dodot juga melatih mental Sinchan. Melatih kesabaran dalam berburu, melatih keberanian saat melintas jalan terjal dan memanjat pohon serta melatih disiplin saat belajar berenang.

Dodot amat menyayangi Sinchan, sehingga apapun yang diminta Sinchan pasti akan dipenuhi. Walaupun sedikit terbelakang, namun naluri kemanusiaannya jauh di atas orang normal. Saat Sinchan kehausan, Dodot segera memanjat pohon kelapa yang tinggi, menjatuhkannya ke tanah dan membuka kelapa muda itu dengan menggunakan parang yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.

Sinchan sendiri merasa nyaman berada di dekat Dodot. Hidupnya yang sepi karena ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, terobati oleh kehadiran Dodot. Perhatian dari seorang anak manusia yang memiliki mental terbelakang telah mewarnai kehidupan Sinchan.

Tetangga kedua yang cukup dekat dengan Sinchan adalah Betet. Seorang pemuda yang tidak pernah menikmati bangku sekolah karena orang tuanya sudah tiada. Paman dan bibi yang mengasuhnya tidak mampu menyediakan biaya pendidikan untuknya. Akibatnya, Betet tidak mengenal tulisan, tidak mampu membaca maupun menulis.

Setiap hari Betet bekerja sebagai penarik beca. Walaupun tidak mampu berhitung, namun untungnya Betet mengenal nominal rupiah dari warna dan gambar yang ada pada uang. Beberapa kali, Betet ditipu oleh penumpang yang nakal karena memberikan uang yang warnanya sudah memudar. Menyebutnya sebagai uang dua puluh ribu, padahal cuma dua ribu saja. Oleh karenanya, banyak orang memanggilnya si bodoh.

Betet amat menyayangi Sinchan. Dia merasa memiliki kedekatan dan hubungan emosi yang begitu kuat dengan Sinchan. Mungkin karena sama-sama merupakan anak yatim piatu. Setiap sore Betet selalu menyisihkan selembar uang dua ribuan, dipilih yang paling bersih dan baru, untuk diberikan kepada Sinchan sebagai uang jajan besok hari.

Betet sering mengajak Sinchan duduk di belakang becak yang didayungnya. Banyak penumpang menjadi mengenal Sinchan. Kadang Sinchan yang menerima uang dari penumpang dan memberikan uang kembalian yang benar. Saat Sinchan ikut serta, Betet tidak ditipu orang lagi.

Sinchan merasa gembira, saat diajak berkeliling kampung. Kerinduan kepada kasih sayang kedua orang tuanya sedikit terobati. Kebersamaannya bersama Betet dapat mengusir kesepian hidupnya selama ini.

Walaupun beberapa tetangga menasehati Sinchan agar tidak berteman dengan Betet karena takut ketularan bodohnya, namun Sinchan tidak mau peduli. Baginya perhatian dan pengorbanan Betet jauh lebih berharga daripada sekadar kata-kata tanpa aksi nyata.

Saat ini Sinchan telah berumur dua puluh tiga tahun. Baru saja menamatkan bangku kuliah sebagai lulusan terbaik.

Saat didaulat memberikan kata sambutan, dengan mata berkaca-kaca, Sinchan bercerita : "Saat ini saya berhasil meraih gelar sarjana. Sesuatu yang mungkin tidak akan saya bayangkan sebelumnya. Saya ini adalah seorang yatim piatu. Almarhum neneklah yang telah membesarkan saya, menyediakan segala kebutuhan hidupku…"

Sinchan terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan kalimat terbata-bata : "Sebenarnya yang paling berjasa dalam hidupku adalah Bang Dodot dan Bang Betet. Sebagian orang di kampungku mengenal mereka sebagai seorang idiot dan seorang bodoh. Namun bagiku, justru mereka berdua adalah pahlawan hidupku…"

Sinchan menyeka air mata yang menetes di ujung pelupuk matanya, lalu berkata : "Kedua orang tersebut yang telah mengisi kekosongan hidupku tanpa kehadiran kasih sayang kedua orang tuaku. Dengan tulus dan penuh keikhlasan mereka menemaniku dan mengajariku tentang hidup dan kemandirian. Walaupun memiliki keterbatasan akal, kedua pahlawanku telah mendidikku dengan begitu telaten dan tanpa pamrih…"

Seluruh hadirin mendengarkan cerita dengan penuh perhatian. Sebagian ada yang meneteskan air matanya karena merasa terharu.

