“SELAMAT IDUL FITRI 1438H”

Saudara-saudaraku…

SELAMAT
HARI RAYA IDUL FITRI 
1 SYAWAL 1438H

“Minal Aidin Wal Faidzin”
MOHON MAAF LAHIR dan BATIN

Semoga berkah “KEMENANGAN” mengiringi lanngkah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

(Firman Bossini dan Keluarga)
#firmanbossini

Posted in AGAMA | Leave a comment

“KISAH ISTERI YANG DIZOLIMI”

<Sabtu, 24 Juni 2017 OOR 09:33>

Tobalik, seorang pemuda yang berasal dari keluarga miskin. Sejak kepindahannya ke kota, ia memulai kehidupannya dari nol, bekerja sebagai tukang angkat telor di sebuah pasar tradisional. Kemudian berpindah kerja ke sebuah perusahaan konstruksi, sebagai office boy. 

Beberapa tahun kemudian, Tobalik berkenalan dengan Mira, seorang gadis manis yang berpenampilan menawan, bekerja sebagai marketing di anak perusahaan tempatnya bekerja. Setelah menjalin hubungan asmara selama beberapa bulan, akhirnya mereka mengikrarkan janji sehidup semati, walaupun dengan kehidupan ekonomi yang belum membaik.

Mereka menyewa sebuah rumah sederhana, dekat dengan stasiun kereta. Kehidupan sederhana yang mereka jalani terlihat begitu bahagia. Empat tahun kemudian, lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Namun, sayangnya anak tersebut mengalami cacat, kedua kakinya lumpuh. Walaupun sudah mengupayakan dengan semaksimal mungkin, namun Panji, putera semata wayang mereka tidak dapat berjalan normal.

Mira memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia ingin berkonsentrasi mengurus Panji. Tidak ingin menyia-nyiakan anugerah Tuhan, walaupun terlahir dalam kondisi tidak sempurna,

Karena hanya dia sendiri yang menjadi tulang punggung keluarga, Tobalik berusaha bekerja dengan tekun dan bersemangat. Dia berharap semoga karirnya dapat meningkat dan mendapat penghasilan yang lumayan.

Lima tahun kemudian, Tobalik berhasil menduduki posisi sebagai kepala bagian. Loyalitas dan kecerdasannya dalam mengambil keputusan, beberapa kali telah menyelamatkan perusahaan dari kerugian. Hanya dalam waktu tiga tahun, Tobalik sudah mencapai level direktur, dengan gaji hingga puluhan juta perbulan. Belum lagi bonus tahunan yang mencapai angka ratusan juta. 

Kehidupan Tobalik mulai membaik. Sebuah rumah mewah telah dimilikinya. Mobil sedan berkelas juga menjadi kendaraannya sehari-harinya. Banyak wanita muda berusaha mendekati dan mencuri hatinya. Tobalik tidak menampik, namun tidak berani bermain api terlalu jauh. Sekadar have fun belaka. 

Sementara itu, Mira semakin hari terlihat semakin menua. Kegiatannya mengurus Panji, membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya yang sekarang. Kulitnya menjadi kasar dan tidak cerah. Tidak lagi halus. Energi Mira banyak terkuras untuk melayani Panji. Urusan penampilan menjadi nomor dua.

Dibandingkan dengan para wanita cantik di luar sana, yang berada di sekeliling Tobalik, Mira tampak terlalu sederhana. Sekilas orang yang belum mengenalnya akan mengira dirinya adalah seorang pembantu atau baby sitter. Perangainya yang kalem dan pendiam menambah kebenaran akan penampilannya yang begitu bersahaja. Beda jauh saat dirinya masih bekerja, Mira adalah gadis muda yang senantiasa memakai make up dan mengenakan busana yang up to date. 

Suatu hari, Tobalik mendengar rekan bisnisnya membicarakan penampilan isterinya. Mereka membandingkan Mira dengan isteri-isteri mereka. Bagaikan langit dan bumi. Bahkan ada yang menyelutuk : “Kalau Pak Tobalik berkenan, tuh si Murni, si Angel atau si Susi yang aduhai akan bersedia menjadi isteri simpanannya. Mereka lebih pantas daripada si Mira yang kolot dan kampungan…”

Kalimat demi kalimat di atas amat mengganggu batinnya. Dia merasa apa yang digosipkan teman-temannya tidak ada salahnya. Isterinya yang dahulu sempat menjadi bunga di kantornya sekarang berubah menjadi layu, tidak menarik dan layak untuk digantikan dengan yang baru, yang lebih segar dan menarik dipandang mata.

Setelah dua tahun bergelut dengan pertempuran di batinnya, ditambah dengan semakin masifnya godaan wanita di lingkaran kehidupannya, akhirnya Tobalik merasa inilah saat terbaik baginya untuk mengakhiri pernikahannya yang sudah berjalan empat belas tahun. 

Tobalik menyiapkan tabungan sebesar 500 juta dan membelikan sebuah rumah di pinggiran kota untuk isteri dan putera tunggalnya yang saat ini sudah berusia delapan tahun. Tobalik merasa dirinya adalah suami yang bertanggung jawab karena telah menyediakan tempat tinggal dan uang tabungan dalam jumlah besar untuk kelanjutan kehidupan Mira bersama Panji. Hatinya merasa tenang dan plong karena sudah menunaikan kewajibannya.

Akhirnya Tobalik mengajukan gugatan cerai kepada isterinya. Mira mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Tobalik. Seperti biasanya, Mira tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Dia lebih sering mengangguk dan menunduk. Tidak terlihat amarah di matanya, pandangannya tenang dan teduh. Sepertinya Mira menerima semua ulasan Tobalik dengan hati tegar. Tidak tampak air mata menetes dari pelupuk matanya.

Hingga hari yang dimaksud telah tiba. Hari ini Mira akan meninggalkan rumah yang telah dihuninya selama belasan tahun, meninggalkan pria yang telah menjadi belahan hidupnya selama ini. Yang memulai kehidupan suka duka bersama dari tidak punya apa-apa hingga menjadi orang sukses. Tobalik membantu Mira mengemas barang-barangnya. Sedikit rasa kasihan terbersit di hatinya tatkala dia melihat sang isteri menggendong Panji dan menenteng kopernya yang besar.

Tobalik : “Sini saya bantu…”

Mira : ” Tidak apa-apa… Saya masih sanggup kok. Mulai sekarang kamu sudah tidak memiliki tanggungjawab kepada kami. Semoga kamu baik-baik saja… Jangan terlalu larut tidur. Jaga kesehatan…”

Hanya dengan anggukan lemah, Tobalik melepas kepergian kedua orang yang pernah mengisi warna kehidupannya. Pernikahan yang telah dijalani selama empat belas tahun pun berakhir dengan begitu saja.

Sepanjang hari, hati Tobalik merasa tidak tenang, uring-uringan dan senewen. Sepiring nasi goreng yang disiapkan sang isteri tidak sanggup ditelannya dengan sempurna. Pikirannya mengawang-awang. Ada rasa sepi sepeninggal isterinya. Sebuah panggilan telepon dari Susi, teman dekatnya, tidak mampu mengusir gundah gulana hatinya. Dia mencoba menelepon Angel untuk mengusir rasa suntuknya. Sejenak sirna, namun hatinya kembali merasa melompong. 

Walaupun hari ini adalah hari libur, namun keinginannya untuk clubbing atau dating tidak muncul, beda sekali seperti hari-hari sebelumnya. Tiada hari libur tanpa clubbing. Saat ini pikirannya hanya tertuju ke rumah baru yang dibelikan untuk Mira dan anaknya Panji. 

Tobalik berusaha menahan laju keinginannya. Semakin ditahan, dadanya terasa semakin sesak. Rasanya seperti air bah yang akan meluber keluar. Sepanjang malam tidurnya tidak nyenyak.

Keesokan harinya, Tobalik membulatkan tekad untuk menuju ke rumah yang dihuni Mira. Dia berusaha menekan egonya sedalam mungkin, karena niatnya untuk bertemu dengan Mira sudah tidak dapat terbendung. 

Sesampainya di rumah tersebut, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Buru-buru Tobalik mengambil kunci serap yang tersimpan di dashboard mobilnya, membuka pintu dengan perlahan, melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Dengan suara perlahan memanggil nama Mira dan Panji. Tidak ada sahutan.

Mata Tobalik tertuju ke deretan mie instan yang tersusun rapi di atas lemari gantung. Ingatannya kembali ke masa awal-awal pernikahan, saat masih miskin. Sang isteri dengan setia memasakkan mie instan sebagai lauk pengganti ayam dan ikan, menemani sepiring nasi. Mereka berdua makan dengan lahapnya, tanpa mengeluh sedikitpun. 