Sinchan melanjutkan : "Walaupun Tuhan telah merenggut nyawa kedua orang tuaku yang terkasih, namun ternyata Tuhan mengirimkan dia orang hebat dalam hidupku. Bukan manusia sempurna namun mereka mampu menyempurnakan hidupku. Karena pengalaman hidup inilah, saya mampu bertahan hingga sekarang. Melewati lika-liku kehidupan yang penuh cobaan dan hambatan. Dan yang terpenting, saya menyadari bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Apapun kondisi dan keadaannya, mereka tetap memiliki peran penting bagi kehidupan orang lain…"

Hadirin memberikan tepuk tangan yang meriah. Mereka terpukau dengan cerita tentang kehidupan Sinchan, sang mahasiswa teladan.

Sinchan mengakhiri ceritanya : "Sekali lagi saya mengucapkan salam hormat kepada kedua pahlawanku. Bagiku mereka adalah segala-galanya. Tanpa mereka, saya bukanlah apa-apa…"

Sobatku yang budiman…

Kisah hidup Sinchan memberikan sebuah pelajaran penting bahwa kita tidak boleh menyepelekan keberadaan orang lain. Mungkin bagi kita, mereka adalah seorang idiot, terbelakang atau bodoh, namun mungkin bagi orang lain, mereka adalah pahlawan.

Untunglah Sinchan dibesarkan oleh dua orang idiot dan bodoh, bukan dua orang profesor atau dua orang pejabat tinggi atau juga dua orang kaya. Sehingga Sinchan mampu memaknai hubungan antar manusia atas dasar cinta dan kasih sayang, bukan karena kepintaran, kedudukan maupun kekayaan.

Sesungguhnya, ketulusan dan keikhlasan dalam memberi jauh lebih penting daripada sekadar nasehat dan retorika kalimat belaka.

Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan kehendaknya. Tidak ada yang perlu dipersoalkan. Baik itu pintar maupun idiot, pejabat maupun rakyat jelata dan kaya ataupun miskin. Utamanya adalah bagaimana kita mampu memainkan peran yang baik dan berguna bagi kehidupan orang lain.

Hidup ini akan terlihat indah, jika kita melihat dengan kacamata keindahan, bukan keburukan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #pahlawan #agust2017 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in CERITA KEHIDUPAN | Leave a comment

“MAKAN DI WARTEG”

<Minggu, 13 Agustus 2017 OOR 16:28>

Suatu ketika Abece pergi ke warung nasi untuk meredakan kelaparan yang menusuk hingga ke ulu hatinya. Sudah seharian ini, Abece belum sempat menikmati sepiring nasi karena menghabiskan banyak waktu untuk bercengkerama dengan kambing peliharaannya. Abece berusaha menghibur kambingnya yang sedang demam dan flu berat. Memandikan dengan air hangat, membedaki dengan bedak tabur milik ibunya dan juga menyarungi dengan sarung yang biasa dipakainya.

Setelah meninabobokkan kambingnya, barulah Abece dapat meninggalkan sang kambing sendirian di dalam kandang, yang baru dihiasi dengan aneka gambar pemandangan rumput hijau. Tujuannya untuk menggugah selera makan si kambing.

Abece segera bergegas ke warung Pak Sadong, tentunya untuk menenangkan gerombolan cacing yang bersemayam di dalam perut buncitnya. Agar mereka tidak terus menerus mendendangkan lagu keroncong bernada tinggi yang memekakkan telinga. Sesuatu yang akan membuat orang-orang sekeliling tersenyum simpul, setelah mendengar lantunan melodi bersahut-sahutan. Kerukkk…krukkkk…krukkk…

Abece berteriak : "Pak… saya sudah lapar berat…"

Pak Sadong : "Berapa kilo beratnya…"

Abece : "Mohon bapak jangan main-main… Saya sendiri tidak main-main, mengapa pula bapak harus main-main karena sesungguhnya kita tidak pernah bermain bersama…."

Pak Sadong bingung mendengar penjelasan Abece yang berbelit-belit kayak benang kusut yang jatuh ke dalam selokan.