Tidak terasa air mata Tobalik mulai mengalir. Dia merasa bersalah dengan niat buruknya menceraikan isterinya. 

Sebuah buku tabungan terletak rapi dan sepucuk surat terletak rapi di atas meja. Tobalik mengambil buku tabungan tersebut, membuka isinya dan angka yang di dalamnya masih utuh, lima ratus juta.

Dengan nada tergetar, Tobalik meraih surat beramplop dan bergambar dora emon, salah satu animasi karton kegemaran Mira. Tulisannya rapi seperti tulisan hasil print out.

“Tobalik, suamiku yang paling aku sayangi seumur hidupku… Aku tahu kamu pasti akan mencari diriku. Selama ini kita memulai kehidupan dari titik nol dan akhirnya sukses seperti sekarang ini. Aku amat menikmati kebersamaan bersamamu, di saat suka maupun duka. Namun, sayangnya, kamu terlalu cepat mencapai puncak kesuksesan, sehingga kamu mudah goyah oleh omongan dan godaan. Saya tahu apa yang terjadi di luar sana. Aku biarkan dan bahkan aku relakan untuk kamu ceraikan. Tidak ada gunanya menahan keinginanmu karena hanya akan menyakiti hati kita berdua dengan pertengkaran dan dendam. Aku rela diusir dari kehidupanmu. Aku ikhlas kok. Yang penting kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan. Teriring salam rindu untukmu…. (Mira)”

Setelah membaca surat ini, air mata Tobalik tidak dapat terbendung lagi. Dia menyadari telah melakukan kekhilafan fatal, kesalahan terbesar dalam hidupnya. 

Tobalik menggumam : “Belum terlambat… Saya harus mencari, menemukan dan mengembalikan Mira ke dalam kehidupanku. Aku tidak dapat hidup tanpanya….”

Tobalik bergegas meninggalkan rumah tersebut, pikirannya mengarahkan mobilnya menuju rumah ibunda Mira di kampung. Setelah menempuh perjalanan seratusan kilometer, akhirnya Tobalik sampai juga ke kampung halaman Mira. Tobalik menerobos pintu depan dan menjumpai Mira sedang bersama ibundanya.

Dengan nada marah, Tobalik berkata : “Kamu kemana saja? Setengah mati saya mencari dirimu, rupanya kamu bersembunyi di rumah ibumu. Kamu tidak tahu kalau saya kelaparan setengah mati karena kamu tidak menyiapkan makanan di rumah. Kamu sungguh kelewatan. Cepat kemas bajumu, segera ikut saya pulang sekarang juga…”

Ibunda Mira terkejut mendengar suara Tobalik : “Iya… iya… Mira, cepat kamu bereskan barang-barang kamu. Kan sudah ibu bilang, kalau bertengkar, jangan sampai meninggalkan rumah. Itu pamali loh… Tuh lihat… suamimu begitu sayang kepadamu hingga mencarimu sampai ke sini… Cepat minta maaf kepada suami dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu ini…”

Mata Mira terlihat berkaca-kaca. Walaupun sedikit mewek, namun batinnya merasa lega. Untunglah dia tidak membocorkan masalah perceraiannya. Dia tidak ingin ibunya bersedih. Terlebih lagi, Mira yakin, suatu saat Tobalik pasti akan mencari dirinya.

Saat membereskan bajunya, beberapa kali Mira tersenyum kegirangan : “Memang kamu seperti anak remaja yang sedang bandel-bandelnya. Mulai sekarang kamu sudah insaf dan saatnya bagiku untuk beraksi menjadi wanita idamanmu, wanita kebanggaanmu. Kamu pasti akan semakin jatuh cinta lagi kepadaku…”

Sobatku yang budiman…

Kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah dilihat dari banyaknya angka di dalam buku tabungan, bukan karena kilauan emas permata yang melekat di badan dan bukan pula karena balutan make up super mentereng, melainkan dipandang dari banyaknya senyuman bahagia yang terpancar dari wajah kita. 

Terkadang seseorang membuang sesuatu yang telah bersamanya karena menganggap ada sesuatu yang lebih bernilai sebagai penggantinya.

Padahal, sesuatu yang dibuangnya adalah bagian terpenting dari hidupnya dan jauh lebih berharga dari yang akan digantikannya.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #isteriyangdizolimi Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in KELUARGA DAN PASANGAN | Leave a comment

“JIWA PETARUNG”

<Jumat, 23 Juni 2017 OOR 07:07>

Tidak semua orang memiliki jiwa petarung. Mereka akan meninggalkan tanggung jawabnya saat sedang terpojok, lari dari medan pertarungan sebelum mulai bertarung dan berusaha menghindari pertarungan karena sifat pengecutnya.

Namun bagi seorang petarung, mereka akan menghadapi semua lawan dengan penuh perhitungan, mengukur diri dengan sebaik-baiknya sebelum bertarung dan tidak akan memundurkan langkah sedikitpun. Saat yang akan dihadapi lebih kuat, seorang petarung akan mempelajari kelemahan lawannya dengan sebaik-baiknya dan akan memfokuskan serangannya ke arah target lemah lawannya.

Seorang petarung tidak akan mencari musuh sebanyak-banyaknya, namun jika di sekelilingnya adalah orang yang tidak benar, maka seorang petarung tidak akan gentar menghadapinya. Jika mereka datang menyerang, seorang petarung selalu siap menghadapinya.

Seseorang yang memiliki jiwa petarung tidak akan mudah menyerah dengan keadaan sulit, selalu bersemangat meladeni semuanya dan tidak sedikitpun menunjukkan dirinya adalah seorang pecundang.

Seorang petarung akan selalu memegang komitmen janji yang pernah diikrarkan dengan sepenuh hati, memegang teguh kehormatan dan siap sedia menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Prinsip hidup seorang petarung, lebih baik gugur dalam medan pertempuran daripada pulang dengan membawa malu karena bertindak curang, berkhianat serta merendahkan martabat dan kehormatannya.

Seorang petarung sangat gigih dalam berlatih dan mengasah kemampuan diri agar siap dalam setiap kondisi. Mereka tidak pernah menghabiskan waktunya dengan bersantai-santai, karena setiap waktu adalah sebuah kesempatan untuk membentuknya menjadi petarung sejati. Tidak ada kata membuang waktu percuma.

Seorang petarung akan berlatih mati-matian dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Lebih baik bermandi keringat saat berlatih daripada bermandi darah saat bertarung di medan pertempuran. Meskipun gugur di ajang tempur adalah sebuah kehormatan, namun mereka tentunya tidak akan membiarkan dirinya gugur dengan mudah. Seorang petarung akan menganalisa kondisi medan laga, mempelajari kelemahan lawan dan tentunya mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Sobatku yang budiman…

Jiwa petarung itu bukan semata-mata ada di dalam diri seorang prajurit yang akan berlaga di medan pertempuran, melainkan juga ada di dalam diri kita semua. 

Dalam menghadapi kehidupan yang dinamis dan penuh teka-teki, kita harus memiliki jiwa petarung. Tidak mudah menyerah dalam kesulitan dan tetap semangat di kala melangkah. Kita tidak perlu berlatih dengan menggunakan senjata, karena yang dihadapi adalah musuh pikiran, sifatnya tidak nyata. 

Latihan utama adalah ketika kesulitan dan cobaan datang menerpa. Di saat inilah kita harus terus menempa pikiran dan batin untuk tetap bersabar dan tidak menyerah. Membuka jeratan yang menumpulkan mata batin, agar mendapatkan solusi terbaik.

Kita semua adalah petarung kehidupan. Jiwa seorang petarung kehidupan ditempa melalui pertarungan-pertarungan batin di dalam hatinya. Pikirannya dilatih dan akalnya diasah agar mampu menyelesaikan setiap problem secara cepat, tepat, terukur, taktis dan penuh kebijaksanaan. Semua ini akan melebur dalam kesatuan untuk membentuk jiwa petarung yang handal dan tidak terkalahkan.

Sesungguhnya kita adalah petarung, kesatria dan pahlawan bagi orang lain, terutama bagi keluarga tercinta.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #jiwapetarung Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“JIWA-JIWA YANG IKHLAS”

<Rabu, 21 Juni 2017 OOR 07:11> 

Yang saat ini tinggal di kota, menginginkan tinggal di desa di masa tuanya. Pusing melihat kesibukan manusia kota yang tanpa jeda dan hiruk pikuk keramaian yang memekakkan telinga. Ingin hidup nyaman, santai dan teduh di desa, dalam menghabiskan sisa-sisa waktu hidupnya. 