Abece : "Cepetan… siapkan tiga piring nasi putih…"

Pak Sadong : "Kuning sedikit gak papa yah… Soalnya tadi telat diangkat, jadinya gosong…"

Abece mulai jengkel, lantas berkata : "Ada ayam…?"

Pak Sadong : "Ada bang…"

Abece : "Biawak…?"

Pak Sadong : "Jangankan biawak, ularpun saya ada… Mau pesan berapa…?"

Abece berlari berhamburan keluar warung Pak Sadong : "Wadawww… Saya benci ayam, biawak dan ular… Cepat usir mereka keluar…!!!"

Pak Sadong : "Cuma dagingnya saja… Bukan yang hidup…"

Abece : "Pokoknya saya tidak mau makan di sini kalau masih ada mereka di dalam…. Walaupun mati, mungkin saja mereka tetap bisa bergerak-gerak seperti ekor cicak yang terputus atau ulat yang terbelah tubuhnya. Jijay sekali…"

Pak Sadong : "Memang sedeng nih orang…"

Gubrakkk…

#firmanbossini #joke #gokil #ceritalucu #abece Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in RENUNGAN | Leave a comment

“RASIS”

<Minggu, 13 Agustus 2013 OOR 15:19>

Sepasang suami isteri berselisih paham mengenai masalah kucing. Karena rumah mereka sering didatangi tikus yang berasal dari got di depan rumah. Akibatnya, banyak barang di rumah yang rusak ataupun hilang karena dimakan oleh binatang pengerat yang berbulu gelap.

Untuk mengatasi masalah ini, mereka sepakat untuk memelihara seekor kucing. Berharap dengan kehadiran kucing di dalam rumah, akan membuat tikus ketakutan dan lari meninggalkan rumah.

Saat berada di toko hewan yang menyediakan aneka jenis kucing dan beragam warna, kedua pasang suami isteri ini mulai menunjukkan gelagat perselisihan.

Karena memiliki kulit yang gelap, sang suami berniat memilih kucing berwarna hitam. Sebaliknya sang isteri ingin membeli kucing berwarna putih karena kebetulan memiliki warna kulit putih bersih. Walaupun mereka berusaha untuk berdiskusi satu sama lain, namun tidak juga didapatkan kata sepakat. Masing-masing mengeluarkan argumen yang tidak ingin dibantah. Mempertahankan pendapatnya tanpa niat mengalah sedikitpun. Ego dan mau menang sendiri.

Sang suami : "Pokoknya warna bulu kucing harus sewarna dengan warna kulitku. Saya tidak sudi jika berwarna yang lain…"

Sang isteri menyolot : "Saya lebih tidak sudi, jika berwana hitam. Jelek dan tidak menarik. Pokoknya saya mau yang putih…"

Akhirnya mereka gagal menemukan kata sepakat. Kucing yang diharapkan dapat mengusir atau menangkap tikus, tidak juga terbeli. Hingga di dalam mabil, mereka masih tetap bersitegang. Sepanjang perjalanan pulang, terus menerus berdebat kusir.

Setelah sekian lama bersitegang, sang suami berinisiatif mengajak isterinya menjumpai Opung Toba, seorang guru spiritual yang terkenal arif bijaksana. Sang isteri mengiyakan.

Sesampainya di kediaman Opung Toba, sang suami menceritakan semua permasalahan yang terjadi. Opung Toba mengangguk-angguk tersenyum mendengarnya.

Opung Toba : "Sekarang saya mengerti apa yang menjadi penyebab pertengkaran kalian. Saya ingin bertanya, apa tujuan utama kalian memelihara seekor kucing?"

Kedua pasangan suami isteri itu serentak menjawab : "Untuk mengusir dan menangkap tikus…!!!"

Opung Toba : "Nah, jika demikian adanya, apa hubungan tikus dengan warna kucing? Gak ada khan? Warna hanya untuk penampilan belaka. Yang sesungguhnya kalian butuhkan adalah kucing yang sehat, kuat, gesit, cekatan dan tidak pemalas, bukan?"

Keduanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang disampaikan Opung Toba.

Opung Toba melanjutkan : "Kalau begitu, carilah kucing yang memiliki kriteria di atas. Jangan memilih penampilan atau warna bulunya. Masak ke binatang aja kalian demikian rasis? Harus sewarna dengan warna kulit kalian. Jangan-jangan… kalian juga bertindak demikian bodoh, sama rasisnya kepada manusia lain…"

Sobatku yang budiman…

Kita boleh mencari partner atau seseorang yang dianggap mampu meringankan pekerjaan kita. Pilihlah yang memiliki kemampuan, jangan memilih karena segolongan, sesuku, seagama, seiman atau yang memiliki warna kulit yang sama.