Yang tinggal di gunung, merindukan kehidupan di pantai. Sebaliknya yang tinggal di pantai, merindukan kehidupan di gunung.

Di musim hujan merindukan datangnya musin kemarau karena tidak tahan menghadapi banjir. Sebaliknya di musim kemarau merindukan kehadiran musim hujan karena tidak tahan melihat kegersangan dan panasnya terik matahari. 

Yang memiliki rambut hitam, mendambakan rambut pirang, agar dianggap keren. Sebaliknya yang memiliki rambut pirang, mendambakan rambut hitam yang alami. 

Yang tinggal di rumah merasa bosan dan merindukan berpesiar, melancong serta bertamasya ke tempat wisata. Sebaliknya yang sedang berpergian merindukan suasana rumah, “home sick”.

Yang berprofesi sebagai karyawan menginginkan menjadi seorang boss karena merasa menjadi boss itu enak, mau apa saja, tinggal perintah anak buahnya. Sebaliknya yang sudah menjadi boss menginginkan menjadi karyawan biasa, tidak perlu pusing mengurus banyak orang dan terutama pening saat mencari dana untuk gajian karyawan di awal bulan.

Saat masih jomblo mendambakan memiliki pasangan yang rupawan untuk dipamerin kepada orang lain. Sebaliknya saat sudah memiliki pasangan yang rupawan, mendambakan pasangan yang biasa-biasa saja karena tidak mampu menahan gejolak rasa cemburu, ingin bertindak posesif tapi takut ditinggalkan pasangannya.

Punya anak satu menginginkan anak yang banyak agar suasana rumah selalu ramai. Sebaliknya saat memiliki banyak anak, malah menginginkan cukup satu anak saja karena tidak sanggup menutupi kebutuhan hidup keluarga.

Sobatku yang budiman…

Banyak orang tidak mau hidup sesuai dengan apa yang sedang dijalani saat ini. Mereka tidak pernah merasa nyaman dan bahagia, karena selalu memikirkan apa yang belum ada. Menganggap segala sesuatu itu indah saat belum dijalani. Namun saat sudah dijalani, malah merasa tidak indah lagi. 

Kita tidak akan mungkin mendapatkan kebahagiaan seutuhnya jika selalu memikirkan dan membayangkan apa yang belum terjadi dan mendambakan sesuatu yang berbeda (berlawanan) dengan apa yang dimiliki sekarang. 

Kita sering lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah menjadi milik kita, apa yang sedang kita alami dan sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan. Begitu mudah membalikkan pikiran dan membayangkan sesuatu yang baru dari yang sedang dialami saat ini. 

Bukalah kelopak mata saat menjalani kehidupan ini. Selembar kertas akan mampu menutupi dunia ini jika diletakkan tepat di depan mata kita. Yang terlihat hanyalah warna hitam dan gelap gulita. 

Demikian juga saat hati ditutupi oleh pikiran ketidakpuasan, maka kita tidak akan pernah merasa puas di dalam segala bidang dan selalu merasa kekurangan, padahal di mata orang lain, hidup kita terlihat begitu sempurna. Isteri secantik artis akan dianggap biasa saja.

Jangan menutup mata kita walaupun hanya dengan sehelai kertas. Jangan menutup hati kita walaupun hanya dengan secuil pikiran negatif.

Bersyukurlah dengan apa yang telah dimiliki, apa yang sedang terjadi dan sesuatu yang sedang menghampiri hidup kita. Sebab hidup ini merupakan berkah anugerah bagi mereka yang berpikiran optimis, berkepribadian bijaksana, berhati welas asih dan terutama bagi jiwa-jiwa yang ikhlas. 

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #jiwayangikhlas Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“AGAMA DAN MEDIA PROVOKATIF”

<Senin, 19 Juni 2017 OOR 07:17>

Abaikan saja media provokatif serta link-link hoax, fitnah dan mengganggu kebhinnekaan, dengan menggunakan jargon agama. Sebab mereka hanya pintar membuat perpecahan dan berusaha memancing emosi para pengikutnya yang sebagian tidak mengerti apa-apa. Para pengikutnya ikut berpartisipasi mengompori dan memperkeruh suasana hanya karena unsur kekinian belaka. 

Media dan link provokatif berlabel agama ini hanya ingin mengadu domba, menciptakan kerusuhan dan pasti akan menjala ikan di saat air sedang keruh. Ada motif politik dan yang paling utama tentunya karena motif ekonomi. Ada yang benar-benar merasa terganggu oleh ulah orang lain, namun sebagian besar karena disuruh oleh boss besar dengan imbalan dana yang tidak sedikit.

Masalah ini terjadi di semua agama yang ada di muka bumi. Antara agama mayoritas dan agama minoritas. Agama resmi atau agama sempalan. Semuanya akan beradu kuat untuk menjadi pemimpin politik. Setelah menjadi pemimpin, mereka dengan mudahnya mencuci tangan dan mulai berpikir untuk memanfaatkan jabatannya sebagai sumber penghasilan tidak terbatas. Melupakan janji-janji manis yang dilontarkan.

Mari langkahi dan jauhi media tersebut. Mereka termasuk kelompok yang mengharapkan keuntungan dari situasi chaos. Jika tidak dibayar saat ini, mungkin akan dibayar kemudian saat boss besarnya menjadi pejabat utama di suatu negeri.

Sobatku yang budiman…

Sesungguhnya agama itu diturunkan Tuhan untuk menuntun umatnya ke jalan kebenaran. Agama diciptakan bukan untuk mengkotak-kotakkan, menciptakan permusuhan atau peperangan dan menghasut umatnya untuk memusuhi umat yang lain. 

Agamamu adalah agamamu. Agamaku adalah agamaku. Kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan di alam duniawi kepada Tuhan melalui agama yang kita yakini.

Sekali lagi, abaikanlah media atau website dan link provokatif berlabel agama karena mereka dibuat untuk memecah belah dan membuat kekacauan. 

Agama itu hadir untuk menyejukkan dan mendamaikan, bukan hadir untuk menciptakan keributan dan permusuhan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #agama #mediaprovokatif Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Agama, Renungan Harian | Leave a comment

“MEMBIASAKAN YANG BENAR”

<Minggu, 18 Juni 2017 OOR 08:50>

Seorang anak sedang berdebat dengan ibunya.

Ibu : “Jangan menonton film atau main game sebelum kamu belajar. Pikiran kamu tidak akan konsen ke pelajaran. Hanya mikirin film yang baru kamu tonton atau game yang baru kamu mainkan…”

Sang anak menyanggah : “Selama ini saya tidak pernah ketinggalan pelajaran. Selalu naik kelas dengan nilai yang tidak jelek…”

Ibu : “Itulah masalahnya. Ibu tahu kamu itu anak yang pintar, namun seluruh pikiran kamu tidak tercurah sepenuhnya ke pelajaran. Alhasil kamu tidak pernah masuk sepuluh besar. Jauh dari rangking satu…”

Anak : “Saya sudah terbiasa seperti ini. Tolong jangan mengubah kebiasaanku…”

Ibu : “Kamu selalu membenarkan kebiasaan yang tidak benar. Selalu menolak untuk membiasakan diri melakukan sesuatu yang benar. Kamu tidak akan pernah sukses jika selalu berpikiran demikian. Tidak senang jika ditegur dan menganggap dirimu selalu benar…”

Sementara itu terjadi percakapan antara suami isteri saat hendak pergi ke pesta.

Suami : “Isteriku, udah siap belum? Jangan lupa lo, kita harus menjemput Pak Andre. Semalam dia sudah confirm…”

Isteri : “Sabar sebentar yah… Saya sudah mau siap, tinggal mengoleskan lipstik saja…”

Suami : “Iya, agak cepatan… Kita sudah telat lima belas menit. Kasian Pak Andre menunggu terlalu lama…”

Isteri : “Biarin aja mas… Kan sudah biasa kalo teman-teman yang menunggu kita. Yang tidak biasa itu kalo kita yang menunggu mereka…”

Suami : “Pikiran kamu itu salah, sayangku. Justru karena sering terlambat, makanya orang menjuluki kita sebagai jam karet. Istilahnya orang yang tidak tepat waktu, alias tidak disiplin. Bukankah lebih enak jika kita dianggap sebagai orang yang punya komitmen dengan waktu? Lebih baik menunggu daripada ditunggu…”

Isteri : “Loh kok sekarang mas ingin mengubah kebiasaan kita?”