Jika sama dengan kita, namun malah merugikan atau menyusahkan kita, apakah kita mau…?

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #nasehatopungtoba Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in NASEHAT OPUNG TOBA | Leave a comment

“KISAH KEBOHONGAN SEORANG KAKEK”

Sinchan, seorang bocah imut berusia sepuluh tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga harus menjalani proses operasi di beberapa bagian tubuhnya. Untung saja kecelakaan ini tidak sampai merenggut nyawanya. Operasi berlangsung sukses dan Sinchan sudah boleh menempati ruangan biasa.

Namun naas, kedua orang tua Sinchan bersama dengan seorang adik laki-lakinya tidak dapat terselamatkan, tewas dengan sangat mengenaskan. Praktis, saat ini Sinchan menjadi seorang yatim piatu.

Peristiwa kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya sangat memukul perasaannya. Dengan mata kepala sendiri, Sinchan menyaksikan bagaimana kedua orang tuanya harus meregang nyawa, akibat supir bus yang bersikap ugal-ugalan menghantam motor yang dikendarai oleh ayahnya.

Selama berada di ruangan rumah sakit, Sinchan selalu menangis memanggil-manggil kedua orang tuanya. Kerinduannya begitu memuncak. Ketakutan akan masa depannya, membuat dirinya menjadi frustasi. Tidak jarang, di waktu malam, Sinchan bermimpi, mengingau dan akhirnya berteriak meraung-raung dalam kepiluan yang begitu mendalam.

Semua perawat berusaha memberikan perhatian lebih kepada Sinchan agar dapat pulih kembali seperti sedia kala. Karena tidak memiliki sanak saudara, rencananya setelah sembuh, Sinchan akan dititipkan di panti asuhan.

Di dalam kamarnya, Sinchan tidak tinggal seorang diri. Ada seorang kakek tua juga sedang menjalani perawatan medis yang sudah dijalani sang kakek dalam kurun waktu cukup lama. Walaupun hanya seorang diri, sebenarnya kakek ini berasal dari keluarga kaya. Hidupnya tidak berkekurangan karena dirinya masih memiliki rumah tempat tinggal dan tabungan yang cukup banyak.

Kakek tua itu mendengar kisah memilukan Sinchan dari para perawat. Beliau juga sering kali mendengar percakapan antara perawat atau dokter dengan Sinchan. Dan lagi, igauan dan teriakan histeris Sinchan memanggil kedua orang tuanya membuatnya merasa sangat terharu, sedih dan timbul perasaan tidak tega.

Ranjang keduanya dibatasi oleh dinding pemisah yang terbuat dari tripleks, sehingga antara Sinchan dan sang kakek tidak dapat bertatapan mata langsung.

Di awal perawatan, Sinchan lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamun dan menangis saat memikirkan kedua orang tuanya yang telah tiada. Berdiam diri dan tidak mau diajak mengobrol oleh siapapun. Hatinya belum dapat menerima kenyataan pahit yang melanda hidupnya.

Setelah beberapa hari kemudian, berawal dari sapaan lembut sang kakek, akhirnya Sinchan mulai mau berbicara dan mengobrol dengan sang kakek, walaupun hanya mendengarkan suaranya tanpa pernah bisa melihat raut wajah sang kakek yang baik hati.

Sang kakek merasa senang mendapat "teman mengobrol" yang dapat menghilangkan kebosanannya selama ini. Beliau banyak menceritakan tentang kehidupannya yang bergelimpangan harta, hingga akhirnya harus hidup seorang diri setelah kematian puteranya. Menantunya, seorang wanita berhati iblis, dengan kepiawaiannya, berhasil menggerogoti hartanya dan mengusir sang kakek keluar dari "istana" milik keluarga yang telah dihuninya sejak masih kecil.

Untunglah, sang kakek masih sempat menyimpan sebagian harta, sejumlah uang tabungan hari tua dan sebuah rumah yang rencananya akan diberikan kepada cucunya. Semua ini luput dari penguasaan menantunya.