Suami : “Jika ada kebiasaan yang tidak benar, haruslah kita koreksi. Jangan membenarkan kebiasaan yang salah…”

Sobatku yang budiman…

Dua peristiwa di atas sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang memiliki perilaku yang tidak benar, namun berulang-ulang dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Lantas menjustifikasi kebiasaan yang salah itu menjadi sebuah kebenaran.

Prinsipnya tidak berbeda jauh dengan saat kita menerima sebuah berita hoax atau tidak benar. Jika kita terus menerus disuguhi berita hoax setiap hari dan dari berbagai sumber, maka lama kelamaan berita hoax itu akan dianggap menjadi sebuah kebenaran. Inilah yang sering dilakukan oleh para penyebar berita hoax. Selalu mengupload berita hoax secara simultan dan kontinu, dengan tujuan dapat memaksa pikiran pembacanya mempercayai berita hoax yang dibuatnya.

Saat kita dihadapkan dengan seseorang yang mengkoreksi kekhilafan kita, silakan cermati dan renungi manfaat dan kebenarannya. Jangan memposisikab diri sebagai manusia berkepala batu, keras kepala dan tidak boleh ditegur.

Jika kita tetap bersikeras dengan kebiasaan yang tidak benar, maka suatu saat kita akan sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut. Yang rugi bukan orang lain, melainkan kita sendiri.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kebiasaan #tidakbenar Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“PERTOLONGAN PURA-PURA”

<Sabtu, 17 Juni 2017 OOR 08:10>

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu bergaul dan berinteraksi dengan banyak orang. Beragam sifat dan kebiasaan dari mereka akan menghiasi warna kehidupan kita. Ada saatnya kita menolong dan ada waktunya kita yang ditolong. Semuanya akan terjadi silih berganti.

Ada yang benar-benar tulus berteman, jujur berkata dan ikhlas menolong di saat kita sedang kesusahan. Sebagian dari mereka ada yang berperangai halus dan santun, namun tidak sedikit yang “to the point”, blak-blakan dan mungkin saja bagi orang lain, dia kasar dan jahat. Padahal sebenarnya hatinya baik. Hanya mulut dan kelakuannya yang ceplas-ceplos serta tidak memiliki filter yang baik. Istilahnya, kasar namun tulus dan baik hati.

Sebaliknya ada yang berteman karena melihat situasi, jika menguntungkan maka dia akan menjalin hubungan dengan kita. Mereka lebih mengedepankan masalah untung dan rugi, banyak berkira dan mau menang sendiri. Mereka sering menutupi niat jahatnya dengan berpura-pura baik, berpura-pura perhatian dan caper (cari perhatian). Tujuan utamanya agar mendapatkan hati orang yang dicaperinnya. Berharap mendapatkan keuntungan darinya. Bagikan musang berbulu domba.

Sobatku yang budiman…

Setiap pertolongan yang diterima, sewajarnya kita apresiasi dan hargai sebagai bentuk terima kasih. Yang harus diperhatikan, simak apa selanjutnya yang diinginkan mereka, baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam. 

Bagi yang tulus menolong, mereka pasti tidak memiliki maksud terselubung. “Kalo mau tolong… ya tolong aja, gak pake embel-embel”. Walaupun ada yang sedikit kasar dan menyakiti hati, namun sebenarnya mereka sedang menyadarkan kita agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, mencubit agar melupakan masa lalu yang kelam serta memukul bokong agar mau bangkit dan berjalan ke depan.

Namun bagi yang mempunyai maksud tertentu, dia akan terus mendekati kita, mulai menyusun agenda untuk memuluskan aksinya dan bahkan lebih parahnya akan mulai memaksakan kehendaknya. Saat kita menolak, mereka akan mengeluarkan jurus “balas jasa”. Kita akan merasa terpojok oleh ulahnya. Jika mengikuti kehendaknya, maka kita akan menjadi sapi perahannya. Jika kita menolak keinginannya, maka kita akan dianggap manusia yang tidak tahu berterima kasih. Sungguh serba salah.

Berhati-hatilalah dalam berteman, terutama dalam menerima pertolongan orang lain…!!

Belum tentu orang yang menolong kita adalah kawan. Sebab banyak orang jahat menutupi sifat buruknya dengan memberikan pertolongan pura-pura.

Belum tentu orang yang menyakiti kita adalah lawan. Sebab banyak orang baik akan memberikan cubitan untuk menyadarkan seseorang dari kekhilafan dan kekeliruan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #pertolongan #purapura Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Renungan Harian | Leave a comment