Cerita demi cerita yang disampaikan sang kakek, menimbulkan kesan yang berarti bagi Sinchan. Sekarang Sinchan merasa memiliki sahabat baru walau berbeda usia amat jauh. Mereka berdua sudah seperti pasangan kakek dan cucu kandung. Sinchan sudah percaya sepenuhnya kepada sang kakek. Hatinya sedikit terhibur mendengar beragam cerita ataupun dongeng menarik dari sang kakek.

Yang paling mengesalkan Sinchan selama ini adalah letak ranjangnya yang ditutupi oleh dinding tripleks yang tidak transparan. Ingin sekali Sinchan turun dari pembaringan dan duduk berdampingan dengan sang kakek. Namun hal ini tidak diperbolehkan oleh dokter dan perawat. Mereka takut pergerakan-pergerakan yang tiba-tiba dan tidak disadari akan memperparah luka Sinchan yang belum mengering.

Berdasarkan cerita sang kakek, ternyata ranjang beliau terletak tepat di samping sebuah jendela besar. Setiap pagi para perawat akan membuka pintu jendela, agar udara segar dan sinar mentari dapat masuk ke dalam ruangan kamar.

Suatu pagi, Sinchan bertanya kepada sang kakek : ""Kakekku yang baik hati… Saya sudah bosan tinggal di dalam ruangan ini…"

Sang kakek : "Bersabarlah cucuku… Saya tinggal lebih lama dari kamu, saya juga merasakan hal yang sama. Namun ketika kamu mau menjadi teman mengobrolku, maka hidupku tidak lagi menjadi bosan. Saya merasa senang Tuhan mengirimkan dirimu untuk menemaniku, ntah sampai kapan…"

Sinchan : "Jangan khawatir kek… Walaupun nanti saya sembuh terlebih dulu, saya pasti akan menjenguk kakek setiap hari… Saya bukan seperti yang dulu lagi, yang memiliki keluarga. Kedua orang tua dan adikku sudah tiada. Saat ini saya adalah anak sebatang kara…"

Sang kakek : "Kita ini memiliki nasib yang sama… Tapi yang paling penting adalah kita harus sembuh… Harus dapat menikmati dunia luar yang indah…"

Sinchan : "Saya tidak dapat melihat apa-apa… Hanya ada dinding dan gorden putih ini saja…. Memangnya di luar sana ada pemandangan apa, kek..?"

Sang kakek : "Saya melihat matahari sedang tersenyum kepada kita. Sinarnya begitu hangat untuk menyemangati hidup. Di samping kiri, terdapat sebuah taman bunga yang indah sekali dan banyak sekali kupu-kupu berwarna-warni beterbangan kesana kemari. Di sebelah kanan, terdapat air mancur yang mengalir di antara bebatuan dengan kolam berisi ikan hias. Kamu harus segera sembuh agar dapat menikmati keindahan pemandangan ini, Sinchan…"

Sinchan : "Iya kek… Saya ingin cepat-cepat sembuh… Kakek juga harus segera sembuh agar kita dapat bersama-sama berpegangan tangan menikmati semua anugerah keindahan Tuhan…"

Sinchan tersenyum gembira, membayangkan tubuhnya berada di dalam taman, merasakan hangatnya sinar matahari, berlari-lari mengejar kupu-kupu dan bermain-main dengan ikan yang hidup di kolam pancuran.

Setiap hari sang kakek, selalu menceritakan hal-hal menarik yang berada di luar jendela. Ada sekelompok burung berbulu indah sedang membuat sarang di sebuah pohon rindang, ada air mancur dan banyak ikan hias di dalamnya. Semuanya amat menarik minat Sinchan untuk dapat berada di taman bunga rumah sakit.

Sinchan ingin segera sembuh, ingin melihat langsung pemandangan di luar sana. Dia menuruti semua saran dokter dan perawat. Tidak pernah menolak suntikan yang menyakitkan tubuhnya maupun menolak meminum obat yang sangat pahit. Semua dilakukan dengan ikhlas supaya cepat pulih kembali.

Berkat ketelatenan dan tekad yang kuat untuk sembuh, akhirnya Sinchan sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan sang kakek masih harus tinggal di rumah sakit.

Dengan penuh pengharapan, hari itu Sinchan begitu antusias turun dari pembaringan dengan dipapah oleh dua orang suster. Langkah pertamanya bukan mengarah ke pintu, melainkan ke ruang sebelah yang dihuni oleh sang kakek. Selama ini Sinchan sama sekali tidak pernah melihat paras wajah sang kakek, sehingga dia berniat untuk mengucapkan terima kasih kepada beliau.

Saat pertama kali bertatapan wajah, Sinchan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata kedua mata sang kakek sedang tertutup perban putih.

Sinchan memeluk sang kakek sambil bertanya : "Ada apa dengan mata kakek? Sejak kapan mata kakek ditutup perban?"

Sang Kakek : "Gak papa kok… Saya dirawat di sini karena menderita penyakit mata yang aneh, dan akhirnya harus membuatku menjadi seorang buta…"

Sinchan : "Apaaaa? Kakek butaaa…??? Kakek jangan bohong…!!!"

Sang Kakek : "Benar sekali…"

Pandangan Sinchan segera mengarah ke jendela besar di samping. Matanya menatap keluar. Yang ada cuma dinding bangunan berwarna putih. Tidak ada taman bunga maupun air mancur dan kolam ikan.

Sinchan : "Jadi selama ini cerita kakek mengenai pemandangan di luar jendela itu tidak benar ya? Kakek berbohong kepada saya?"

Sang Kakek : "Iya… Kakek sudah berbohong kepada kamu… Kamu marah kepada saya..?"

Sinchan : "Tidak… Tidak… Saya tidak marah kepada kakek… Saya hanya kasihan kepada kakek yang buta… Siapa yang akan merawat kakek kelak…"

Sang Kakek : "Bersediakah kamu merawat dan menemani kakek…?"

Sinchan : "Sekarang saya sudah sebatang kara. Tidak punya siapa-siapa lagi. Selama ini hanya kakek yang menjadi teman dan sahabatku. Dan juga, saya sudah berjanji untuk menjenguk kakek setiap hari… Saya tentunya ingin selalu menjaga kakek…"

Seketika sang kakek bangkit dari tidurnya. Dengan penuh rasa haru memeluk tubuh mungil Sinchan.

Sang Kakek : "Saya telah berbohong kepada kamu agar kamu memiliki motivasi untuk sembuh. Dapat pulih seperti sediakala serta dapat bermain dan bersekolah kembali…"

Sinchan menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang kakek. Sinchan menangis bukan karena sedih dibohongi, melainkan menangis bahagia karena ternyata sang kakek begitu perhatian kepadanya walaupun dirinya tidak dapat melihat. Sinchan sangat berterima kasih kepada kakek yang memiliki rambut putih di sekujur kepalanya.

Besoknya sang kakek setelah permohonan meninggalkan rumah sakit dikabulkan oleh team dokter, akhirnya dapat kembali ke rumahnya. Tentunya bersama Sinchan, sang cucu barunya. Mereka dapat merengkuh kebahagiaan bersama walaupun sempat merasakan penderitaan hati setelah ditinggal oleh orang-orang yang mereka sayangi.

Sobatku yang budiman…

Begitu mulia pengorbanan yang ditunjukkan oleh sang kakek. Walaupun dirinya tidak sempurna dan masih menghadapi problematika hidup, namun beliau rela berkorban untuk membahagiakan hati seorang bocah yang baru dikenalnya. Berkat kearifan dan perhatiannya, sang kakek mampu memberi semangat kepada Sinchan untuk sembuh.

Tidak semua kebohongan itu selalu berakhir dengan keburukan. Sebagian orang terpaksa harus berkata bohong untuk menutupi suatu permasalahan agar tidak menjadi polemik perselisihan yang berkepanjangan.

Lihatlah, bagaimana orang tua kita, sejak kita masih kecil, selalu berkata bohong hanya untuk menyenangkan diri kita. Berpura-pura sudah kenyang, berpura-pura tidak sakit atau berpura-pura tidak lelah.

Untuk itu, janganlah selalu berburuk sangka atas kebohongan yang dilakukan oleh orang lain kepada diri kita. Ambillah hikmah pelajaran dibalik setiap kebohongan yang ada.

Sesungguhnya kebohongan itu bukanlah anjuran yang baik untuk kehidupan kita, namun jika sebuah kebohongan tercipta untuk sebuah kebaikan, maka kita tidak boleh menghujatnya sebagai suatu kesalahan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kebohongan #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in KISAH INSPIRATIF | Leave a comment